oleh

Warga Pasar Griya Sukarame Bertahan di Musola

Haluanlampung.com, BANDARLAMPUNG – Proses penggusuran pemukiman Pasar Griya Sukarame, Bandarlampung memasuki hari ke tiga, Selasa (24/7) terus berlanjut. Meski mendapat perlawanan dari warga, namun penggusuran seratus persen berhasil dilakukan Pemkot Bandarlampung. Meski demikian, 24 kepala keluarga masih bertahan di mushola yang semula akan digusur.

Proses penggusuran pemukiman Pasar Griya Sukarame, Bandarlampung memasuki hari ke tiga, Selasa (24/7) terus berlanjut. Meski mendapat perlawanan dari warga, namun penggusuran seratus persen berhasil dilakukan Pemkot Bandarlampung. (Poto: Ria)

Pantauan di lokasi, Pemkot mengerahkan dua alat berat untuk melakukan penggusuran pemukiman, yang ditarget Selasa (24/7) seluruh bengunan rata tanah. Perlawanan warga tidak berarti dibandingkan kekuatan Pemkot, termasuk pengerahan Sat Pol PP.
Sempat terjadi perlawan sengit dari warga, lantaran Pemkot ngotot akan menggusur satu-satunya tempat ibadah (Musola) di pemukiman pemulung tersebut. Setelah dilakukan mediasi yang cukup alot, akhirnya Pemkot memastikan tidak melakukan penggusuran terhadap musola tersebut.
Anggota DPD/MPR RI Perwakilan Lampung Anang Prihantoro, melalui Staf Ahlinya Abdullah Sani, berkesempatan melakukan dialog dengan komandan Sat Pol PP Bandarlampung Mansi, untuk tidak menggusur musola yang saat ini menjadi tempat berlindung warga. Sempat alot, namun akhirnya Walikota Bandarlampung Herman HN, memastikan pihaknya tidak menggusur musola.
“Ya tadi kami melalui Ketua DPRD Kota Bandarlampung Wiyadi, Pak Herman HN memastikan pihaknya tidak melakukan penggususran musola,” kata Abdullah Sani, didampingi Tim Advokasi LBH Bandarlampung, Selasa (24/7).
Menurut Sani, upaya dialog lebih menusiawi dalam melakukan langkah-langkah relokasi seperti yang terjadi di Pasar Griya Sukarame.
Sebab, kata Sani, cara operasional yang dilakukan aparat Pol PP dalam rangka penertiban lahan ini sudah berhasil, tapi hal jangan sampai menimbulkan korban.
“Sebab di musola itu banyak anak-anak, maka penertiban ini harus dilakukan secara manusiawi dan bermartabat,” tegasnya.

Untuk meminimalisir terjadinya gejolak, ungkap Sani pihaknya juga akan membuka ruang komunikasi pada pihak terkait.

“Nanti kita coba melakukan dialog dengan pihak-pihak terkait termasuk dengan perwakilan warga,” kata Sani.

Direktur LBH Bandarlampung Alin Setiadi menegaskan, pihaknya akan tetap bertahan di lokasi penggusuran sampai ada kejelasan dan pertangungjawaban dari pihak Pemkot atas aksi penggusuran yang dilakukan secara tidak manusiawi.
“Kami bersama warga akan bertahan di lokasi sampai ada pertanggungjawaban Pemkot atas penggusuran ini,” tegasnya.
Terkait keberadaan warga, Alian memastikan untuk bertahan, warga akan menggunakan satu- satunya bangunan yang belum digusur (Musola-red) sebagai tempat tinggal sementara.
“Ya warga masih bertahan di musola. Kalau sampai musola ini ikut digusur lebih saya mati di sini,” tegasnya. (Ria/JJ).

Tulis Komentar
Baca Juga :  Sekdaprov Ajak Mahasiswa Baru Persiapkan Diri Hadapi Era Revolusi 4.0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed