oleh

Trase Tegineneng-Tarahan Masih Terkendala Pendanaan

KERETA Babarangjang itu tak cuma identik dengan panjang. Kereta api berwarna hitam kusam itu juga identik sebagai biang keladi kemacetan, sekaligus sumber kekesalan penguna kendaraan. Apalagi sekarang, Babaranjang yang mengangkut batubara melintas 12 sampai 20 menit sekali.

‘Kesombongan’ Babaranjang sudah banyak ditentang warga kota. Bahkan dampak kemacetan yang ditimbulkannya sudah jadi pembicaraan pemerintah pusat. Tapi Babaranjang masih terlalu perkasa untuk ditertibkan. Rencana penerapan trase Tegineneng-Tarahan, sebagai alternatif agar KA tidak lagi melintas di Kota Bandarlampung, entah kapan dapat diwujudkan.

Ditemui di Kantor Dishub Lampung, Perwakilan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumbagsel, Sugianto mengatakan, pihaknya masih terus mengkaji rencana penerapan trase Tegineneng-Tarahan tersebut. Menurutnya, rencana ini bisa menjadi opsi atau alternatif agar Kereta Api Babaranjang yang memiliki sekitar 60 gerbong tidak lagi melintas di Kota Bandarlampung.

Baca Juga :  4.988.624 Dosis Vaksin Covid-19 Masuk Lampung

“Namanya rencana, maka harus dipikirkan dengan matang dan terencana. Artinya, selain finansial, pemerintah daerah hingga pusat juga harus memikirkan segala sesuatunya, seperti pembebasan lahan, data pengukuran dan pemetaan tanah (Groundkart) dan lain sebagainya. Kita sudah ada studi untuk membahas hal itu, termasuk soal kendala dan lainnya, ada studi amdal dan lain-lain,” ujar Sugianto, Kamis (13/12).

Untuk realisasinya, sambung dia, sangat tergantung dari persiapan pendanaan dari pemerintah Pusat (APBN). Pastinya bukan tahun ini atau pun tahun depan.

“Anggaran masih belum dimasukkan, karena kita masih proses persiapan perencanaan, dan hari ini baru kita bahas,” ucap dia.(ria)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed