oleh

Kepseknya Perempuan, ‘Akrab’ dengan Borgol

HERANNYA, hasil temuan KPAI ini masih berusaha dibantah kepala sekolah.

“Sel itu tidak ada… tidak ada penyekapan,” kata Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan SPN Dirgantara, Susila Dewi. Rupanya kepala sekolahnya perempuan, tentu ini cukup mencengangkan.

Sang Ibu Kepsek berkilah ruangan itu merupakan “ruang konseling” untuk “membina” siswa yang tidak disiplin dan melanggar peraturan.

“Kalau ada yang kedapatan merokok, itu kita bina selama tiga hari. Tapi proses belajar mengajar tetap (dilakukan),” ungkapnya. Para siswa itu juga diberi makan dan minum.

Ia juga membantah adanya hukuman fisik. “Tidak diapa-apakan. Hanya disuruh duduk untuk merenungkan apa yang sudah dikerjakannya.”

Menurutnya, sekolahnya memang menerapkan nilai-nilai kedisiplinan. “Apalagi kita sekolah penerbangan, tidak boleh ada salah. Kalau salah nanti bagaimana kalau ada di atas pesawat.”

Baca Juga :  E-voting VS Perppu Sanksi Protokoler Kesehatan Covid-19

Menanggapi kasus RS yang diborgol, Dewi membenarkan bahwa RS diborgol selama perjalanan dari bandara ke sekolah. “Karena anak ini sering lari, maka diborgol saja,” katanya.

‘Maka diborgol saja’, pernyataan ini menjadi bukti bahwa sekolah ini menyediakan borgol dan melegalkan penggunaannya terhadap siswa. Keberadaan ED yang diduga seorang polisi pun menjadi tanda tanya. Ngapain ED di sana. apakah sekolah sengaja merekrut polisi yang membawa borgol ke lingkungan sekolah?

Kasus yang dialami RS telah ditangani kepolisian setempat, tetapi menurut Kasubdit IV Polda Kepulauan Riau, AKBP Suryanto, sejauh ini pihaknya tidak menemukan sel tahanan dan bukti-bukti kekerasan atas siswa tersebut.

“Tidak ditemukan hal-hal yang aneh-aneh,” kata AKBP Suryanto.

Baca Juga :  Pilwabub Mesuji : PKS Diprediksi 'From Zero To Hero'

Soal tindakan ED yang memborgol RS, Suryanto mengatakan tindakan itu belum bisa langsung dikategorikan tindakan pidana. “Lihat dulu masalahnya, lihat dulu latar belakangnya dulu,” ujar Suryanto.

Terserah pak polisi saja, yang jelas sepertinya kasus ini tak akan terhenti dengan temuan kepolisian yang berseberangan dengan temua KPAI yang mendorong keluarga RS segera membuat laporan resmi dan menyerahkan hasil visum sebagai bukti adanya tindak kekerasan.

Kepala Sekolah SMK Penerbangan SPN Dirgantara, Susila Dewi, mengakui pihaknya sudah melakukan mediasi dengan keluarga korban. “Kita sudah mediasi,” katanya.

“Pihak sekolah menganggap mediasi itu dilakukan, (kasus) ini selesai. Dan keluarga yang terus menerus diintimidasi, ya mau-tidak-mau, ikut mediasi tersebut,” ungkap komisioner KPAI, Putu Elfina.

Baca Juga :  Anggota KPU Sebut Pilkada Berisiko Jika Dilanjutkan

Saat mediasi, lanjutnya, perwakilan Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kepulauan Riau memilih walkout, karena proses mediasi itu dianggap melanggar aturan.

“Walaupun itu kewenangan kedua belah pihak, secara hukum proses ini harus tetap berjalan,” kata Putu.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pun tak akan tinggal diam. Ia berjanji akan menindalanjutinya.

“Saya minta didalami oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah,” ujar Muhadjir.(iwa)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed