Sugeng Tindak Ibu Ani Yudhoyono

5

Penulis : Edhie Prayitno Ige

Saya tidak mengenal Ibu Ani Yudhoyono secara pribadi. Tapi secara bawah sadar saya akui, Ibu Ani memiliki peran cukup dalam, terutama dalam mendukung pengembangan batik yang bercorak identitas kewilayahan.

Berawal 2004-2005 ketika Sanggar Batik Semarang 16 dirintis, kami belum memiliki motif sendiri. Ketika itu memiliki motif yang terdaftar HAKI menjadi sebuah impian.

Setelah ibu Wali Kota Sintoadi Prasetyorini berdiskusi banyak, akhirnya kami riset dan sukses membuat motif sendiri. Awalnya hanya 11 motif saja dan langsung didaftarkan HAKI.

Dalam perjalanannya, muncullah tangan ajaib ibu Ani Yudhoyono, yang meminta agar Pemerintah kota (Pemkot) Semarang menyediakan seragam batik saat peresmian renovasi Lawang Sewu di tahun 2010.

“Saya tidak mau batik dari luar, Semarang punya batik sendiri, ibu wali kota lama sudah menyampaikan ke saya,” kata Bu Ani saat itu.

Hebohlah panitia yang semuanya birokrat, karena menyediakan batik dari kota lain.
Maka dipilihlah salah satu motif oleh bu Ani, Lawang Sewu Ngawang, Desain motif yang kami kerjakan sebenarnya sudah melalui riset panjang.
Nama Lawang Sewu Ngawang juga kami pilih karena saat motif itu dibuat, renovasi Lawang Sewu masih di awang-awang.

“Saya sebenarnya mendorong lahirnya perajin-perajin baru perbatikan, Maka setiap daerah jika memungkinkan dan memiliki tradisi batik bisa dicoba direvitalisasi,” katanya.

Dari kosa kata revitalisasi, akhirnya mengerucut menjadi konservasi. Ibu Ani secara khusus meminta sanggar-sanggar yang dinilai serius mulai menggagas konservasi dari hulu sampai hilir.

Maka sanggar batik semarang 16 kemudian menyekolahkan beberapa kru untuk membuat cap dan canting sendiri. Sebelumnya kami sudah memproses malam sendiri. Dari hulu kami bekerja.

“Kalau dikerjakan dari hulu, pasti Batik nggak akan punah, apalagi hanya oleh kain bermotif batik atau batik produksi pabrik yang sebenarnya bukan batik karena prosesnya tidak melalui nutup dengan malam,” kata Ibu Ani.

Jaman Ibu Ani pula, perjuangan meloloskan Batik untuk mendapat pengakuan dunia akhirnya berhasil. Batik diakui sebagai warisan budaya dunia non benda.

Saat sudah tidak menjadi ibu negara, beliau masih sering menyapa para perajin di daerah terus mendorong menuju kemandirian.

“Jika pemerintah mewakili negara tak hadir, tetaplah melestarikan batik, Sebab batik bukan hanya soal ekonomis. Ada pelajaran hidup yang luar biasa disana,” kata bu Ani.

Tahun ini saya mendengar selentingan, bahwa pengakuan sebagai warisan budaya dunia non benda itu bisa dicabut jika tak ada konservasi dari hulu.

Pemerintah Daerah nyaris semua mewajibkan mengenakan batik sebagai salah satu seragam, mendorong produksi batik dengan harga, kualitas yang asal enak dipandang.

Namun tak ada upaya menghidupi dari hulu sampai hilir. Batik hanya dianggap fashion, dilihat nilai ekonomisnya, dan berbusa-busa menyusun narasi sebagai warisan adi luhung.

Apakah laku “batik” yakni “ngembat titik” juga dijalani? Tentu tidak. Jika dijalani, tak ada adu domba masyarakat, tak ada penggusuran, tak ada korupsi.

Baiklah, Saya bukan orang politik dan tak peduli cibiran orang. Saya hanya salah satu tenaga yang terlibat dalam desain motif batik. Namun bagi saya pribadi, tetap menempatkan bu Ani Yudhoyono sebagai ibu negara yang paripurna. Tuntas menjalani apa yang ia yakini BATIK.
Selamat jalan Ibu, kami pasti menyusul, motif Lawang Sewu Ngawang terus menjalani perbaikan dan penambahan pengurangan sesuai pesan bu Ani. (Guntur)