oleh

Edannya Anak Jalanan, Melayang dengan Pembalut Perempuan

MESKI belum ditemukan kasus ini di sini, disarankan bagi perempuan, jangan buang pembalut bekas sembarangan. Sebab, di sejumlah tempat di Pulau Jawa, termasuk Jakarta, air rebusan pembalut perempuan sudah menjadi ‘hidangan’ anak jalanan.

Awalnya, sangat menjijikkan. Mereka mengorek tempat sampah untuk mencari pembalut bekas, hingga akhirnya dapat membeli pembalut baru.

Konon, minum air rebusan pembalut perempuan bisa menimbulkan sensasi mirip mengkonsumsi narkoba. Praktik yang sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir di Jawa Tengah dan Jakarta. Kasus ini belum ditemukan di Lampung, namun harus diwaspadai karena komonitas anak jalanan cukup banyak di sini.

Minum air rebusan pembalut agar mendapatkan sensasi ‘fly’ diketahui Badan Nasional Narkotika, Jawa Tengah dilakukan oleh sejumlah remaja jalanan.

Menurut Kepala Bidang Pemberantasan BNN Provinisi Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, para remaja jalanan yang melakukan praktik itu berusia berusia 13 hingga 16 tahun.

Baca Juga :  Pemprov Dalami Upaya Penurunan Angka Stunting di Provinsi Lampung

“Kami temukan di Jawa Tengah Grobogan, Kudus, Pati, Rembang dan Kota Semarang, namun belum ada dasar hukumnya, jadi tidak bisa ditindak.” kata AKBP Suprinarto.

Menurutnya air rebusan pembalut dinilai belum termasuk kategori zat-zat berbahaya atau terlarang. Tapi karena ini tak lazim, Dinas Kesehatan Kota Semarang tergerak untuk melakukan penelitian. Dugaan awalnya adalah, kandungan air rebusan pembalut diduga berbahaya, karena ada risiko terjangkit virus maupun bakteri berbahaya.

Bahkan menurut, menurut Hari Nugroho dari BNN, praktik ini dapat menjadi pintu masuk penularan penyakit dari cairan tubuh terinfeksi.

“Kalau ada cairan tubuh yang terinfeksi virus dan bakteri-bakteri berbahaya, sangat mungkin tertular penyakit-penyakit lain yang ditularkan melalui cairan tubuh,” kata Hari.

Baca Juga :  OTT di DPM-PTSP, Gubernur: Kita Serahkan Saja ke Polisi

Sementara ini Hari menduga air rebusan tidak menyebabkan ketagihan.

Dalam kasus-kasus serupa yang ia catat selama tiga tahun belakangan, bahwa anak jalanan tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli narkoba karena harganya lebih tinggi, sehingga mereka mencari alternatif lain dengan informasi yang didapat dari teman-teman mereka sendiri.

Data dari Kementerian Sosial menyebutkan 70% dari 18.000 lebih anak dan remaja jalanan di Indonesia menjadi korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

Dari angka tersebut, kebanyakan dari mereka mencari cara alternatif untuk bisa ‘nge-fly’ dengan modal minim.

Menurut BNN, sulitnya dan mahalnya mendapatkan crystal meth atau sabu, bagi anak jalanan akhirnya membuat mereka mencoba banyak eksperimen agar bisa ‘nge-fly’ tanpa menyaari dampak kesehatan.

BNN melaporkan, ada beberapa cara-cara yang tak lazim untuk ‘bermain’ dengan zat berbahaya. Antara lain Jamu Telethong, sejenis ramuan untuk diminum berasal dari kotoran sapi.

Baca Juga :  Terus Naik, Positif Covid-19 Mencapai 826 Kasus

Nyair, mencampur obat-obatan jenis tertentu yang dijual di pasaran, contohnya obat flu dan batuk, ditumbuk bersama obat nyamuk bakar, lalu larutannya diminum.

Kunyitan, minuman yang terdiri dari macam-macam obat, menurut pengakuan para anak jalanan kepada BNN, mereka mengira kalau efeknya mendekati ketika mengkonsumsi sabu.

Dan ngelem, praktik ini sering dilakukan oleh mereka, efeknya rata-rata hanya berlangsung selama lima jam. Namun efek jangka panjangnya dapat menyebabkan gangguan jantung, paru-paru, ginjal, hati, hingga sumsum tulang belakang.(iwa/dbs)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed