Anggaran Pemilihan Muli Menkhanai Pringsewu Diduga Mark Up

Haluanlampung.com, BANDARLAMPUNG– Dugaan adanya penyimpangan terhadap pengelolaan anggaran ajang Pemilihan Muli Mengkhanai dan Putri Otonomi Kemilau Kabupaten Pringsewu 2018, mendapat tanggapan miring dari sejumlah lembaga penggiat anti korupsi di Lampung.
Betapa tidak, indikasi adanya mark up pengelolaan anggaran tersebut terlihat dari tidak sinkronnya jumlah anggaran antara Dispora Pringsewu dengan data yang ada. Yang mana menurut Dispora anggaran ajang tahunan tersebut sebesar Rp150 juta.
Sementara berdasarkan rekapitulasi belanja langsung pada program dan kegiatan tahun anggaran 2018 di Dinas Pemuda Olahraga Dan Parawisata Kabupaten Pringsewu, tertera beberapa item kegiatan untuk pemilihan Muli Mekhanai dan Putri Otonomi Kilau Pringsewu sebesar Rp.279.375.000,- yang terinci dipergunakan untuk sewa tenda, kursi, sound sistem, baju adat lampung, lighting, Panggung, dekorasi, sewa tari kostum pembuka, sewa alat musik tradisional, dengan berjumlah lebih kurang 20 item.
Sentral Investigasi Korupsi Akuntabilitas dan HAM (SIKK-HAM) Lampung, mendorong agar pengelolaan anggaran pemilihan Muli Menkhanai dan Putri Otonomi Kilau Pringsewu, untuk segera diaudit. Terlebih ada indikasi yang mengarah pada dugaan mark up anggaran.
“Ini agak aneh, Dispora melalui PPTK kegiatan pemilihan Muli Menkhanai dan Putri Otonomi Kilau Pringsewu menyebutkan jika anggaran hanya Rp150 juta, sementara anggaran tersebut jelas pada rekapitulasi belanja langsung pada program dan kegiatan tahun anggaran 2018 di Dinas Pemuda Olahraga Dan Parawisata sebesar Rp279.375.000,” tegas Direktur Eksekutif SIKK-HAM Lampung, H Marta, DN, saat dihubungi via telepon, Senin (26/3).
Menurut Marta, perlu dilakukan audit investigasi terhadap pengelolaan anggaran kegiatan tersebut, agar jelas peruntukan anggaran dan pengelolaan sudah sesuai atau tidak. “Ini perlu dilakukan audit investigasi agar dugaan mark up bvisa terjawab. Terhadap penegak hukum juga harus segera melakukan langkah hukum sebelum terjadi kerugian negara,” ungkap Marta.
Sementara, Ketua Komisi IV DPRD Pringsewu Riski Bahagia Saputra, terkesan enggan memberikan tanggapan soal dugaan mark up anggaran tersebut. Bahkan Riski mengaku takut dituntut jika pemberitaan tersebur hanya asumsi.
“Maaf bang kalau begitu saya gak berani komen, kalau cuma asumsi …nanti saya dituntut orang,” elak Riski, saat dikonfirmasi via WhasApp, Senin (26/3).
Diberitakan sebelumnya, selain dinilai kurang memiliki persiapan, anggaran pemilihan grand Final Muli Menkhanai dan Putri Otonomi Kemilau Kabupaten Pringsewu, diduga dijadikan ajang bancakan para oknum di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) untuk meraup keuntungan pribadi. Betapa tidak, fasilitas yang dipersipakan panitia tidak sebanding dengan anggaran yang ada sebesar Rp279.375.000,-
Pantauan Haluan Lampung, fasilitas seperti tenda, kursi serta aksesoris panggung sangat tidak memenuhi harapan sesuai dengan ajang yang dihelat. Terlebih, banyak tamu undangan yang kebagian tempat duduk. Kondisi ini berbanding terbalik saat ajang yang sama digelar pada tahun sebelumnya, yang mana ajang pada tahun 2017 lalu digelar sangat meriah. Ada kesan jika kegiatan ini digelar sebagai formalitas untuk penyerapan anggaran dan tidak sesuai dengan anggaran yang ada.
Salah seorang tamu undangan MI dan BS yang meminta namanya disamarkan mengatakan, penjaringan Muli Mekhanai tahun 2018 kurang maksimal, karena menurutnya di tahun sebelumnya 2017 acara tahun ini cukup megah dan meriah dan tamu undangan diberikan tempat yang sudah disediakan panitia.
“Untuk tahun 2018 ini banyak tamu yang terlihat berdiri karena kekurangan tempat duduk dan tenda yang kurang memadai, ya hasilnya bisa dilihat sendiri mas,” ujarnya, saat ditemui di lokasi, Minggu (25/3).
Terkait hal itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Muli Mekhanai, Rapina Pita Uli mengatakan, untuk kegiatan ajang Muli Mekhanai sudah melalui tahapan seleksi yang ketat,
Mulai dari penjaringan di tingkat sekolah menengah atas sampai seleksi yang diadakan di Dispora dan Parawisata dan menyisihkan para peserta yang masuk ke Gran final.
“Peserta yang masuk grand final ini sudah menjadi bagian dari promosi wisata Kabupaten Pringsewu, dan perserta yang mendapatkan juara satu tersebut mendapat uang pembinaan sebesar dua juta lima ratus, juara dua (2 juta) dan juara 3, satu juta lima ratus, serta juara harapan 500 ribu, untuk mensosialisasikan Muli Mekhanai kami berkerjasama dengan Radio Sabaputra,” ungkapnya.
Rapina juga menambahkan, untuk anggaran kegiatan Muli Mekhanai tahun 2018 hanya 150 juta.
“Hhal wajar ketika banyak kekurangan. Kalau dikatakan belum siap kami sudah mempersiapkan rangkaiannya. Anggaran yang kami miliki terbatas mas, dan bukan kami yang mempersiapkan perlengkapan itu, tapi kami serahkan ke EO (Event organizer) CV.Persilia,” ujarnya, belum lama ini.
Berdasarkan data yang dihimpun, terkait rekapitulasi belanja langsung berdasarkan program dan kegiatan tahun anggaran 2018 di Dinas Pemuda Olahraga Dan Parawisata Kabupaten Pringsewu, tertera beberapa item kegiatan untuk pemilihan Muli Mekhanai dan Putri Otonomi Kilau Pringsewu sebesar Rp.279.375.000,- yang terinci dipergunakan untuk sewa tenda, kursi, sound sistem, baju adat Lampung, lighting, Panggung, dekorasi, sewa tari kostum pembuka, sewa alat musik tradisional, dengan berjumlah lebih kurang 20 item. (Hermanto/JJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *