oleh

Patetica Tragedia in Italia: Ribuan Orang Terpapar Menunggu Kematiannya

Haluanlampung.com – Situasi di Italia sungguh menyedihkan. Ribuan orang yang berada di ruang isolasi yang sepi seperti tengah menunggu kematiannya.

Dan, sama dengan orang-orang yang lebih dahulu menghadap Tuhannya, ribuan orang yang terpapar Covid-19 di negara ini tidak akan mungkin dapat menyampaikan kata perpisahan terakhir untuk orang-orang yang dicintainya.

Bahkan, virus corona di Italia telah merampas tradisi upacara pemakaman keluarga yang biasanya ramai diikuti sanak kerabat dan sahabat karena aturan melarang siapa pun untuk mendekat.

Larangan kunjungan sangat dilarang karena risiko penularan terlalu tinggi. Otoritas kesehatan Italia menyatakan virus tidak dapat menular dari jenazah, tapi ini jelas sulit dipercaya karena keterangan lain menyatakan virus dapat bertahan di pakaian untuk beberapa jam. Artinya, jenazah harus langsung dibungkus sesegera mungkin.

Seorang pengurus jenazah di Cremona mengungkapkan, banyak keluarga bertanya dapatkah mereka melihat jenazah untuk terakhir kalinya. “Tapi itu pun dilarang.”

Dalam situasi normal, pihak keluarga berkesempatan merias wajah dan memakaikan pakaian kesayangan kepada saudaranya yang meninggal sebelum dimakamkan. Kini, jenazah yang berwajah pucat langsung dimasukkan ke dalam peti mati dengan pakaian rumah sakit yang terakhir dipakainya.

Sedih sekali membayangkan, banyak kerabat jenazah yang mengirimkan pakaian sebagai penghormatan terakhir, namun pakaian itu sesungguhnya tidak dipakaikan. Dan untunglah, hal ini banyak tidak diketahui pihak keluarga.

“Kami hanya bisa menyimpan pakaian itu dan berharap pihak keluarga membayangkan kerabatnya yang meninggal itu telah menggunakannya. Kami mengurus semuanya. Cukup kami saja yang mewakili keluarga, pengganti teman. Kami pun kini jadi pengganti pendeta,” ujar pengurus jenazah di Cremona.

Dan astaga! Pengurus jenazah itu bahkan mengungkapkan, bahwa mereka terpaksa mengirim foto peti jenazah yang sebenarnya kosong, sebelum mereka menjemput jenazah untuk dikebumikan atau dikremasi.

Mayat-mayat dikubur tanpa dirias, bahkan menyisir rambut pun dilarang. Wajah mayat dibiarkan tetap pucat hingga dimakamkan dalam kesunyiaan yang menyedihkan.halnya ayahnya.

Jangan pernah berharap satu usapan apalagi kecupan di pipi atau kening, bahkan untuk dapat menemui pengurus jenazah pun tak akan diizinkan. Jika memaksa, hal maksimal yang bisa dilakukan hanyalah berbicara dari balik daun pintu tertutup. Inilah satu-satunya kemewahan yang terus diusahakan pihak keluarga.

Pemandangan yang menyayat hati terjadi setiap saat, terutama di daerah Bergamo yang tingkat kematiannya paling tinggi. Gereja-gereja di sana dipenuhi peti mati, menunggu diisi. Di sisi lain, semua pemakaman kota telah penuh. Tak ada pilihan lain semua jenazah tersebut harus dikremasi.(iwa)

(Sumber: BBC Indonesia)

Tulis Komentar

News Feed