oleh

Dinkes Tuba Cuek, LBH-TAP Siap Dampingi Lukas

TULANGBAWANG-Belum adanya itikat baik dari Dinas Kesehatan (Denkes) Tulangbawang (Tuba) terkait korban yang diduga akibat Vaksin Rubella (MR) Muhammad Lukas Rafael (5), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum-Transparansi Akuntabilitas Publik (YLBH-TAP) Lampung, akan mendampingi korban untuk melakukan langkah-langkah hukum.
Direktur YLBH-TAP, Handri Martadinyata, SH mengatakan, pihaknya akan segera melakukan investigasi terkait kasus yang menimpa Lukas. “Ya dalam waktu dekat kami akan mengunjungi korban untuk melakukan investigasi dan akan memberikan bantuan pendampingan hukum, jika pihak Dinkes tidak responsive,” ungkap Handri, saat ditemui di ruang kerjanya, Minggu (9/9)>
Menurut Handri, tim YLBH-TAP sudah melakukan pengumpulan data,baik kronologis kejadian hingga bukti medis dari rumah sakit. “Kami sudah pelajari bukti medis dan kronolis kejadian. Secepatnya akan didampingi korban untuk mendap keadilan,” tegas Handri.
Diberitakan sebelumnya, keluarga Muhamad Lukas Rafael (5) balita yang diduga korban Vaksin Measles Rubella (MR) warga Desa Gedung Karya, Kecamatan Rawajitu Selatan, Tulangbawang, mengancam akan memolisikan pihak Dinas Kesehatan Tuba, jika tidak bersedia bertanggungjawab atas vaksin yang diduga menyebabkan Lukas masih rumah sakit.
Kakek Lukas, Lukmansyah, secara tegas akan meminta pertanggungjawaban Dinas Kesehatan selaku dinas penyelenggara vaksin MR di sekolah TK Karya Utama Mandiri, Rawajitu Selatan.
“Kami masih memberi waktu satu minggu ini untuk menunggu itikat baik Dinas Kesehatan. Jika tidak apa boleh buat terpaksa masalah ini akan kami bawa ke ranah hukum,” tegas Lukmansyah, saat dihubungi via telepon, Kamis (6/9).
Dijelaskan Lukman, jika keluarganya sudha pernah didatangio pihak dari Dinas Kesehatan Tuba, untuk meminta dokumen dari Rumah Sakit Yukum Jaya, tempat dimana Lukas diopname selama satu minggu.
“Sudah pernah didatangi untuk meminta dokumen rumah sakit. Hingga saat ini belum ada komunikasi lebih lanjut dari dinas,” ungkapnya.

Untuk diketahui, balita Muhamad Lukas Rafael (5) warga Desa Gedung Karya, Kecamatan Rawajitu Selatan, Tulangbawang (Tuba) harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Meski sempat mengalami kejang-kejang, kondisi Lukas saat ini berangsur membaik.
Diceritakan Lukman, cucunya yang sekolah di TK karya Utama Mandiri, mendapatkan suntikan vaksin yang diduga MR, pada tanggal 1 Agustus 2018 lalu. Untuk memastikan vaksin yang disuntikan ke Lukas, Lukman mendatangi sekolah dan menurut pihak sekolah Lukas divaksin rubella.
“Pada tanggal 1 Agustus 2018, cucu saya mendapatkan suntikan vaksin di sekolah. Menurut pihak sekolah vaksin rubella. Setelah sampai di rumah badannya langsung panas dan langsung diberi obat generic paracetamol,” ungkapnya.
Namun, kata Lukman, suhu panas badan Lukas tidak kunjung turun dan bahkan suhu panasnya bertambah tinggi, selama dua hari.
“Meski badanya panas, tapi Lukas besoknya masih sekolah, setelah mengalami panas selama dua hari, Lukas langsung kami bawa ke dokter,” jelasnya.
Beberapa dokter yang didatangi menjelaskan kondisi Lukas yang tidak sama. “Ada yang mengatakan tipes, tapi kami tidak mendapatkan penjelasan yang akurat. Untuk itu langsung kami bawa ke Rumah Sakit Mutiara Bunda,” ujarnya.
Namun, jelasnya lagi, kondisi Lukas malah tidak sadarkan diri hingga mengalami kejang-kejang. “Terpaksa kami larikan ke Rumah Sakit Yukum Jaya,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi Lukas setelah menjalani perobatan hampir selama satu minggu mulai membaik. “Alhamdullilah sudah mulai membaik,” jelasnya.
Terkait kejadian itu, Lukman secara tegas meminta petanggungjawaban pihak sekolah yang telah membiarkan cucunya disuntik vaksin tanpa sebelumnya memberitahu pihak keluarga. Menurutnya, hal ini sudah pernah dibicarakan dengan pihak sekolah dan puskesmas, namun tidak ada kejelasan.
“Sebelumnyan sudah saya temui pihak sekolah namun tidak ada pertanggungjawaban, begitu juga pihak Puskesmas juga tidak bertanggungjawab,” ungkapnya.
Yang sangat disayangkan, kata Lukman, pihak sekolah tidak pernah memberitahu pihak keluarga terkait pelaksanaan vaksin tersebut. Akibat kejadian itu, Lukman mengungkapkan jika pihaknya pihaknya sudah mengeluarkan biaya yang cukup banyak.
“Harusnya pihak sekolah memberi tahu keluarga kalau ada penyuntikan vaksin, ini kan tidak ada pemberitahunan sama sekali. Kami juga sudah mengahabiskan biaya puluhan juta akibat suntikan vaksin ini. Kami akan tetap meminta tanggungjawab pihak sekolah,” tegasnya.
Terkait hal, pihak sekolah maupun pihak Puskesmas dan Dinas Kesehatan Tuba belum berhasil dikonfirmasi. Salah satu dokter di Dinkes Tuba saat ditelepon tidak diangkat, meski ponselnya ddalam keadaan aktif. (Tim/JJ).

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed