oleh

Mengintip Pengrajin Siger Lampung di Tengah Pendemi

-KOTA-11 views

BANDARLAMPUNG – Sigokh atau Siger adalah mahkota pengantin wanita Lampung yang berbentuk segitiga dan merupakan simbol khas tradisi Lampung.
Siger dibuat dari lempengan tembaga, kuningan atau logam lain yang dicat dengan warna emas.
Siger biasanya digunakan oleh pengantin perempuan suku Lampung pada acara pernikahan atau pun acara adat budaya lainnya.

Pada zaman dahulu, Siger dibuat dari emas asli dan dipakai oleh wanita Lampung tidak hanya sebagai mahkota pengantin, melainkan sebagai benda perhiasan yang dipakai sehari-hari.
Lisnawati (49) dan Agus Susanto (50) adalah pasangan suami istri yang menggeluti usaha kerajinan pembuatan mahkota pengantin Lampung tersebut, dan keduanya mulai serius meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya pada tahun 2011, meneruskan melanjutkan usaha yang dirintis oleh orang tua Lisnawati sejak tahun 1980.

Saat menyambangi kediaman pasangan suami istri ini, di Jl Adi Sucipto Gang Santosa 2 No. 105 Bandarlampung tampak pasangan sedang mengerjakan pesanan Siger yang akan dipasarkan oleh beberapa toko di Bandarlampung.

Lisnawati mengaku dirinya mendapatkan keahlian membuat Siger Lampung dari orang tuanya yang memang sudah membuatnya sejak tahun 1980.
“Awalnya sejak kecil saya saya sudah membantu orang tua yang memang membuat usaha ini sejak 1980, tapi kalau saya dan suami baru tahun 2011 mulai serius menggeluti usaha ini sejak pulang merantau dari Jawa Timur,” ujarnya pula.

Baca Juga :  Maklumat Polri Dicabut, Pemprov Lampung Siapkan Pergub

Lisna mengaku, Siger Lampung buatannya sudah pernah terkirim di dalam negeri dan beberapa negara tetangga. Bahkan, saat pertukaran mahasiswa di salah satu kampus di Lampung, dirinya dan suami mendapatkan orderan untuk diberikan kepada mahasiswa asal luar negeri.

“Kalau yang pesan Siger Lampung banyak juga dari dalam negeri, ada juga dari Malaysia, Thailand, Singapura, dan sampai Kroasia. Waktu pertukaran mahasiswa juga siger buatan kami yang diberikan kapada mahasiswa asal luar negeri itu,” katanya lagi.

Lisna menjelaskan, seiring berkembangnya usaha mereka, saat ini tak hanya menerima orderan Siger Lampung. Mereka juga menerima orderan mahkota dan aksesoris pakaian adat, dan mahkota seluruh nusantara, seperti Bali, Kalimantan, Palembang, Jawa Barat, Padang, dan provinsi lainnya di Indonesia.
“Saat ini, kami tidak hanya membuat Siger Lampung, ya karena banyaknya permintaan dari luar provinsi, maka kami juga melayani pembuat siger dan mahkota dari seluruh nusantara,” ujar dia.
Lisnawati juga mengaku pernah mendapatkan orderan dari fotografer keluarga pejabat negara ini yang memesan mahkota untuk cucunya. “Alhamdullilah, cucu dari salah seorang pejabat negara juga ada yang pesan, memang pesannya melalui fotografernya, sayangnya fotonya tidak boleh diminta,” katanya pula.

Baca Juga :  "Bantuan Penanganan Covid-19" Kejati Monitoring Indikasi Korupsi Oknum Biro Kesra

Masalah harga, Lisnawati mengaku menjual satu set Siger Lampung dari harga Rp900 ribu hingga Rp1 juta, sementara untuk harga pesanan dari daerah lain di nusantara tergantung dari tingkat kesulitan pesanan tersebut. Sedang untuk bahan baku pembuatan siger dan mahkota, Lis mengaku belanja dari ibu kota Jakarta, karena perbandingan harga belanja di Jakarta dan Lampung sangat jauh.

“Dulu belanjanya di Bandarlampung, dan biaya produksi tidak tertutupi, lalu suami mulai mencari bahan di Jakarta, dan harganya memang jauh sekali, dulu bisa belanja seminggu dua kali di Jakarta, tapi sekarang karena anak saya ada yang di Jakarta, jadi anak saya yang belanja di sana,” katanya lagi.

Baca Juga :  Kemendikbud Dorong Kepsek Gunakan BOS Sesuai Prioritas

Omzet bisnis ini, Agus, sang suami menjelaskan, sebelum masa pandemi COVID-19, usahanya ini mampu meraup omzet Rp15 juta sampai Rp20 juta per bulannya, namun sejak COVID-19 ini usahanya mulai lesu, dan hanya beromzet Rp4 juta per bulannya.

“Sebelum Corona omzet per bulan bisa Rp20 juta, dan waktu pas Corona itu bisa Rp5 juta aja sudah syukur alhamdulillah,” katanya pula. Saat ini, sambung Agus, memasuki normal baru ini, kami berharap semua dapat berjalan seperti biasa kembali, termasuk sektor ekonomi.

“Semoga semuanya cepat kembali normal, dan berjalan seperti sebelumnya, agar kehidupan dan perekonomian kita bisa kembali bangkit,” katanya pula. (tara/JJ)

Tulis Komentar

News Feed