oleh

Aku Corona, Kalian Siapa? “Aku Abate, Bubuk Anti Jentik yang Terlupakan

Oleh: Ilwadi Perkasa

“Aku Masker, pelindung manusia dari serangan mu itu.Terima kasih telah memberi kesempatan untuk tampil menjadi barang yang sangat terkenal. Aku suka mendompleng nama besar kamu. Mas Cor hebat, kini paling terkenal di dunia, juga di tempat saya, Indonesia. Mas Cor, masih akan terus bocor kan,” ujar Masker dengan suara seperti berbisik,

“Lalu, kamu ini siapa?” tanya Corona kepada sesuatu yang ada di samping Masker.

“Aku Abate. Wujud aku bisa bubuk, bisa juga cair.Aku paling jago membasmi jentik nyamuk,”jawab Abate memperkenalkan diri.

“Kemana saja, kamu, kok sekarang jarang kelihatan,” selidik Corona dengan nada suara terkesan merendahkan. “Kamu itu dulu kan sangat terkenal sekali, bahkan saking terkenalnya, kamu yang sebenarnya gratis, bisa diperjualbelikan oknum.”

Dicemooh begitu, Abate jadi tersipu. Dia tak suka dengan kalimat yang merendahkan dirinya itu, “Aku masif aktif kok Mas Cor. Hanya saja, sekarang ini aku belum dikeluarkan, masih di gudang penyimpanan. Masker juga ada di sana, di kantor dinas kesehatan. Kalau ada yang minta, pasti saya diberikan, tidak seperti Masker yang harus tersimpan hieginis. Masker tuh sekarang sombong, susah didapat dan harganya mahal sekali. Coba deh minta satu, pasti tidak akan diberi,” ujar Abate,

“Bukankah,kamu dibutuhkan, sekarang kan musim penghujan,” kejar Corona penasaran.

“Iya sih,harusnya gitu, tapi ini semua gara-gara kamu juga. .Serangan Mas Cor terlalu kencang, hingga cepat menyebar ke sini. Andai Mas Cor tak berulah, aku dan jutaan teman-teman ku pasti dibagi-dibagikan kepada banyak orang. DBD masih menjadi penyakit yang mengancam dan mematikan lho Mas Cor di sini.”

Abate menceritakan, soal bahaya DBD sempat menjadi tema pidato seorang pejabat, beberapa hari lalu dalam apel pagi di tanah lapang. Abate kesal, karena namanya sama sekali tak disebut-sebut. “Pejabat itu cuma ngomong soal bahaya DBD dan mengajak masyarakat melakukan upaya pencegahan.”

Abate juga menceritakan jika sekarang ini dirinya tak dibutuhkan manusia. Meski ampuh membunuh jentik, Abate tidak pernah diburu, diantre, bahkan kalau pun dibagi gratis, jarang ditaburkan ke dalam gentong, bak mandi atau pun sumur. “Aku kini disepelekan. Aku sedih, aku galau. Aku seperti kehilangan masa depan.”

Mendengar hal itu, Corona dan Masker tertawa terbahak-bahak. “Itu semua karena wujudmu itu. “Kamu itu bubuk,warna mu kusam, bikin air keruh, mungkin itu sebabnya kamu jarang digunakan. Tidak seperti Masker, keren, warnanya juga oke,” kata Corona terkekeh-kekeh.

Masker menimpali, “Harusnya kondisi itu disyukuri, bukankah itu sebagai tanda kemajuan, bahwa manusia sudah lebih cerdas, rajin menguras, menutup dan mengubur semua wadah air. Apa kamu mau ditaburkan ke dalam comberan.”

Mendengar itu, muka Abate menjadi masam. “Ya tidak juga Ker, Itu sama saja dengan pemborosan, buang-buang anggaran. Tapi maksud aku gini lho, ngapain sih pos anggaran untuk aku masih saja diperhitungkan, Dari pada aku busuk di gudang, kan lebih baik anggarannya digunakan untuk kampanye 3M yang jauh lebih sukses. Anggaran untuk pengadaan aku lumayan gede lho Ker,” aku Abate.

Masker yang kini tengah naik daun, tertawa terbahak-bahak. “Kamu ini lebay. biasa aja keles. Soal pengadaan itu biarlah menjadi urusan manusia.” katanya.

“Aku sebenarnya juga heran, kok manusia memburu aku, padahal aku setelah diperoleh cuma dipakai untuk menutupi mulut dan hidung,” jawab Masker.

“Aku ini dibuat bukan untuk mengobati, tapi untuk orang sakit dan untuk tenaga medis yang merawat pasien terinfeksi penyakit menular. Manusia dungu terus saja memburu aku dan menimbun diriku di gudang-gudang. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan, juga kejahatan pada diri ku pribadi.Nama ku cemar karena ulah manusia rakus yang menimbun lalu menjual diriku dengan harga tinggi.”

Mendengar itu Corona terdiam. Dia tampak sedih sekali. Dengan suara seperti desis ular, ia berkata, “Aku tak pernah berniat menginfeksi manusia. Jauh dari lubuk hati yang dalam, aku ingin kita semua baik-baik saja. Aku ingin penyebaran diri ku dapat segera berhenti. Tapi aku tak tahu caranya! Manusia terus saja mengundang diriku. Aku sedih, aku galau.”

Sambil menundukkan kepala, Corona lalu berkata, “Maafkankan aku atas semua kekalutan di muka bumi ini. Semoga manusia bisa mengatasi diriku dengan cepat. Pesan ku, rajin-rajinlah membasuh tangan. Mandilah, berwudhulah, dan mohon perlindungan padaNya.”

 

.

 

Tulis Komentar

News Feed