Dugaan ‘Pungli’ PPDB SMTI Lampung Secara Masif

BANDARLAMPUNG-Dugaan pungutan liar (Pungli) pada pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) yang dilaksanakan Sekolah Menengah tehnik Industri (SMTI) Lampung, ternyata diduga dilakukan secara masif. Betapa tidak, selain memungut biaya pendaftaran sebesar Rp30 ribu/peserta, pihak SMTI juga menjual buku Tes Bakat Skolastik yang berisi soal ujian seharga Rp10 ribu, saat peserta mendaftarkan diri di SMTI Lampung.
“Buku berisikan soal ujian ini ditawarkan pihak panitia saat mendaftar di SMTI lampung seharga 10 ribu rupiah. Meski berdalih tidak wajib, tapi panitia meyakinkan buku tersebut berisikan soal yang berkaitan dengan tes masuk SMTI, ternyata soal ujiannya jauh dari isi buku tersebut,” ungkap salah satu orang tua peserta PPDB SMTI, saat dikonfrimasi, Kamis (3/5).
Dijelaskan sumber, jika penjualan buku ini juga bersamaan dengan penjualn map polio dnegan harga 4 ribu/ lembar. “bukan Cuma buku, panitia juga mewajibakan kami membeli map polio berwarna merah dan biru yang telah disiapkan panitia seharga 4 ribu,” ungkapnya lagi.
Terkait hal itu, sumber meminta pihak-pihak terkait untuk mengevaluasi kembali hasil PPDB SMTI Lampung yang beraroma kolusi dan pungli. “Pihak terkait harus melakukan evaluasi terkait hasil PPDB SMTI Lampung,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang diselenggarakan Sekolah Menegah Tehnik Industri (SMTI) Lampung tahun 2018, diduga melanggar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Pada Taman Kanak – Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau bentuk lain yang sederajat.
Betapa tidak, pihak panitia penyelenggaran PPDB SMTI Lampung, memungut biaya pendaftaran PPDB sebesar Rp30 ribu/peserta. Terkait hal itu, Disaster Education Center (DEC) Lampung, menilai pungutan pendaftaran bagi calon PPDB SMTI Lampung sebesar Rp30 ribu itu tidak diperbolehkan dan melanggar Permendikbud Nomor 17 tahun 2017.
“Permendikbud 17/2017 melarang sekolah yang diselenggaran pemerintah untuk tidak diperbolehkan memungut biaya PPDB maupun pindahan peserta didik. Sangsinya pun tegas mulai dari teguran sampai dengan pemberhentian tetap,” tegas Kepala Bidang Pendidikan DEC Lampung, Hendri Martadinyata, saat dimintai tanggapanya perihal dugaan pungutan biaya PPDB di SMTI Lampung, Rabu (2/5).
Hendri juga menegaskan jika pungutan itu masuk dalam katagori pungutan liar yang bisa merugikan peserta didik. “Itu masuk dalam katagori pungutan liar (Pungli),” ungkapnya.
Hendri juga menegaskan jika proses PPDB ini sudah diatur dalam Permendikbud, baik larangan pungutan sampai dengan sangsi. “Soal PPDB sudah jelas diatur dalam Permendikbud 17 tahun 2017,” tandasnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala SMTI Lampung Dra Sulastri mengakui jika panitia PPDB memungut biaya pendaftaran sebesar Rp30 ribu/peserta, dengan dalih sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP). “Soal 30 ribu itu merupakan kewajiban kami (SMTI) kepada kementerian sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan itu masuk ke kas negara. Dan kami siap diaudit bahkan oleh BPK,” ungkap Dra Sulastri, saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (2/5).
Terkait adanya salah satu peserta PPDB atas nama Ivo Aldio Alkana harus digugurkan pihak panitia tanpa memberikan toleransi, Sulastri dengan tegas membantah hal itu. Pihaknya merasa tidak pernah ditemui pihak peserta didik, dan komplin terkait Ivo tidak membawa nomor peserta tidak sampai kepada panitia.
“Kalo tidak bawa nomor peserta otomatis tidak boleh masuk pak, harusnya dia berupaya untuk menemui panitia. Kami juga punya hati lah pak,” kata Sulastri.
Diberitakan sebelumnya, dunia pendidikan di Lampung kembali tercoreng. Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang diselenggarakan Sekolah Menegah Tehnik Industri (SMTI) Lampung menyisakan keluhan sejumlah peserta didik. Betapa tidak, hanya karena nomor tes tertinggal, peserta tes atas nama Ivo Aldio Alkana harus digugurkan pihak panitia tanpa memberikan toleransi. Bukan hanya itu, SMTI juga diduga memungut biaya pendaftaran PPDB sebesar Rp30 ribu/peserta tes.
Andrianto Hismawan orang tua dari Ivo Aldio Alkana mengaku sangat kecewa atas perlakukan panitia PPDB SMTI. Menurutnya, kesalahan anaknya yanglupa membawa nomor peserta tes bukankah suatu kesalahan yang sifatnya prinsif tapi hanya kesalahan adminsitrasi yang sangat mungkin bisa ditolerir.
“Hanya karena nomor tes tertinggal pihak panitia menggugurkan anak saya tanpa memberikan penjelasan yang bijak, harusnya panitia memberikan ruang untuk memberikan toleransi, sebab meski nomor tertinggal tapi data anak saya sebagai PPDB kan terdaftar, itu kan bisa memastikan jika anak saya terdaftar sebagai peserta PPDB,” jelas Andrianto, saat dikonfirmasi via telepon, Selasa (1/5).
Andrianto juga menyesalkan panitia PPDB SMTI Lampung yang terkesan tidak memberikan ruang kepada dirinya untuk mengkonfirmasi kepada para guru atau panitia pendaftaran SMTI untuk meminta solusi atas persoalan itu.
“Seharusnya masalah itu bisa ada jalan keluar, jika panitia memberikan kesempatan anak saya untuk ikut tes, sebab saat itu proses tes belum berjalan. Kalau anak saya diberi kesempatan tes, saya pastikan sebelum tes selesai saya bisa tunjukan nomor peserta tes anak saya, meski saya harus kembali lagi ke Lampung Tengah,” jelas Andrianto.
Terkait hal itu, Andrianto berharap masalah ini harus menjadi perhatian instansi terkait, agar hal semacam ini tidak terjad i lagi dikemudian hari.
“ Saya berharap panitia PPDB SMTI dievaluasi kembali dan berharap masalah ini bisa disampaikan kepada Kapusdiklat Pusat, yang menaungi SMTI,” tegasnya. (Tim/JJ).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *