Sungai Tulangbawang Riwayatmu Kini

51
FOTOGRAFER: AGUS

TULANGBAWANG—Sungai Tulangbawang yang tak dapat dipisahkan dari kejayaan Kerajaan Tulangbawang yang beberapa abad yang lalu sempat mengalami kejayaan, pada masa kerajaan dahulu sungai inilah menjadi jalur transportasi masyarakat dan pendagang dari kerajaan luar melakukan aktifitas kesehariannya.

Diriwayatkan ada catatan musafir Tiongkok yang pernah mengunjungi Indonesia pada abad VII, yaitu I Tsing yang merupakan seorang peziarah Buddha pernah singgah di To-Lang P’o-Hwang (Tulangbawang), suatu kerajaan di pedalaman (Sumatera). Namun, Tulangbawang lebih merupakan satu kesatuan adat Tulangbawang yang pernah mengalami kejayaan pada abad VII M.

Sampai kini, belum ada yang bisa memastikan pusat Kerajaan Tulangbawang. Namun, ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini terletak di hulu sungai Tulangbawang (antara Menggala dan Pagardewa), kurang lebih dalam radius 20 km dari pusat Kota Menggala.

Sekelumit riwayat tentang kejayaan kerajaan Tulangbawang, Warisan yang masih bisa dilihat dan dinikmati oleh para keturunannya adalah Sungai Tulangbawang yang menjadi saksi bisu, Saat ini sungai yang menjadi andalan masyarakat adat disana mulai terlihat mengenaskan, keseharian nelayan dalam mencari ikan semakin hari semakin mengenaskan, bagaimana tidak sungai yang dahulu sangat berlimpah hasil tangkapan nelayan hingga menjadi salah satu kabupaten yang memasok hasil tangkapannya ke berbagai daerah, kini hanya tinggal kenangan.Kisaran tahun 1980 hingga 1990 hasil tangkapan nelayan sungai disana, sangat melimpah berbagai jenis ikan seperti ikan gabus, kamal, tapa, belida, baung, udang lobster sungai dan masih banyak lagi, hingga terasi menggala sangat terkenal.

Ditahun 2000 hingga saat ini ikan tersebut sudah mulai langka, kalaupun ada harganya sudah sangat mahal, tim wartawan coba menelusuri rabu (26/06/2019), dengan menumpang perahu tradisional nelayan disana untuk melihat secara langsung bagaimana cara penangkapan ikan dan melihat keberadaan ekosistem sungai yang membuat semakin langkanya ikan disana.

Dimulai dari dermaga kecil Kampung Penawar, kecamatan Gedung Aji, Kabupaten Tulangbawang kami melakukan perjalanan ke tempat nelayan Sodri dan Kyai Mus menebar pancing dan jaring disalah satu lebung (sungai kecil), selama dalam perjalanan terlihat tak ada lagi

pohon-pohan besar disepanjang aliran sungai, konon kata Kyai (Kakak-red) 30 tahun yang lalu sepanjang aliran sungai ini pepohonan sangat lebat dan rapat, monyet, rusa, burung migrasi dari australia banyak sekali, hingga binatang buas lainnya masih sangat banyak, termasuk buaya yang mendiami aliran sungai disini, kata Mus.

Kami semakin penasaran mendengar ceritanya, berselang 30 menit perjalanan sampailah kami digubuk kecil milik mereka waktumenjelang sore hari kisaran pukul 18.00 Wib, setelah menurunkan perbekalan dan persiapan alat jaring dan pancing kami turunkan, sambil menunggu kyai Mus mengangkat jaring dan pancing, kita tunggu abis Magrib ya kalau mau mengangkat pancing, ucap Sodri.

Tiba waktu mengangkat pancing, kami berpikir pancing yang digunakan adalah pancing yang biasa dipakai dengan joran, tetapi pancing mereka menggunakan tali rapia panjang yang diikat dengan benang senar pancing sepanjang 30 cm, dengan jarak tiap mata kail sepanjang satu kepa (1,5m) tali rapianya sepanjang 500 meter, yang ujungnya diikatkan pada batang atau ranting pohon dipinggir sungai, ratusan jumlah mata kailnya diberi umpan ikan kecil.

Perlahan sambil mengayuh perahu, satu persatu diangkat kailnya tak mendapatkan seekor ikan jua, akhirnya setelah puluhan kail diangkat seekor ikan gabus kecil tersangkut kail, sampai kail terakhir terlihat hanya mendapatkan 30 ekor ikan gabus dari berbagai ukuran, yang terbesar sekitar 3 kg mungkin bila ditimbang dan 5 ekor ikan baung setengah kilogram yang didapatnya setelah seharian pancingnya ditebar, “Alhamdulilah tangkapan kali ini lumayan hasinya, dibandingkan kemarin hanya 5 kg ikan yang kami dapat,” ujar Sod.

Mari kita kembali ke Gubuk untuk beristirahat, sambil menunggu jaring dan pancing besok pagi kita angkat lagi, sekalian kalau mau mencing sambil menunggu waktu.
Tim wartawan akhirnya kembali ke gubuk sambil menghabiskan malam dengan memancing menggunakan joran, menggunakan umpan kucur dan cacing tim memulai aktifitas, 1 jam pertama kali bergantian merasakan sensasi tarikan ikan, walau hanya ikan baung kecil yang didapat, terasa ke bahagiannya, sayang sensasi tarikan ikan hilang ketika perahu nelayan tepat tengah malam melakukan tangkapan dengan menggunakan alat setrum dengan genset hilir mudik di depan kami, hingga menjelang paqi, tanpa ada rasa takut sedikit juga akan ditangkap oleh aparat terkait, seperti penangkapan dengan setrum dianggap mereka itu sudah biasa.

Sudah istirahat saja kata kyai Mus, ga akan kalian dapat ikan, nelayan setrum sudah turun, seperti inilah salah satunya yang membuat ikan disini semakin langka, belum lagi kiri kanan sungai ini sudah dibuka perkebunan secara besar-besaran, ketika mereka memupuk dan memberikan obat, kalau hujan terbawa masuk ke aliran sungai, ditambah lagi limbah pabrik yang dibuang ke sungai, cerita kyai Mus dan Sodri pada kami dengan wajah kesal.

Tolong kami untuk disampaikan ke pemerintah daerah maupun Pusat agar menghentikan pencemaran dan penggunaan alat tangkap setrum, liat indahnya alam kami, seandainya ada campur tangan berbagai pihak untuk menjaga dan melestarikan sungai ini, matahari pagi menyapa diiringi kicau burung dan burung migrasi masih ada kok, itu kita lihat sendiri, seandainya ekosistem dikembalikan lagi bukan tidak mungkin ini akan menjadi aset yang tak bernilai, wisata alam dan hasil nelayan akan membantu pemasukan pendapatan ke pemerintah, tutur kyai Mus sambil mempromosikan daerahnya.

“Ya kyai jawab tim wartawan, kami akan kembali lagi kesini dan akan berkordinasi ke pemerintahan kabupaten Tulangbawang, tentang hasil investigasi kami, dari instansi terkait hingga kepala daerah, akan kami sampaikan kesulitan kalian,”

Lalu kami melanjutkan perjalanan pulang ke kampung, sambil menikmati indahnya surga Sungai tulangbawang, yah sungguh sayang alam yang indah dan kejayaan masa lampau akan menjadi cerita tidur anak cucu kita, bila ini dibiarkan dan tidak dijaga. Sesampai kami di dermaga kampung, kyai Mus membawa hasi tangkapannya ke pengepul, 3 hari hasil tangkapannya yang dikumpukan digubuknya hanya menghasilkan uang 300 ribu rupiah, apakah mencukupi untuk menghidupi keluarganya. (Heng)