oleh

Sel Berjeruji Besi di SMK Penerbangan Inovasi Kebablasan dari Pulau Batam

HAL tak lazim berlaku pada sekolah menengah di Batam, Kepulauan Riau. Sebuah SMK Penerbangan di pulau bagian timur Sumatera itu memikili sel tahanan untuk menghukum siswa yang dituduh melanggar aturan sekolah.

Keberadaan sel tahanan itu terungkap setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima laporan dari keluarga siswa yang mengaku mengalami kekerasan di sekolah tersebut.

Sel tahanan dirancang mirip penjara umumnya, dilengkapi pintu besi berjeruji. Lama penahanan tergantung tingkat kesalahan.

Belum ada laporan resmi berapa banyak siswa yang pernah disekap di ruangan itu. Namun komisioner KPAI, Retno Listiyarti mengatakan pernah ada siswa yang ditahan lebih dari satu hari.

Tuduhan pelanggaran tidak semata soal kenakalan. Siswa yang telat bayar uang sekolah bisa kena juga.

Baca Juga :  MELAWAN ARUS: Ramai Desakan Tunda Pilkada, Jokowi Bilang TIDAK

Koordinator Pengawasan Dinas Pendidikan Provinsi (Disdik) Provinsi Kepri Sumbaryanto mengaku sudah menerima laporan tentang hal itu.

“Banyak tunggakan bisa menjadi pasal tuduhan yang mengharuskan anak untuk ditahan,” kata Sumaryanto.

Untuk kasus administrasi (telat bayar), anak baru bisa bebas jika dijemput orang tua. Tentunya bawa uang atau meneken surat perjanjian.

“Ada beberapa anak yang juga sempat berada di sel tersebut atas nama disiplin, dan berbagai tuduhan yang tidak mendasar,” kata Putu Elfina.

Dari temuan KPAI itu, akhirnya muncul banyak pengakuan. Sejumlah orang tua dan siswa mengaku sekolah itu juga kerap menerapkan hukuman fisik terhadap siswa.

Kasus terakhir dialami siswa berinisial RS, yang dituduh melakukan pelanggaran berat sehingga tangannya diborgol dan dipermalukan di media sosial.

Baca Juga :  Tak Punya Kursi, PKS Ikut Nyodorkan Bacalon Wabup Mesuji

RS dijemput pembina sekolah tersebut, ED, dari bandar udara Hang Nadim Batam, dan diborgol, kata KPAI. Dia kemudian difoto dan disebarkan di media sosial.

“Di mobil pun, dia sempat dipukul, ditampar, dan itu direkam oleh sesama siswa yang memang dibawah Pak ED,” ungkap Komisioner KPAI Retno Listiyarti.

Dan, astaga…. menurut KPAI, ED adalah anggota kepolisian dan pemilik modal sekolah tersebut.

Temuan KPAI lainnya menyebutkan, sekolah juga menerapkan latihan semi militer. “Siswa-siswa diajarkan menembak dengan senapa angin,” ungkap Retno Listiyarti. (iwa)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed