oleh

New Normal: Untuk Siapa?

-Opini-308 views

Oleh: Iwa Perkasa

DI TENGAH masih terus meningkatnya orang terpapar virus corona, pemerintah justru menelurkan kebijakan new normal, yakni sebuah opsi berbasis politik ekonomi yang oleh sebagian pihak dikatakan untuk menyelamatkan makro perekonomian nasional yang terpuruk dan menghentikan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terus meruyak.

 

Diksi New Normal diambil dari bahasa asing (Inggris) dimana jika dimaknai secara sederhana berarti (kehidupan) normal baru. Diksi ini bisa dimaknai beragam, tergantung tingkat pengetahuan dan tingkat ekonomi masyarakat pada saat sebelum virus corona menyebar.

Pemahaman masyarakat di pedesaan, petani, nelayan, kelompok buruh (menengah ke bawah) tentang new normal bisa menjadi berbeda dengan pemahaman masyarakat di perkotaan dan kelompok menengah atas.

Dan secara ekonomi, pemahaman new normal tidaklah bisa diartikan sebagai kenormalan baru yang membahagiakan. Sebab new normal, dalam konteks ini pasti tidak sepenuhnya membuat hidup normal seperti sediakala.

Kecemasan masih tetap ada. Cemas takut tertular serta cemas-cemas lainnya yang dipicu oleh terlanjur memburuknya ekonomi masyarakat yang disebabkan banyak hal, seperti rendahnya daya beli masyarakat, PHK, dan lain sebagainya.

Sangat disayangkan, diskusi tentang (hidup) new normal tidak banyak melibatkan para ahli di bidang kesehatan masyarakat. Maka tak heran bila kebijakan ini lebih ditujukan untuk menyelamatkan perekonomian (dunia usaha) ketimbang untuk mencegah terus meningkatnya penularan virus corona yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya.

New normal adalah turunan dari diksi berdamai/berdampingan dengan virus corona yang diwacanakan sebelumnya, lalu berubah menjadi new normal yang multi tafsir.

New normal bagi korban PHK atau pemilik warung tenda, atau karyawan swasta yang dipotong gajinya, tidak lantas membuat hidup mereka menjadi normal. Apalagi bagi kelompok kecil masyarakat yang seumur-umur tidak pernah bisa hidup normal.

Masyarakat perlu disadarkan bahwa new normal berarti tidak bisa berperilaku sama seperti dulu lagi. Untuk itu perlu edukasi yang intens oleh semua pihak dengan tetap mengutamakan isu pencegahan dan terus memperkuat terapan protokol kesehatan di lapangan.

New normal harus memenangkan semua pihak, bukan hanya untuk menyehatkan dunia usaha, tetapi harus tetap menjaga kesehatan masyarakat dan memperbaiki fundamental ekonomi kelompok masyarakat menengah bawah.(***)

Tulis Komentar

News Feed