oleh

∎ Jokowi Beli Sabun Cuci Rp2 Miliar

Fahri: Usut Sumber Asal-usul Uangnya

JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan Presiden RI Joko Widodo harus mempertanggungjawabkan asal usul uang Rp2 miliar yang digunakan untuk memborong 100 ribu botol sabun cuci saat berkunjung ke Garut, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

“Yang penting pertanggungjawaban uangnya saja karena pejabat negara kan uangnya harus dipertanggungjawabkan, pajaknya dari mana, sumber uangnya dari mana,” ujarnya di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (21/1).

Jokowi diketahui memborong 100 ribu botol sabun milik salah satu kelompok usaha di Garut, Eli Liawati. Harga satu botol sabun cuci berisi satu liter itu sebesar Rp20 ribu. Dengan demikian, total uang yang harus dikeluarkan Jokowi adalah Rp2 miliar.

Baca Juga :  Sirekap Mobile dan Website KPU Kembali Disimulasi

Jokowi memberi uang muka pembelian sebesar Rp10 juta sebagai tanda jadi. Eli pun menyanggupi pesanan Jokowi itu dan menjanjikan bakal rampung memproduksi pesanan hingga akhir Februari 2019.

Fahri menegaskan Jokowi perlu menjelaskan asal uang tersebut supaya tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Terlebih saat ini merupakan tahun politik.

Jokowi, kata Fahri, harus mengumumkan apakah uang tersebut menggunakan kas negara atau bagian dari alokasi anggaran tim kampanye pemenanganannya sebagai calon presiden nomor urut 01.

“Uang (harus jelas) dari siapa. Kecuali kalau dia bilang itu uang dari tim sukses, ya masukin itu ke anggaran tim sukses,” kata Fahri.

Selain soal sabun cuci, Fahri pun memberikan pendapatnya soal potong rambut yang dilakukan Jokowi saat kunjungannya ke Garut. Dengan sedikit bercanda, Fahri mengatakan berencana mengumumkan kepada awak media kapan dirinya akan memotong rambutnya itu.

Baca Juga :  Gencar Blusukan, WaRu Janji Perbaiki Akses Jalan

“Saya hari ini belum cukur rambut, saya ingin cukur rambut nanti saya bikin, saya umumkan ke teman-teman media,” ujarnya.

Menurut Fahri, masyarakat sudah tidak tertarik dengan pencitraan potong rambut yang dilakukan oleh Jokowi. Kalaupun maksud dari kegiatan saat itu bertemakan membangun UMKM, Fahri mengatakan seharusnya Jokowi memberikan modal usaha bukan dengan mengajak foto.

Fahri menganggap jika pertumbuhan ekonomi tidak mengalami perubahan maka UMKM juga tidak akan dapat maju.

“UMKM itu jangan diajak foto, dikasih modal. Orang itu perlu modal, perlu pengembangan, diajak foto seribu kali tapi tambah miskin ya susah, gara-gara ekonomi tidak tumbuh, gara-gara investasi luar negeri melambat, gara-gara perekonomian melambat,” tuturnya.

Baca Juga :  KPPS Wajib Rapid: Yang Reaktif Diganti

“Jadi lebih baik itu pertumbuhkan ekonomi, UMKM akan tumbuh dan berkembang. Tapi kalau ekonomi stagnan mau diajak foto berapa kalipun tetap saja tambah susah,” kata Fahri.(ccn)

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed