oleh

Proyek Rehab 9 SDN Satker PIP Cipta Karya Lampung, Berpotensi ‘Merugikan Negara’

Caption: Kondisi pengerjaan proyek rehabilitas SDN 2 Pekon Bumi Arum dan SDN1 Sinar Baru, Kecamatan Sukoharjo, pasangan bata dna adukan semen tidak sesuai RAB.
Caption: Besi 10 banci yang digunakan rekanan untuk mengecor tiang penyangga gedung sekolah.

BANDARLAMPUNG – Pelaksanaan proyek rehabilitasi renovasi sarana prasarana 9 gedung SDN di Pringsewu, Tanggamus dan Pesawaran, yang dikelola Satker Pembangunan Infrastruktur Pemukiman (PI) Cipat Karya, Provinsi Lampung, yang dinilai tidak sesuai ketentuan teknis berpotensi merugikan negara.

Terlebih, penggunaan material proyek yang dikerjakan dikerjakan PT Dian Cipta Indonesia (DCI) ini tidak mengacu pada RAB.
“Jika benar proyek ini dikerjkan dengan tidak mengacu pada ketentuan teknis, maka sangat berpotensi merugikan negara,” tegas Direktur Sentral Investigasi Korupsi Akuntabilitas dan HAM (SIKK-HAM) Lampung H Marta, DN, saat dihubungi via telepon, Kamis (3/10).

Untuk itu, kata Marta,aparat penegak hukum untuk segera melakukan langkah-langkah hukum sebelum terjadinya pelanggaran.
“Penegak hukum harus segera bertindak. Apalagi potensi kerugian negara sangat kuat, mengingat nilai proyek ini sangat besar,” tegasnya.

Baca Juga :  Waspada, Buaya Muncul di Sungai Kotaagung

Diberitakan sebelumnya, proyek rehabilitasi renovasi sarana prasarana 9 gedung SDN di Pringsewu, Tanggamus dan Pesawaran yang dikerjakan PT Dian Cipta Indonesia (DCI) ‘Amburadul’.
Bahkan, diduga pelaksanaan proyek yang dkelola Satker Pembangunan Infrastruktur Pemukiman (PI) Cipat Karya, Provinsi Lampung senilai Rp14 miliar itu tidak sesuai dengan RAB.

Tercatat ada 9 gedung sekolah yang direhab yakni, SDN 2 Punduh Pidada, SDN 8 Punduh Pidada, SDN 16 Negeri Katon, SDN 39 Negeri Katon, SDN 1 Sinar Baru, SDN 2 Bumi Arum, SDN 1 Gunung Tiga, SDN 1 Tanjung Begelung dan SDN Padang Manis.
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, renovasi sarana prasarana SDN 2 Pekon Bumi Arum dan SDN1 Sinar Baru, Kecamatan Sukoharjo, tidak sesuai ketentuan teknis.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Meninggal 64 Orang

Selain adukan semen yang diduga tidak sesuai ketentuan, juga pemasangan pondasi tidak melaui proses penggalian bahkan pasangan batu pada pondasi tidak diberi hamparan pasir. Kondisi itu berpotensi terjadi amblas.

“Saya sih hanya melihat aja,” ujar warga setempat JM, saat dimintai keterangan terkait proses reahalitasi sekolah tersebut, belum lama ini.
Selain itu, di dua tempat berbeda pihak rekanan hanya mengunakan besi 10 banci untuk cor tiang dan slup penjaga tiang.

Terkait spesifikasi komponen bangunan bangunan gedung negara berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Nomor 22 Tahu 2018, penyedia jasa konstruksi sesuai dengan spesifikasi komponen bangunan gedung negara diuraikan dalam struktur kolom praktis dan balok pasang bata.

Yang mana, adukan pasangan bata yang digunakan sekurang-kurangnya harus mempunyai kekuatan yang sama dengan perbandingan semen dan pasir harus menggunakan, satu banding tiga.
Terpisah, Edi pelaksanaan PT Dian Citra Indonesia saat dikonfirmasi via telepon seluler mengatakan, pihak sudah mengerjakan sesuai dengan petunjuk dan keterangan dari gambar.
“Untuk pengguna kolom besi 6 MM, besi 8 MM, dan besi 12 MM. Tidak ada pengurangan volume,” kilahnya.

Baca Juga :  Posting Tak Wajar, Akun Facebook Milik Kades Sidomulyo Mesuji Diduga Diretas

Ia juga menambahkan, penggalian tanah untuk pondasi pun sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur gambar.
“Adapun temuan teman-teman media, saya akan melakukan kordinasi terlebih dahulu dengan kepala tukang, soalnya untuk Pringsewu ada dua tempat, di SD 01 Pekon Sinar Baru dan SD 02 Pekon Bumi Arum,” tutupnya. (Her/JJ).

Tulis Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed