oleh

Lukas Diduga Korban Vaksin MR, Keluarga Akan Laporkan Dinkes Tuba ke Winarti

BANDARLAMPUNG-Belum terealisasinya janji Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulangbawang (Tuba) untuk menemui Lukas Rafael (5) warga Desa Gedung Karya, Kecamatan Rawajitu, Tuba, yang diduga korban vaksin Measles Rubella (MR), membuat keluarga Lukas geram.
Dalam waktu dekat ini, keluarga Lukas mengancam akan melaporkan langsung pihak Dinkes ke Bupati Tuba Winarti dan Wakilnya Hendriwansyah.
“Kami akan tetap mencoba melakukan pendekatan dengan Dinkes untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi, jika upaya ini tidak berhasil apa boleh buat akan kami laporkan langsung ke pak Hendriwansyah. Bila perlu ke Bupati Winarti,” ungkap perwakilan keluarga Lukas, Azhari, saat dihubungi via telepon, Selasa (24/10).
Menurut Azari yang juga kakek Lukas ini, akibat vaksin MR yang dialami Lukas ini, keluarga mengalami kerugian baik materil maupun in materil.
“Ya, akibat kejadian ini Lukman kakek Lukas terpaksa menggadaikan rumahnya ke bank untuk biaya perubatan Lukas,” tegasnya.
Untuk itu, kata Azhari, pihaknya akan meminta pertanggungjawaban Dinkes. “Kami meminta pertanggungjawaban Dinkes, mudah-mudahan pertemuan dengan Dinkes bisa memberikan solusi,” tandasnya.
Untuk diketahui, keluarga Lukas Rafael (5) mempertanyakan janji Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuba untuk menyambangi sekaligus memberikan bantuan terhadap Lukas. Namun, hingga kini belum ada itikat baik dari Dinkes
“Dinkes pernah janji akan mendatangi kami, tapi sampai hari ini tidak ada satupun perwakilan Dinkes yang dating. Jika tidak ada etikat baik apa boleh buat akan kami bawa ke ranah hukum,” tegas Kakek Lukas, Lukman, saat dihubungi via telepon, Selasa (25/9).
Lukman juga mengaku akan meminta batuan hukum untuk mendorong persoalan ini agar di kemudian hari tidak ada lagi korban MR seperti Lukas.
“Saya akan meminta bantuan hukum. Semoga ke depan tidak ada lagi korban MR seperti Lukas,” harapnya.

Baca Juga :  DPRD Provinsi Lampung Sahkan Perda AKB

Diberitakan sebelumnya, Keluhan keluarga Muhamad Lukas Rafael (5) warga Desa Gedung Karya, Kecamatan Rawajitu, Tulangbawang (Tuba) yang diduga korban vaksin Measles Rubella (MR), akhirnya mendapat respon positif dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulangbawang.

Pihak Dinkes melalui Kepala Dinas dr Herry Noprizal, berjanji akan segera mengunjungi Lukas dan pihak keluarga, sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap Lukas. “Ya kami (Dinkes) akan segera berkunjung ke kediaman Lukas dan keluarga,” ungkap Heri, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/9).

Menurut Herry, belum terlaksananya kunjungan Dinkes ke kediaman Lukas selama ini, dengan petimbangan menjaga situasi yang pada saat itu masih dalam kondisi belum kondusif. Langkah ini juga untuk menjaga terjadinya mis komunikasi.

“Bukan maksud kami tidak peduli dengan kondisi Lukas, tapi untuk menjaga mis komunikasi. Alhamdullilah dalam waktu dekat ini kami akan mengunjungi Lukas,” ujarnya.

Terkait maksud kunjungan tersebut, Herry menegaskan sebagai bentuk kepedulian terhadap Lukas.
“ Selain silaturrahmi, kunjungan ini bentuk kepedulian, sekaligus memberikan bantuan,” jelasnya.

Herry juga memastikan pihaknya akan memberikan bantuan terhadap Lukas, namun bantuan ini disesuaikan dengan kemampuan Dinkes.
“Kami juga memberikan bantuan terhadap Lukas, bantuan ini disesuaikan dengan kemampuan Dinkes. Semoga nantinya bisa bermanfaat,” tandasnya.
Ditambahkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tuba, Feriany Said, jika penyuntikan vaksi MR terhadap Lukas sudah sesuai dengan standar Standard Operator Procedure (SOP). Untuk memastikan kondisi kesehatan Lukas pihaknya meminta hasil diagnose Lukas.
“Ternyata Lukas menderita penyakit Meningoensefalitis,” tegasnya.
Ditegaskan Feriany, jika saat vaksin MR terhadap Lukas itu dilakukan, dosis yang digunakan I ampul MR diperuntukan bagi 8 murid.
“Jadi selain Lukas ada 7 orang teman yang disuntik dan tidak ada masalah,” tandasnya.
Untuk diketahui, Muhamad Lukas Rafael (5) warga Desa Gedung Karya, Kecamatan Rawajitu Selatan, Tulangbawang (Tuba) harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Meski sempat mengalami kejang-kejang, kondisi Lukas saat ini berangsur membaik.
Diceritakan Lukman, cucunya yang sekolah di TK karya Utama Mandiri, mendapatkan suntikan vaksin yang diduga MR, pada tanggal 1 Agustus 2018 lalu. Untuk memastikan vaksin yang disuntikan ke Lukas, Lukman mendatangi sekolah dan menurut pihak sekolah Lukas divaksin rubella.
“Pada tanggal 1 Agustus 2018, cucu saya mendapatkan suntikan vaksin di sekolah. Menurut pihak sekolah vaksin rubella. Setelah sampai di rumah badannya langsung panas dan langsung diberi obat generic paracetamol,” ungkapnya.
Namun, kata Lukman, suhu panas badan Lukas tidak kunjung turun dan bahkan suhu panasnya bertambah tinggi, selama dua hari.
“Meski badanya panas, tapi Lukas besoknya masih sekolah, setelah mengalami panas selama dua hari, Lukas langsung kami bawa ke dokter,” jelasnya.
Beberapa dokter yang didatangi menjelaskan kondisi Lukas yang tidak sama. “Ada yang mengatakan tipes, tapi kami tidak mendapatkan penjelasan yang akurat. Untuk itu langsung kami bawa ke Rumah Sakit Mutiara Bunda,” ujarnya.
Namun, jelasnya lagi, kondisi Lukas malah tidak sadarkan diri hingga mengalami kejang-kejang. “Terpaksa kami larikan ke Rumah Sakit Yukum Jaya,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi Lukas setelah menjalani perobatan hampir selama satu minggu mulai membaik. “Alhamdullilah sudah mulai membaik,” jelasnya.
Terkait kejadian itu, Lukman secara tegas meminta petanggungjawaban pihak sekolah yang telah membiarkan cucunya disuntik vaksin tanpa sebelumnya memberitahu pihak keluarga. Menurutnya, hal ini sudah pernah dibicarakan dengan pihak sekolah dan puskesmas, namun tidak ada kejelasan.
“Sebelumnyan sudah saya temui pihak sekolah namun tidak ada pertanggungjawaban, begitu juga pihak Puskesmas juga tidak bertanggungjawab,” ungkapnya.
Yang sangat disayangkan, kata Lukman, pihak sekolah tidak pernah memberitahu pihak keluarga terkait pelaksanaan vaksin tersebut. Akibat kejadian itu, Lukman mengungkapkan jika pihaknya pihaknya sudah mengeluarkan biaya yang cukup banyak.
“Harusnya pihak sekolah memberi tahu keluarga kalau ada penyuntikan vaksin, ini kan tidak ada pemberitahunan sama sekali. Kami juga sudah mengahabiskan biaya puluhan juta akibat suntikan vaksin ini. Kami akan tetap meminta tanggungjawab pihak sekolah,” tegasnya. (Tim/JJ).

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed