Kaji Ulang IPAL RSIA Belleza

Haluanlampung.com, BANDARLAMPUNG- Sikap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandarlampung yang terkesan ‘Main Mata’ atas dugaan pencemaran limbah Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Belleza terhadap sumur musala warga, mendapat respon tegas dari sejumlah lembaga masyakarat di Bandarlampung, untuk mendorong pihak terkait agar mengkaji ulang ijin Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) RSIA Belleza. Selain itu, meminta Plt Walikota Bandarlampung M Yusuf Kohar melakukan evaluasi kinerja DLH yang diduga tidak profesional dalam menangani IPAL RSIA tersebut.
“Seharusnya DLH bisa lebih transparan terhadap publik terkait kondisi IPAL RSIA Belleza, jika sudah ada hasil uji lab kenapa tidak disampaikan saja kepada publik dan itu tidak perlu ijin provinsi. Ini salah satu tugas Plt walikota juga untuk melakukan evaluasi kinerja terhadap DLH untuk menghindari terjadinya praktek KKN dalam penanganan IPAL khususnya RSIA Belleza,” tegas Direktur Eksekutif Sentral Investigasi Korupsi Akuntabilitas dan HAM (SIKK-HAM) Lampung H. Marta, DN, saat dimintai konfirmasi via telepon, Senin (12/3)
Marta menegaskan, dengan sikap DLH yang tidak transparan ini tentunya dapat memicu dugaan yang tidak baik terhadap DLH itu sendiri. “Jika benar IPAL RSIA Belleza sudah sesuai standarisasi kenapa saat sidak DLH justru ngotot jika IPAL RSIA itu tidak sesuai ketentuan. Ini harus diluruskan,” tegasnya.
Untuk itu, Marta juga menyarankan terhadap warga sekitar yang merasa sumurnya tercemar limbah RSIA Belleza untuk membuat laporan tertulis ke DLH Bandarlampung atau ke provinsi, jika masih tidak mendapatkan respon warga bisa menepuh jalur hukum.
“Warga yang merasa dirugikan untuk segera melaporkan secara tertulis ke DLH jika tidak ada tindakan bisa langsung menempiuh jalur hukum,” ungkap Marta.
Sementara, Kabid Lingkungan Hidup, DLH Bandarlampung, Cik Ali menegaskan jika pihaknya sudah bertindak berdasarkan prosedur, artinya setelah dipelajari sumur musala tersebut tidak tercemar RSIA melainkan terkena rembesan air comberan.
“IPALnya bukan tidak memenuhi standarisasi tapi tidak berfungsi maksimal. Sudah kami lakukan pembinaan dengan meminta perbaikan draenase sekitar RSIA,” tegas Cik Ali, Senin (12/3).
Cik Ali juga memastikan jika persoalan sumur musala warga itu sudah ada pembicaraan antara pihak warga dengan RSIA. Dan telah disepakati jika pihak RSIA bersedia memenuhi permintaan warga untuk dibuatkan sumur bor.
“Pihak RSIA siap membuatkan sumru bor melalui dana CSR,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, ada apa dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandarlampung, setelah sebelumnya sempat bersitegang dengan pihak Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Belleza, yang menyatakan sistem pengelolaan IPAL RSIA Belleza tidak maksimal. Namun belakangan ini pernyataan DLH berubah seratus persen, dengan tegas menyatakan IPAL RSIA Belleza sudah sesuai dengan standarisasi. Diduga ada ‘Main Mata’ antara DLH dengan RSIA Belleza?
Anehnya lagi, ketika Komisi III DPRD Kota Bandarlampung meminta hasil uji lab air sumur warga yang diduga tercemar limbah RSIA Belleza, pihak DLH berdalih harus meminta ijin DLH Provinsi Lampung.
“Kami minta DLH dapat memaparkan surat hasil uji lab air sumur warga yang diduga terkontaminasi limbah RSIA Belleza,” ungkap Ketua Komisi III DPRD Bandarlampung, Wahyu Lesmono, Minggu (11/3).
Menurut Wahyu, hasil uji lab tersebut tidak bersifat rahasia, jadi tidak alasan DLH untuk tidak menunjukan hasil uji lab pencemaran sumur musalla warga tersebut.
“Namanya surat hasil lab itu tidak bersifat rahasia, itu diperbolehkan dipublikasikan agar tidak menimbulkan kecurigaan publik,” tegas Wahyu.
Sementara, terkait hal ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bandarlampung, Siddik Ayogo tidak merespon saat dimintai konfirmasi terkait permasalahan ini. (Kahfi/JJ).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *