Kisah Marji, Penderita Suspect Steven–Johnson, Ingin Pulang, Tapi……

6

NAMANYA Marji, pria setengah abad, warga asal RT 06/07 Dusun Kemiling Desa Pugung Raharjo Kecamatan Sekampung Udik Lampung Timur. Pria miskin ini menderita Suspect Steven–Johnson. Kulitnya melepuh, hampir sekujur tubuh, hingga 100 persen.

Dan hingga kini ia masih terbaring di ruang isolasi Rumah Sakit Abdoel Moeloek. Di ruang isolasi, ia sempat menjalani perawatan, dengan sarung tanpa sprai beralas kardus.

Sejak awal, karena kemiskinannya, ia tak terawat dengan baik di rumah sakit milik Pemprov Lampung ini.

Kualitas perawatannya baru sedikit lebih baik setelah kondisinya ramai diberitakan. Alas tidurnya yang semula cuma kardus dan koran, kini dilapisi sprei. Marji kini juga sudah tidak nyesak lagi, setelah diberi slang oksigen.

Namun, luka melepuh di tubuhnya masih mengeluarkan cairan dan menimbulkan aroma busuk. Aromanya tercium hingga pintu masuk ruangan. Para pejaga dan pasien lain nyaris tak sanggup bertahan dekat pasien.

Suyitno, kerabat Marji mengatakan, Marji dirawat sejak lebaran ke enam.

“Pak Marji seperti tak ditangani. Tidak ada peningkatan, tapi justru lebih parah,” kata Suyitno (40) yang selalu mendampingi Marji sejak pertama berobat.

Suyitno adalah tetangga Marji. Menurutnya, awal sakit yang diderita Marji pada April 2019 lalu. Kala itu tubuh Marji muncul bintik bintik merah.

Lalu Marji dibawa berobat ke Puskesmas Pugung Raharjo, dan sempat diberi obat dan salep. Karena tidak ada perubahan, Marji kemudian juga berobat kepada dokter spesialis kulit, dan sempat 10 hari menjalani perawatan di RS AKA Sribawono.

“Saat di RS AKA memang sedikit ada perubahan, kulitnya mengering. Lalu disarankan untuk rujuk ke RSAM. Tapi kami bawa pulang dulu, 2-3 hari di rumah, lalu kami bawa ke Abdoel Moeloek. Sekitar 10 hari lebih, menjelang lebaran pasien kami bawa pulang,” katanya.

Lalu, sepekan usai lebaran, Marji kembali di rawat di RSAM. Tapi sejak itu kondisinya kian hari kian memburuk. Melihat kondisi pasien, yang kiat menghawatirkan, keluarga dan para kerabat melakukan musyawarah dan sepakat akan membawa Marji pulang.

“Karena sepertinya semakin parah, sepakat kami ingin bawa pulang. Tapi saat mengurus administrasi justru tidak boleh, karena jika dibawa pulang, maka BPJS tidak berlaku, dan dianggap umum, alias harus bayar Rp4,5 juta,” jelas Suyitno, seperti dilansir sinarlampung.com.

Keluarga Marji pun menyerah. Keluarga lebih memilih dibawa pulang.

“Melihat kondisi Marji yang begitu kami berpikir ingin didoakan di rumah saja. Lagi pula perawatan di sini tidak mengalami kemajuan,” jelas Suyitno.

Namun, membawa Marji pulang ke rumah bukan perkara mudah.
Pihak rumah sakit memintya keluarga Marji membayar sebesar Rp4,5 juta.

“Kalau bapak dibawa pulang paksa harus bayar itu mas empat juta lebih, itu pun kalau tidak lewat jam 12 siang,” ujar Suyitno yang mengaku bahwa perawatan Marji dicover BPJS.(*)