oleh

Seks: Antara Batasan dan Dorongan Fantasi

KENDATI sering muncul dalam adegan film-film syur, bercinta di tempat umum bukan aktivitas yang lazim ditemui. Selain faktor nyali, cap tidak bermoral dari masyarakat hingga jeratan hukum membuat aktivitas seks di ruang publik dihindari bahkan sejak dalam pikiran.

Tapi bagi beberapa orang, seks di muka umum rupanya dirasa menantang dan memacu gairah. Survei Statista terhadap perempuan Perancis pada 2013 silam menunjukkan bahwa hampir 40 persen respondennya pernah mewujudkan fantasi bercinta di muka umum. Survei yang sama menunjukkan 12 persen responden lainnya mengatakan tak bersedia kecuali untuk kesenangan pribadi; 12 persen menyatakan tak punya keinginan serupa kecuali untuk menyenangkan pasangan. Sisanya yang 37 persen mengatakan tak pernah dan tak punya keinginan untuk berhubungan seks di tempat umum.

Di sisi lain, ada hukum yang membatasi aktivitas semacam itu. Atas nama kenyamanan, kesopanan dan ketertiban umum, para aparat penegak hukum sigap menciduk dan menjatuhkan sanksi kepada pasangan esek-esek di muka publik. Tak hanya di Indonesia, hal serupa berlaku di banyak negara.

Baca Juga :  Soal Izin Cuti, Yusuf Kohar: Atasan Saya Gubernur, Bukan Herman HN

Suatu hari di musim panas 2017, sepasang muda-mudi usia awal kepala dua kelewat percaya diri bercinta di taman balaikota Cherbourg, Perancis. Waktu itu, catat Marilyn Z. Tomlins yang menuturkan kisah ini di blognya, jam baru menunjuk pukul delapan pagi. Menurut pengarang Die in Paris: The true story of France’s most notorious serial killer (2013) itu, pengunjung balai kota sedang ramai-ramainya.

Sontak adegan hot muda-mudi itu mencuri perhatian pengunjung balaikota. Salah seorang pengunjung bahkan merekam pergumulan hebat pasangan tersebut. Beberapa jam setelahnya, rekaman itu tersebar di jagat media sosial.

Polisi setempat langsung bergerak cepat. Ketika disodori rekaman video, pasangan tersebut malah mengaku tak sadar. Rupanya, mereka dalam pengaruh alkohol. Mereka juga mengaku pertama kali mengetahui kasus itu setelah diberitahu teman-temannya.

Akhirnya mereka pun diancam satu tahun hukuman penjara dan denda masing-masing 15.000 euro. Si pengunggah video juga diancam hukuman jika hakim di persidangan memutuskan tindakannya bersalah. Rupanya di Perancis, yang kerap dibayangkan umat manusia sebagai negeri yang sangat seksual, bercinta di tempat umum adalah perbuatan melanggar hukum.

Baca Juga :  Mendagri Tegur Keras Bupati Agus Istiqlal

@Tak Selamanya soal Seks
Siang bolong Juli 2018, sepasang pria dan wanita tertangkap kamera CCTV tengah berhubungan seks di tempat umum di daerah Orchard Towers, Singapura. Beberapa orang yang mengetahui adegan tersebut sempat ikut merekam dan menyebarluaskannya di dunia maya.

Kepolisian daerah Tanglin lantas memburu dan berhasil mencokok pasangan tersebut. Dilansir dari Yahoo Singapore, keduanya terancam hukuman tiga bulan penjara dan denda berupa uang.

Namun, pasal-pasal kesusilaan kadang menyasar orang yang salah. Berdua-duaan di tempat sepi mudah ditafsirkan mesum. Kasus ini terjadi di banyak tempat di Indonesia. Juga di Pretoria, Afrika Selatan, seperti yang dialami pasangan suami-istri Emile Drotsky dan Charlene Stoker. Tak ada seks di muka umum, tetapi mereka menderita karena dituduh mesum.

Pada 2008 silam, Emile Drotsky dan Charlene Stoker membicarakan urusan rumah tangga di sebuah restoran. Pembicaraan berlanjut di dalam mobil yang diparkir di taman Mignolia Dell.

Dikutip dari IOL, seorang polisi menghampiri mereka, mengetuk kaca mobil, dan menuduh keduanya melakukan perbuatan tak senonoh di muka umum. Sang polisi tiba-tiba polisi menyemprotkan cairan lada di muka Drotsky seraya memanggil rekannya untuk turut meringkus pasangan tersebut.

Baca Juga :  Pemkot Didesak Segera Cairkan Seluruh Anggaran Pilkada

Setelah digelandang ke kantor polisi terdekat, Drotsky dan Stoker diinterogasi, diintimidasi secara verbal dan fisik. Drotsky ditampar, dipukul, ditendang. Sementara Stoker, istrinya yang kebetulan kulit hitam, dituduh sebagai seorang pelacur.

Baik Drotsky maupun Stoker berkali-kali menjelaskan bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Keduanya juga memohon-mohon untuk segera dipulangkan karena ingin bertemu dua anak mereka yang masih kecil. Para polisi tetap bersikukuh menuduh pasutri itu telah bertindak asusila di tempat umum.

Aparat baru menyadari kekeliruan mereka ketika ayah mertua Stoker datang ke kantor polisi dan menjelaskan duduk perkara. Namun, pasangan Drotsky-Stoker terlanjur merasa dirugikan oleh polisi. Kasus ini terus bergulir sampai pada 2016 lalu, ketika akhirnya mereka mendapat kompensasi sejumlah uang.

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed