oleh

Lomba Tik Tok Video Challange di Perayaan HUT Tanggamus Ke-23, Relevankah?

Oleh: : Nur Ihsanuddin*

KITA tahu bahwa Tanggamus merupakan salah satu kabupaten yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, selain memiliki objek wisata dan keindahan alam yang melimpah. Terbukti dengan banyaknya destinasi wisata yang terkenal, seperti Air Terjun Way Lalaan, Air Terjun Lembah Pelangi , Pantai Gigi Hiu dan masih banyak lainya.

Dan tak terasa kabupaten ini telah berusia 23 tahun dengan banyak kemajuan yang telah dicapai dari berbagai sektor, baik pembangunan, pendidikan dan lainnya.

Namun ada sebuah keanehan bagi saya dalam perayaan HUT Tanggamus yang ke 23, seperti yang diagendakan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Tanggamus, yakni lomba video Tik Tok.

Hal ini sangat disayangkan, sebab saya tidak tahu apa tujuan dibalik dari perlombaan itu. Jika memang hanya untuk memeriahkan Hut Tanggamus, sepertinya masih banyak kegiatan atau bentuk lomba yang lebih menarik dan mempunyai banyak manfaat.

Memang di zaman yang sudah modern dan serba internet ini perkembangan aplikasi Tik Tok selama lebih 2 tahun terahir kian menjamur ke berbagai elemen, baik anak-anak bahkan sampai yang sudah tua sekalipun menjadi pengguna dari aplikasi ini.

Hari ini banyak industri dan juga perorangan yang berlomba-lomba untuk menciptakan hal yang baru, dalam hal ini adalah Aplikasi. Hampir semua kebutuhan hidup kita hari ini dari makan, transpotasi, pakaian, dan banyak kegiatan sehari-hari sudah tersedia diaplikasi dan internet. Bahkan saya mengandaikan bahwa Aplikasi adalah miniatur dunia yang segalanya sudah tersedia di dalamnya.

Bahkan hari ini, untuk urusan jodoh pun disiapkan dan disajikan oleh Aplikasi. Bisa dibayangkan 10 sampai 20 tahun mendatang, mungkin surga dan neraka pun disiapkan oleh aplikasi.

Tik Tok sendiri merupakan salah satu aplikasi hiburan yang pas untuk mengisi waktu jenuh dan sangat pas untuk menghibur diri dengan berbagai ekspresi yang menyesuaikan dengan lagu yang sudah disajikan.

Kembali ke kabupaten tercinta kita, dari penjelasan di atas, mungkin kita sudah sama-sama tahu dan paham bahwa di zaman yang sudah serba internet ini banyak hal yang bisa kita lakukan dengan hanya bermodalkan kuota dan jaringan.

Namun semuanya dikembalikan ke individu masing-masing, apa, untuk apa dan bagaimana dalam menggunakan aplikasi tersebut.

Berdasarkan Peraturan Daerah No. 06 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Kabupaten Tanggamus yang terakhir kali diubah dengan Peraturan Daerah No. 05 Tahun 2013, tugas pokok dan fungsi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Tanggamus adalah melaksanakan urusan pemerintah Kabupaten di bidang Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

Berangkat dari peraturan d iatas, sekarang kita kaji jika salah satu perayaan HUT Tanggamus adalah lomba video Tik Tok, dan dalam hal ini diadakan oleh Disparbudpora.

Sungguh tidak masuk akal untuk apa perlombaan Tik Tok diadakan. Jika memang ingin mengadakan lomba yang berbasis internet ataupun aplikasi, banyak hal lebih positif yang bisa dilombakan, seperti lomba photografi yang bertujuan untuk mengekspos wisata-wisata di Tanggamus yang belum terkenal dan diupload ke akun Instagram atau akun messos lainya.

Bisa juga mengadakan lomba Vlog Youtube perjalanan yang bertujan sama seperti lomba Photografi yang saya jelaskan di atas.

Menurut saya lomba-lomba tersebut sangat relevan dengan generasi milenial di era industri 4.0 ini. Atau mungkin pihak pemerintah bisa memunculkan inovasi lomba yang lebih menarik dan bermanfaat, bukan lomba atau challange Tik Tok yang banyak memerkan ekspresi dan goyangan-goyangan yang aneh-aneh dan bahkan tidak lazim.

Jika kita masih ingat pada tahun 2018 lalu aplikasi Tik Tok pernah diblokir oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), hal ini dilakukan sebab Kominfo menilai dan mempertimbangkan aplikasi ini memiliki banyak dampak negatif bagi penggunanya, khususnya anak-anak dan remaja.

Berangkat dari hal tersebut maka pada Selasa malam (3/7/2018) Kominfo memblokir aplikasi Tik Tok. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun pernah menjelaskan dan menerangkan bahaya serta dampak negatif dari aplikasi ini bagi anak-anak. Meskipun aplikasi ini dirasa memiliki dampak positif juga bagi penggunanya.

Seperti diketahui, 70 persen pengguna Tik Tok berusia antara 16 hingga 24 tahun, berarti dalam hal ini hanya 30 persen pengguna Tik Tik di atas 25 tahun ketas (kompasiana.com, 2 Februari 2020).

Maka dari data di atas bisa simpulkan bahwa mayoritas peserta lomba Tik Tok yang diadakan oleh Disparbudpora diikuti oleh pengguna berusia usia 25 tahun ke bawah.

Seharusnya pemerintah bisa menimbang dan bisa lebih bijaksana mempertimbangan kembali lomba ini. Pertanyaan besarnya adalah untuk apa perlombaan ini diadakan? Apakah tidak ada gagasan lain yang lebih bermanfaat?

*Penulis tinggal di Tanggamus)

Tulis Komentar

News Feed