oleh

Musuh Kecil yang Menguburkan Ribuan Jiwa

PENGHUJUNG 2017 wabah difteri melanda Indonesia. Sampai akhir semester pertama 2018, sebanyak 142 kabupaten dan kota di 28 provinsi terjangkiti penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium.

Penyakit menular yang ditandai gejala peradangan saluran pernafasan dan demam ini lebih rentan menyerang anak-anak. Berdasarkan berita yang dilansir dari Antara, Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Aman Bhakti Pulungan di Jakarta, menjelaskan 40 anak yang terinfeksi difteri meninggal dunia dan lebih dari 600 dirawat karena terkena difteri.

Aman menjelaskan, bahwa kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri ini adalah yang paling besar terjadi di dunia mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih banyak dibandingkan negara-negara yang pernah terjadi KLB difteri sebelumnya.

Aman menilai KLB difteri harus ditanggapi serius dengan seluruh kalangan mulai dari pemerintah hingga masyarakat dan bukan hanya dikalangan medis. Tahun lalu Kementerian Kesehatan menyiapkan 4.000 obat antidifteri serum (ADS) untuk memenuhi kebutuhan pengobatan kepada pasien difteri di Indonesia.

Kementerian Kesehatan menetapkan Indonesia dalam status KLB akibat difteri. Pemerintah bahkan sampai mengeluarkan imbauan agar anak-anak menerima vaksin difteri. Tindakan ini diperlukan mengingat Indonesia pernah mengalami penyakit yang serius bahkan bisa mematikan.

Indonesia adalah negara tropis yang memiliki risiko penyebaran penyakit menular, seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare, demam berdarah dengue, chikungunya, dan malaria. Berdasarkan penelusuran, penduduk Indonesia semasa Nusantara pernah mencicipi beberapa penyakit yang dibawa karena aktivitas perdagangan menggunakan kapal layar. Ada pula penyakit menular muncul karena peperangan besar yang terjadi di seluruh penjuru Indonesia untuk menentang penjajahan.

Seperti saat Perang Jawa, antara Pangeran Diponegoro dan Belanda (1825-1830). Tercatat, 200.000 pribumi yang tewas akibat perang itu dan puluhan ribu dari pihak Belanda. Karena penanganan jenazah korban perang yang tidak sempurna, penyakit menular seperti kolera menyerang seluruh penduduk di Jawa.

Mengutip penelitian pengajar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Dina Dwi Kurniarini, Ririn Darini, Ita Mutiara Dewi, disebutkan pada masa kolonial, tingkat kesejahteraan penduduk bumiputra sangat memprihatinkan. Termasuk kondisi kesehatan.

Saat itu cukup berkembang wabah penyakit menular antara lain, malaria, pes, kolera dan cacar yang menyebabkan angka mortalitas yang tinggi. Meskipun perawatan kesehatan untuk daerah jajahan Belanda sudah dimulai sejak Politik Etis. Namun, kualitas kesehatan masyarakat masih rendah. Perkembangan perekonomian Hindia Belanda hanya menggambarkan keberhasilan Belanda dalam misinya mendapatkan keuntungan besar.

Tujuan Pemerintah Belanda di Indonesia meliputi dual mandate yang berupa pengembangan sumber daya alam atau La richessenaturalle, tetapi pemerintah Belanda juga mempunyai konsekuensi terhadap orang-orang taklukannya untuk mengembangkan La richevace atau kesejahteraan penduduk, seperti dalam layanan pemerintah untuk membantu pertanian pribumi, perawatan kesehatan masyarakat, pendidikan, kegiatan misi.

@Invasi Kolera
Menurut buku Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia yang diterbitkan Departemen Kesehatan, penyakit kolera mulai dikenal pada 1821. Penyakit yang menyerang usus besar ini ditandai dengan gejala muntah-muntah dan buang air besar yang hebat. Penderita kolera dapat mengalami kematian dalam beberapa jam apabila tak mendapat penanganan secara serius.

Kolera menyebabkan kepanikan luar biasa di kalangan orang Eropa. Pasalnya, wabah kolera menyebar lebih cepat dibandingkan penyakit epidemi lain semisal malaria, tifus, atau disentri.

Kemudian pada 1821, terjadi serangan wabah penyakit kolera di Jawa. Kondisi tersebut mengakibatkan gagal panen padi akibat banyak warga tak bekerja menggarap sawah. Mereka terkapar akibat terserang penyakit kolera.

Baca Juga :  Ngeri Seketika, Hampir Seratus Petugas Bawaslu Jadi Penderita

Penyakit kolera berasal dari infeksi bakteri yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami dehidrasi akibat diare parah. Penularan kolera biasanya terjadi melalui air yang terkontaminasi. Jika tidak segera ditangani, kolera dapat berakibat fatal hanya dalam beberapa jam saja.

Kolera biasanya menular di daerah yang padat penduduk tanpa sanitasi yang memadai. Dengan perawatan yang cepat dan tepat, kolera dapat diatasi dengan baik. Perawatan yang murah dan sederhana, seperti oralit, bisa digunakan untuk mencegah dehidrasi akibat kolera.

Pada 1864, kolera merenggut nyawa sebanyak 240 orang Eropa. Sementara tingkat kematian di kalangan penduduk bumiputra mencapai dua kali lipat dari jumlah itu. Persebaran bakteri kolera biasanya menular lewat air minum, makanan, dan kontak langsung.

Dari Batavia, kolera bahkan terbawa hingga ke ujung utara Sumatra. Menjelang abad 20, tentara Belanda mengadakan ekspedisi militer untuk menaklukkan Aceh. Sebagaimana diungkap Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh, kolera masih terus berjangkit di kalangan serdadu Belanda dan menyebar pula kepada orang-orang Aceh.

Pemerintah kolonial menyatakan wabah kolera rentan menjangkit saat terjadi musim kemarau. Jumlah penderita kolera mulai menyusut memasuki musim penghujan. Namun kolera akan muncul lagi bila musim kemarau tiba ketika air sungai mendangkal.

Penyakit kolera di Batavia tahun 1901-1927 dan upaya pemberantasan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda menjadi fokus penelitian dari penulisan skripsi ini. Penyakit yang disebabkan oleh Vibrio Cholerae ini mewabah secara luas sebagai akibat dari lingkungan Batavia yang kotor dan kurangnya perhatian penduduk mengenai pentingnya kesehatan.

Dampak sosial yang ditimbulkan wabah kolera cukup memprihatinkan kehidupan masyarakat kolonial di Batavia.

Pada 1911, vaksin kolera diperkenalkan kepada masyarakat. Namun wabah kolera benar-benar tak dapat ditanggulangi sepenuhnya. Meski vaksin sudah diproduksi, sampai dengan tahun 1920, penyakit kolera tetap mewabah setiap tahun. Di Batavia, kolera memang sulit diatasi mengingat buruknya sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan yang rendah.

Kondisi sosial dan ekonomi penduduk Batavia menjadi faktor penyebab mewabahnya penyakit kolera, selain faktor geografis dan iklim. Penduduk Batavia terutama penduduk pribumi saat itu belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kesehatan secara umum sehingga kurang memperhatikan pentingnya kebersihan lingkungan dan pentingnya penggunaan air bersih.

Penduduk memanfaatkan air sungai, terutama Sungai Ciliwung untuk keperluan minum, mandi, dan mencuci. Sementara itu, kotoran manusia dibuang di sembarang tempat, termasuk ke sungai karena belum adanya sarana mandi cuci kakus (MCK) yang memadai.

Pemanfaatan air sungai yang tercemar untuk dikonsumsi menjadi penyebab munculnya penyakit kolera. Selain itu, kotoran manusia dan sampah yang dibuang di sembarang tempat memicu munculnya lalat atau lipas yang menjadi perantara penyebar penyakit kolera.

Tidak hanya itu, iklim tropis di Batavia dengan pola hujan dari tahun ke tahun yang tidak tetap menjadi faktor mewabahnya penyakit kolera secara luas di Batavia. Karena di Jakarta iklimnya tropis telah menjadi penyebab utama dan perkembangbiakannya bakteri penyebab penyakit, termasuk bakteri penyebab kolera.

