Dugaan Penyimpangan Proyek Rawat Inap Kelas III RSUD Pringsewu, Kejari Terbitkan Sprindik

0
1

PRINGSEWU –Dugaan korupsi pada pelaksanaan proyek pembangunan Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) ruang rawat inap kelas III Pringsewu memasuki babak baru.

Meski sempat mandek, akhirnya proses hukum terkait proyek senilai Rp3,9 miliar dari APBD Pringsewu 2012 tersebut sudah memasuki pada proses terbitnya surat perintah penyidikan (Sprindik) dari Kejari Pringsewu.

“Betul Sprindik itu sudah dikeluarkan, upaya penyidik mengumpulkan alat bukti guna menemukan tersangka, karena sesuai dengan perintah KUHAP,” ungkap Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pringsewu Asep Sontani Sunarya, Jumat (29/11).

Ditegaskan Kajari, untuk mengetahui berapa besaran kerugian pembangunan RSUD, pihaknya masih menunggu hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai alat bukti untuk menetapkan siapa saja yang menjadi tersangka.

“Saat ini masih menunggu hasil dari ahli (BPKP) untuk mengetahui berapa jumlah kerugian negara,” ungkapnya lagi.
Soal nama-nama oknum yang terlibat, Kajari belum bisa untuk menetapkan tersangka.

“Sabar lah ya, nunggu hasil audit BPKP, kalau hasilnya sudah jelas pasti kita akan melakukan konprensi Pers untuk pengumuman tersangka,” katanya.

Terpisah, saat dikonfirmasi di gedung DPRD Pringsewu, Jumat (29/11) Kasi Pidsus Kejari Pringsewu Leonardo Adiguna juga mengatakan, pihaknya tidak butuh waktu lama lagi untuk mengungkap kasus ini.

“Menunggu hasil audit BPKP, terkait berapa jumlah kerugian uang negara pembangunan gedung kelas III tersebut,” ucap Leonardo.
Dia menjelaskan, Pembangunan gedung rawat inap kelas III RSUD Pringsewu dikerjakan pada tahun 2012 dengan anggaran sebesar Rp.3,9 miliar.

“Bangunan tersebut sempat disidak Komisi III DPRD karena banyak bangunan yang rusak,” tandasnya. (Her/JJ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here