oleh

Hati-Hati! Diet Ketat Pada Anak Perempuan Ganggu Organ Reproduksi

-NASIONAL-47 views

Haluanlampung.com – Perkembangan anak usia remaja adalah perkembangan remaja yang mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan etika dan moral kesopanan yang berlaku di masyarakat. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak dan berlangsung biasanya antara umur 12–21 tahun bagi wanita dan 13-22 tahun bagi pria. Masa peralihan ini merupakan masa dimana anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya.

Dalam masa perkembangan fisiknya, orang tua sangat memegang peranan penting untuk menjelaskan berbagai hal kepada anak mereka yang remaja salah satunya mengenai organ reproduksi dan bagaimana menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan organ reproduksi.

Menurut Kepala BKKBN, dr.Hasto Wardoyo, Sp.,OG(K) menyampaikan bagaimana pentingnya kita sadar akan kesehatan reproduksi khususnya bagi para remaja karena pengetahuan akan kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja, banyak orang-orang yang masih tabu membicarakannya karena masih mengira itu mempelajari pendidikan tentang seks. Padahal, banyak sekali ilmu-ilmu mengenai kesehatan reproduksi yang perlu dikawal sejak anak-anak.

Hasto menjelaskan salah satu contohnya “Ketika kita remaja banyak anak perempuan yang sudah tertarik dengan lawan jenis dan tidak jarang mereka berdiet agar tubuhnya langsing, olahraga berlebihan, stress berlebihan. Padahal hal tersebut dapat menggangu organ reproduksinya, karena perempuan mengandalkan lemak yang dipakai sebagai sumber hormon estrogen sehingga bisa menjadi perempuan yang subur, baik dan menghasilkan generasi unggul dimasa depan. Terdapat pula gangguan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) yaitu gangguan hormon yang terjadi pada perempuan, hal tersebut dapat menyebabkan anovulasi yaitu dimana kondisi sel telur yang banyak tetapi kecil-kecil dan tidak ada yang bisa menetas atau tidak dilepaskan oleh indung telur (ovarium), hal ini juga bisa menyebabkan perempuan tidak dapat menstruasi dan kelebihan hormon androgen yang menyebabkan tumbuhnya rambut dimana-dimana, banyak berjerawat. Selain itu, walaupun remaja perempuan sudah mengalami menstruasi akan tetapi belum siap untuk reproduksi, karena dengan menstruasi maka fisiknya saja yang tumbuh mulai dari payudara membesar, rambut kemaluan dan ketiak menumbuh, rahim berkembang, tulang masih memanjang” jelas Hasto pada kegiatan Webinar Kesehatan Reproduksi Anak Remaja Raih Peluang Bonus Demografi melalui media daring Zoom ,(21/07/2020).

Baca Juga :  Guru Diminta Prioritaskan Materi Esensial di Masa Pandemi

Hasto melanjutkan “Organ reproduksi perempuan sangat rentan dibandingkan dengan laki-laki karena mulai dari vagina, rahim sampai ke tuba faloppi merupakan saluran yang saling berhubungan dan tidak bersekat sama sekali sampai menuju ke rongga perut, kalau ada bakteri dari luar vagina yang masuk, maka akan terus bisa masuk sampai ke rongga perut yang menyebabkan infeksi yang serius. Hal tersebut pun yang menyebabkan tidak bolehnya berhubungan seksual pada saat menstruasi karena, darah dari menstruasi keluar dari rongga rahim dan jika belum bersih maka darah menstruasi bisa terdorong sampai ke rongga perut dan menyebabkan bakteri masuk dan infeksi didalam perut atau menimbulkan penyakit” terangnya.

Baca Juga :  Bansos BST Kemensos Rp300 Ribu Cair Agustus Ini, Tungguin Aja...

Selain berkembang secara fisik, masa remaja juga mengalami perkembangan psikis. Pada masa remaja ini rencana kehidupan sedang dirancang walaupun tumbuh secara fisik tapi psikis masih pada tahap perkembangan, fungsi otak untuk berpikir dan mengambil keputusan masih membutuhkan pendampingan.

Psikolog Alzena Masykouri, S.Psi., M.Psi menuturkan bahwa “Pada masa remaja merupakan masa dimana untuk membentuk kepribadian dan identitas diri, seorang remaja mau dikenal sebagai apa dan seperti apa. Karena terdapat unsur hormon yang masih berkembang, remaja akan mengalami kesulitan untuk mengelola emosi mereka, salah satu cara untuk dapat mengelola emosi ialah dengan latihan fisik karena sangat penting untuk bergerak agar fungsi otak dan tubuh bisa optimal. Peranan orang tua pun sangatlah penting, orang tua harus mencari pengetahuan seluas-luasnya untuk memahami remaja” ungkap Alzena.

Alzena pun menjelaskan keluarga merupakan sebagai pusat informasi remaja, hal-hal yang tidak diketahui remaja bisa diberikan oleh orang tua. Pengetahuan akan selalu berkembang, maka orang tua harus selalu aktif, jangan sampai enggan untuk berkomunikasi dengan anak yang masih remaja atau anak yang tidak mau berkomunikasi dengan orang tua. Orang tua dapat mengawasi dan membimbing anaknya untuk berlatih menyelesaikan tantangannya agar mereka tau bagaimana caranya dan jangan menggurui lalu orang tua mengajarkan anak remaja mereka untuk bertanggung jawab menjaga tubuh sendiri. Karena keluarga menjadi tempat remaja untuk pulang dan kembali mau mereka susah ataupun ada masalah.

Baca Juga :  Sempat Tertunda, SKB CPNS Kemenag Diminta Daftar Ulang

Acara ini disiarkan langsung secara virtual melalui Zoom pada Selasa, 21 Juli 2020 dengan peserta berjumlah 1000 peserta dan lebih dari 5000 peserta Youtube BKKBN Official . Narasumber yang hadir pada acara ini adalah Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Psikolog Alzena Masykouri, S.Psi., M.Psi , Ahli Gizi Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, Plt. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com dan dipandu oleh Melati Gunawan. (*)

Tulis Komentar

News Feed