Saat hujan turun atau saat musim hujan, Batavia yang terletak di dataran rendah mengalami banjir. Saat banjir ini terjadi, penduduk mengalami kesulitan air bersih dan kotoran manusia hanyut serta menyebar ke semua wilayah sehingga memunculkan penyakit, termasuk penyakit kolera.

Memasuki musim kemarau, penduduk Batavia mengalami kesulitan air bersih sehingga memanfaatkan sisa-sisa air sungai yang sudah terkontaminasi bakteri. Selain itu, penduduk kerap membuang kotorannya di sembarang tempat yang terjadi saat kesulitan air melanda penduduk Batavia.

Baca Juga :  Nah Lo...! 37 Calon Kepala Daerah Positif Covid-19

Faktor geografis Batavia juga jadi penentu penyebaran kolera. Batavia berada di dataran rendah dan dekat dengan wilayah pelabuhan yang menjadi tempat keluar dan masuknya manusia. Kontak antar manusia yang intensif menjadi penyebab mewabahnya kolera di kota yang dibangun 4 Maret 1621.

@Cacar Menjalar
Terdapat banyak jenis penyakit menyebabkan kematian seperti cacar. Penyakit menular ini di Indonesia sudah tidak asing lagi. Biasanya penyakit ini dialami dengan anak-anak. Cacar termasuk dalam golongan penyakit menular karantina.

Cacar air merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus varisela zoster. Itulah sebabnya penyakit ini juga dikenal dengan istilah varisela. Seperti penyakit lain yang juga disebabkan oleh virus, cacar air dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting disease).

Jenis penyakit ini ditemukan Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi, pria kelahiran Ravy, Teheran, Iran pada 865 M. Ar-Razi saat itu bekerja sebagai dokter utama di rumah sakit di Baghdad. Hasil temuan itu dia bukukan dalam Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak). Buku tersebut menjadi buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa lain.

Kemudian, karena aktivitas perdagangan, penyakit ini menyebar ke penjuru dunia, termasuk Nusantara. Diduga, virus ini masuk dari Singapura atau Malaka. Penyakit ini telah menimbulkan banyak korban kematian dikalangan penduduk Indonesia pada setiap tahunnya.

Catatan wabah cacar diketahui pada 1948. Penyakit ini menjalar dari Sumatera ke pulau-pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara melalui lintas laut sehingga ke lintas darat.

Cacar air umumnya diderita anak-anak di bawah usia 10 tahun. Namun, pada beberapa kasus, penyakit ini juga dapat diderita orang dewasa. Bahkan pada orang dewasa, gejalanya cenderung lebih berat dibandingkan penderita anak-anak.

Biasanya, seorang hanya akan menderita cacar air satu kali seumur hidupnya. Tidak menutup kemungkinan dapat terkena lebih dari satu kali.

Saat penyakit ini masuk ke pulau Jawa wabahnya paling hebat. Keganasan penyakit itu kemudian Sumatera dan di daerah lainnya. Pada tahun 1951 telah diadakan pencacaran masal, namun meninggalkan kantong-kantong infeksi di daerah-daerah yang pencacarannya baik massal maupun rutin tidak dapat dilakukan dengan sempurna.

Pada saat itu, hasil pencacaran rutin anak-anak dibawah umur satu tahun rata-rata kurang dari 80%. Selanjutnya di daerah yang angka pencacarannya rendah hanya 50%, antara lain Jakarta dan Sulawesi saat itu wabah cacar timbul kembali.

Mulai 1950 sampai tahun 1959 cacar sudah menjalar di Indonesia bahkan penyakit cacar ini dapat menyebabkan meninggal dunia. Karena pada tahun 1950 dan 1951 jumlah penderita dan jumlah yang meninggal dunia tinggi.

Penanggulangan terhadap penyakit cacar ini diperlukan vaksin ulang terhadap anak-anak berusia lebih dari enam tahun dan orang dewasa lebih dari 20 tahun. Namun demi kian masih ada tiga daerah yang menunjukkan angka kudang dari 10% antara lain Jakarta 4,6%.

Ciri khas cacar air adalah munculnya bintil kemerahan berisi cairan dan terasa gatal. Setelah beberapa hari, bintil akan mengering dan terkelupas. Bintil cacar air biasanya muncul pada wajah, punggung, kulit kepala, dada, perut, lengan, dan kaki.

Penyebab cacar air atau varicella simplex adalah virus varisela zoster. Virus ini dapat menular dengan mudah dan cepat. Penyakit ini disebarkan secara aeorogen atau melalui udara.

Baca Juga :  Mantan Mendiknas Abdul Malik Fadjar Meninggal Dunia

@Terjangan Pes
Penyakit menular lain yang berdampak di Indonesia pada adalah pes. Penyakit ini diketahui masuk akhir tahun 1910. Sejak itu sampai tahun 1952 selama kurang lebih 40 tahun telah menyerang 240 ribu orang di Pulau Jawa atau setiap tahun terserang 6.000 orang.

Dalam jumlah penderita yang tercatat pada tahun 1934 yaitu sebanyak 23 ribu orang. Mayoritas penderita penyakit ini cukup tinggi dan sudah banyak orang yang meninggal akibat penyakit ini.

Awal mula penyakit ini masuk ke Indonesia melalui angkutan beras. Di dalam angkutan beras tersebut ikut tikus yang terkena penyakit pes. Dari pelabuhan Surabaya menyebar ke Malang, Kediri, Madiun, Surakarta dan Yogyakarta.

Pada 1919, penyakit ini masuk melalui pelabuhan Semarang dan menyebar ke Ambarawa, Salatiga, Magelang, Wonosobo lalu ke Banyumas dan Pekalongan hingga Pegunungan Dieng.

Selanjutnya menyebar ke pelabuhan Tegal pada 1922 dan semenjak itu pes mulai menjalar ke Bumiayu. Tidak berhenti sampai di daerah itu, pelabukan Cirebon pada 1924 menjadi pintu masuk penyakit pes. Setelah Perang Dunia II terdapat serangan pes di daerah sebelah barat Cirebon yaitu Plumbon.

Tahun 1935 diadakan vaksin besar-besaran sehingga jumlah penderita berkurang, tetapi penyakitnya tidak terbasmi. Penyemprotan ini dilakukan di tempat-tempat yang biasanya dipakai persembunyian tikus seperti di atap rumah.

Berdasarkan hasil dari penyemprotan dengan DDT ini hasilnya memuaskan. Pes menghilang dari rumah-rumah yang telah disemprot dan tidak kembali lagi. Dari tahun 1952 sampai 1959 jumlah penderita pes berkurang.

@Demam Berdarah
Senada dengan Malaria, penyakit menular yang dibawa oleh nyamuk adalah demam berdarah dengue (DBD) pertama kali ditemukan di Manila (Filipina) pada 1953. Kemudian, penyakit ini menyebar ke berbagai negara.

Sementara itu di Indonesia penyakit DBD pertama kali ditemukan di Surabaya dan Jakarta pada 1968 kemudian menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia. Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD terbesar pertama kali terjadi di Indonesia pada 1998 dengan Incidence Rate (IR) sebesar 35,19/100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR).

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus Dengue. Virus ini termasuk kelompok Arthropoda Borne Viruses(Arbovirosis) dan terutama menyerang anak- anak.

Ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan mungkin juga Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia kecuali ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut. Masa inkubasi penyakit ini diperkirakan lebih kurang tujuh hari.

@TBC
Selanjutnya penyakit yang juga sering ada di Indonesia yaitu Tuberkolosis. Penyakit ini juga dikenal dengan singkatan TBC, adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh baksil Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini ditemukan Robert Koch pada 1882 dan vaksin BCG sebagai pencegah penyakit ini ditemukan 1906.

Buruknya sanitasi dan lingkungan serta pola hidup menjadi sebab penyakit ini mengindap di tubuh manusia. Saat ini, penderita TBC berkembang lantaran seseorang mengidap virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). (Annisa Dewi Meifira)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed