Warga Lombok Butuh Kelambu Selamatkan Warga dari Serangan Nyamuk Anoples Betina

48

SITUASI Lombok belum sepenuhnya aman dan masih banyak peer yang harus dibereskan secepatnya, termasuk mengantisipasi mewabahnya penyakit pasca gempa. Dilaporkan, penyakit malaria mulai mewabah di sana, menyerang ratusan orang, termasuk bayi dan ibu hamil.

Laporan terakhir menyebutkan, sedikitnya 137 orang di Kabupaten Lombok Barat sudah terinfeksi. Belum ada yang meninggal, namun Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid sudah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) sejak 12 September lalu.

Dengan kemampuan yang terbatas, Pemkab Lombok Barat sudah membagikan kelambu ke sejumlah titik pengungsian warga. Dengan pembagian kelambu, diharapkan penyebaran nyamuk anoples betina dapat dicegah.

Pemkab sudah menerima sumbangan ribuan kelambu dari berbagai pihak. Namun jumlahnya masih sangat kurang. “Kami membutuhkan puluhan ribu kelambu, terutama kelambu berinsektisida. Kita usul ke Kemenkes untuk diambilkan dari cadangan provinsi lain,” ujarnya.

Fauzan menambahkan bahwa pihaknya juga perlu mengambil sampel darah penduduk di semua dusun yang terdampak malaria. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 18.000 orang.

“Untuk kepentingan tersebut sudah terbentuk 18 tim (1 tim terdiri dari 7 orang) yang setiap hari tiga kali ke lapangan,” papar Fauzan.

Hal ini tentu saja memerlukan dana besar dan Pemkab Lombok Barat jelas tak punya. Diperkirakan uang yang diperlukan untuk mendanai tambahan kelambu, perangkat tes darah, dan upaya tanggap darurat mencapai Rp3,4 miliar.

Wabah malaria di Lombok Barat terjadi setelah pulau tersebut diguncang sejumlah gempa sejak Juli lalu. Kondisi kesehatan warga yang lemah akibat menghuni tenda dan tidak cukup istirahat pascagempa Lombok menyebabkan tubuh mereka rentan dijangkiti malaria, kata Marjito, kepala dinas kesehatan Provinsi NTB.

“Ketika tubuh seseorang lemah, itulah saat mereka mudah dijangkiti malaria dan masalahnya meningkat,” kata Marjito sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Status KLB ditetapkan pada 12 September lalu seiring ditemukannya kasus malaria pada dua bayi dan seorang ibu hamil selama Agustus-September. Jumlah itu meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2017 lalu.(dbs/iwa)

Tulis Komentar