oleh

Ancaman Tsunami Rubella Sudah di Depan Mata

PRO kontra vaksninasi Rubella yang berkepanjangan telah menimbulkan kecemasan mewabahnya virus rubella yang berbahaya bagi masa depan kesehatan ana-anak. Kasus yang terjadi di Kalimantan Selatan membuktikan bahwa ancaman sebaran virus rubella dapat dengan mudah meluas, terutama di daerah-daerah yang tidak tegas atau menunda-nunda pelaksanaan vaksinasi.

Kecemasan paling parah terjadi di Provinsi Aceh. Gubernur di sana masih menunda pelaksanaan vakninasi rubella, meski desakan untuk mencabut keputusan itu makin keras disuarakan ibu-ibu rumah tangga.

Seorang dokter anak di Aceh memperingatkan bahwa daerah istimewa itu terancam ‘tsunami Rubella,’ gegara plt Gubernur Aceh menunda imunisasi karena adanya enzim babi, kendati Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPU) membolehkan.

Baca Juga :  Pilwabub Mesuji : PKS Diprediksi 'From Zero To Hero'

Campak Rubella sangat berbahaya, kata seroang dokter spesialis anak di Aceh, Aslinar, karenanya pemberian vaksin tak bisa ditunda-tunda.

Situasi itu menggerakkan sejumlah ibu untuk bersuara, menyerukan plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, untuk mencabut ketetapan penundaan vaksin MR.

“Semoga Bapak Plt Gubernur segera mengeluarkan pernyataan anak-anak boleh divaksin, karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) saja sudah membolehkan, agar apa yang sudah saya alami tidak dialami oleh ibu-ibu lain yang sedang hamil,” tegas Husna seorang ibu yang anaknya terkena Campak Rubella.

Husna adalah satu dari sejumlah ibu yang resah, yang kemudian membentuk dari Komunitas Rumah Rubella Aceh, untuk mengkampanyekan bahaya dari dampak penyakit tersebut, dan betapa pentingnya vaksin terhadap anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.

Baca Juga :  "Masuk Masa Tenang" Paslon Diminta Tertibkan APK

“Saya terkena MR pada usia kehamilan tiga bulan, sekarang anak saya sudah dua tahun, tapi (karena terjangkit MR) untuk berjalan saja dia tidak bisa,” kata Husna,

Ia menegaskan, sudah cukup anaknya yang terkena sindrom Rubella dan sesegeran mungkin mata rantai penularan virus campak Rubella harus diputuskan. Ia menyerukan bagi ibu-ibu yang lain agar segera membawa anaknya untuk divaksin.

Sementara itu, health officerbadan kesejahteraan anak-anak PBB, Unicef Indonesia, Dita Ramadonna, mengatakan penundaan penyuntikan vaksin MR sampai saat ini, mengakibatkan 84% populasi anak di Aceh beresiko terkena campak rubella.

“Dari semua provinsi, Aceh merupakan daerah dengan penggunaan vaksin terendah. Mungkin ketakutan warga karena mengandung enzim babi, padahal sudah ada fatwa MUI,” kata Dita Ramadonna. (bbc/iwa)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed