Perusuh 22 Mei Diancam Pasal Berlapis

8
Massa melakukan penyerangan terhadap polisi saat terjadi kerusuhan di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta, Rabu (22/5/2019). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/hp.

PENGADILAN Negeri Jakarta Barat menggelar sidang perdana atas kasus kerusuhan 22 Mei. Dari total 21 berkas perkara, setidaknya 18 perkara dengan 84 terdakwa menjalani persidangan, Selasa (13/8).

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU), para terdakwa didakwa melakukan kerusuhan di Jalan Brigjen Katamso Slipi, Jakarta Barat pada 22 Mei lalu.

Salah satu JPU Anggia Yusran membacakan dakwaan dengan nomor perkara 1273/PID.B/2019/PN JKT.BRT. Yakni dengan terdakwa Jamaludin Alias Jamal, Muhamad Wahyudin, Raden Umar Burhanudin, dan Muhammad Karim.

Anggia menjelaskan, para terdakwa yang berasal dari Cianjur pada Selasa, 21 Mei 2019 pukul 22.00 WIB berangkat ke Jakarta dengan menggunakan mobil ambulans Garis dengan terdakwa Muhammad Karim.

“Muhammad Karim sebagai sopirnya menuju ke Jakarta dalam rangka aksi jihad atas kecurangan dan kelicikan pemilu,” kata Anggia, Selasa (13/8).

Kala itu, di Jalan KS Tubun Petamburan Jakarta Barat melihat massa telah mengamuk dengan menyerang polisi dengan batu petasan dan bambu runcing. Para terdakwa pun turut bergabung hingga ditangkap oleh pihak kepolisian.

Sementara itu, di ruang berbeda Jaksa penuntut umum (JPU), Kurniawan, mendakwa Imam Slamet, Makmuril Husni, Supriyanto, Ahmad Supriyanto, dan Taufiq Hidayat.

Kurniawan menjelaskan, mereka dan massa yang lainnya sebelumnya berunjuk rasa di Kantor Bawaslu. Setelah itu, bergerak ke Petamburan tepat di depan kantor Mako Brimob untuk melakukan pengrusakan dan pembakaran mobil-mobil yang terparkir di halaman asrama Brimob.

Saat itu, Kabagops Polres Metro Jakarta Barat mengimbau para pengunjuk rasa membubarkan diri, dan tidak melawan petugas. Itu disampaikan menggunakan alat pengeras suara.

Namun, imbauan itu tak diindakan. Petugas pun terpaksa melemparkan gas air mata untuk membubarkan terdakwa dan massa lainnya.

“Terdakwa tetap melakukan pelemparan batu, kayu, panah beracun, dan bom molotov, sehingga saat itu polisi melakukan penindakan,” ucap dia.

Selain itu, Kurniawan menjelaskan, perbuatan pengunjuk rasa mengakibatkan wilayah asrama Polri di Petamburan dan sekitarnya terisolir.

“Sehingga yang bisa masuk dan yang berada di lokasi hanyalah kelompok massa yang ikut dalam kerusuhan yaitu mereka terdakwa dan massa pengunjuk rasa lainnya,” tutup dia.

Atas tindakan itu, para terdakwa dijerat tujuh yakni Pasal 211, 212, 187, atau 218 juncto Pasal 55 KUHP. Selanjutnya Pasal 214, 170, atau 358 KUHP.