oleh

Catatan Abdul Madjid: Ikhlas Melepaskan

-Opini-155 views

DI SUATU hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.

Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana. Karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu.

Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap gagal. Padahal, sebelumnya seekor monyet tua telah menasihati monyet muda itu: “Lepaskanlah tanganmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!” Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut.

Tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang-kacang itu. Tak lama kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya lagi: “Lepaskanlah kacang-kacang itu sekarang juga agar engkau bebas!” Walaupun monyet muda ketakutan. Tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh pemburu.

Demikianlah makna simbol dan kiasan kehidupan ini. Kadang Anda juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya Anda lepaskan dalam kehidupan ini. Mencengkram dan mengepal seperti : kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, kekecewaan dan lain-lain. Anda tetap tak bersedia melepaskannya. Namun semuanya terlambat. Karena kematian akhirnya “menangkap” Anda.

Bila Anda renungkan, bukankah lebih mudah jika Anda mau melepaskan setiap masa yang lampau yang buruk, lalu menatap hari esok dengan lebih cerah?

*Penulis adalah Wartawan Senior

Tinggal di Bandarjaya, Lampung Tengah

Tulis Komentar

News Feed