oleh

N Waspada, Garam Ilegal Beredar Polda Tangkap Pengedar Garam Ilegal

BANDARLAMPUNG- Kepolisian Daerah Lampung melalui Direktorat Kriminal Khusus mengungkap peredaran garam tanpa izin edar di Kota Bandarlampung dan menangkap Hariyanto, warga Waylaga, Kecamatan Sukabumi, Bandarlampung beserta barang bukti 50 ton garam bermerek UD Tiga Permata.

Wakil Kepala Polda Lampung Brigjen Angesta Romano Yoyol saat ekspose kasus tersebut, di Mapolda Lampung, Kamis (13/9) mengatakan, kasus ini merupakan kejahatan pangan sangat berbahaya karena garam diedarkan tanpa izin dari Balai Besar POM, dan sudah beredar di pasar-pasar tradisional daerah ini.

“Garam ini sudah diedarkan di pasar tradisional. Diamankan karena tidak ada izin edar dari Balai POM, ini sangat merugikan masyarakat karena bisa menyebabkan penyakit gondok dan pertumbuhan menjadi lambat,” ujar Wakapolda.

Baca Juga :  Serapan APBD 2020 Lampung Kecil

Wakapolda menambahkan, dari kemasan garam tersebut, diduga mereka sudah lama beroperasi. “Tapi namanya tersangka, setiap tertangkap dan mengaku baru, tapi saya rasa sudah tahunan mereka menjual garam ilegal ini,” tutunya.

Kasubdit I Indagsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung AKBP Budiman Sulaksono menuturkan, agar masyarakat lebih mengamati kemasan garam yang akan dikonsumsi.

“Kalau secara kasat mata, kita susah membedakannya. Sebaiknya masyarakat memperhatikan tulisan izin yang bertuliskan BPOM,” ucapnya.

Dia menegaskan produk garam tersebut nantinya akan berdampak pada kesehatan, mengakibatkan timbul penyakit gondok dan membuat pertumbuhan menjadi melambat atau sering disebut terjangkit “stunting” katanya.

Atas perbuatan tersebut, tersangka dinyatakan melanggar pasal 142 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan yaitu Pelaku Usaha Pangan yakni dengan sengaja tidak memiliki izin edar terhadap setiap pangan olahan yang dibuat di dalam negeri atau yang diimpor untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran, dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak empat miliar rupiah.

Baca Juga :  Gubernur dan Wagub Ikuti Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila secara Virtual Bersama Presiden

“Sementara pasal tersebut yang kami terapkan,” tegasnya.

Tersangka Hariyanto mengaku, garam tersebut didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah. Peredaran garam tersebut sudah berjalan selama enam tahun.

“Per 1 kilogram dijual Rp3 ribu. Tiap bulan saya pesan 20 ton untuk diedarkan di Kota Bandarlampung,” ujarnya.

Hariyanto mengakui pula, dirinya sudah mengurus izin edar sejak tiga tahun lalu, namun berkas yang diajukannya selalu dianggap belum lengkap.

“Urus izin sudah tiga tahun lalu saya ajukan, namun belum juga keluar,” ujarnya, mengeluhkan. (Ant/JJ).

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed