oleh

Ko Ahan Masih Bebas, Disinyalir Simpan Senjata Api Bela diri

Bandarlampung – Handy Saputra alias Ko Ahan, pelaku aksi penembakan perahu nelayan dengan peluru tajam di Peraian laut Way Ratai, masih berkeliaran dan disinyalir masih memegang senjata api untuk membela diri. Sementara proses hukum dilimpahkan ke Polairud Polda Lampung mak jelas.

Diketahui  intel Polda Lampung sudah menyita enam pucuk senjata api berbagai jenis termasuk laras panjang, serta Krakatau Scooting Club binaan perbakin mencabut izin dan kartu penggunaan, menyimpan dan mimiliki senjata api dari milik ko Ahan. Namun Ko Ahan disinyalir masih memiliki senjata api dengan izin membela diri.

Informasi menyebutkan kasus penembakan itu terjadinya kepada nelayan pancing bernama DI (26), pada tanggal 23 Juli 2020, di sekitar perairan Laut Way Ratai. Korban yang trahuma dan ketakutan baru berani melaporkan kepada pihak kepolisian pada tanggal 28 Agustus 2020 dengan nomor laporan STTLP/B-/1269/VIII/2020/LPG/SPKT Polda Lampung.

“Korban DI ini memancing bersama temannya di sekitar laut Way Ratai. Selang beberapa saat, mereka didatangi oleh orang yang menggunakan speed boat yang diduga itu adalah Ko Ahan dengan membawa senjata api dan mengusir mereka,” kata sumber di Polda Lampung,

Informasinya, Ko Ahan juga memiliki Keramba Jaring Apung di perairan itu. DI dan teman teman yang gugup mendengar letuasan senjataa api, sempat panik,, dan kesulitan menghidupkan mesin kapal motor mereka. “Awalnya penembak tadi menembaki menggunakan pistol ke arah udara dan ke laut,” katanya.

Baca Juga :  Waspada, Penipuan Pengangkatan CPNS Kembali Terjadi

“Selanjutnya karena peluru pistol tadi habis, orang itu (Ahan,red) menembaki lagi menggunakan senjata Laras panjang dari jarak sekitar 3 meter ke arah perahu. Tak lama kemudian mesin perahu mereka hidupkan, DI dan temannya pun pergi meninggalkan lokasi penembakan itu,” katanya.

Terkait proses hukum kasus tersebut dan masih bebas berkeliaran, Direktur Polrairud Polda Lampung belum bisa memberikan belum bisa dimintai keterangan, saat di hubung melalui Hand Phon Dir Pol Airud Kombes Sis Multono aktif namun tidak menjawab.

Sebelumnya Polda Lampung melalui Direktorat Intelkam Polda Lampung telah mengamankan enam pucuk senjata api dari tangan Handi Saputra alias Koh Ahan, yang menembaki nelayan yang sedang mencari ikan sekitar pulau miliknya di Wayratai, Kabupaten Pesawaran, Juli 2020 lalu.

Kasi Admin Direktorat Polda Lampung Kompol Yanto membenarkan, telah mengamankan sebanyak enam senjata api laras panjang dan laras pendek milik Ko ahan salah satu anggota karakatau Shooting Club binaan Perbakin Lampung.

”Ya Kita Sudah mengamankan enam pucuk senjata api miliki ko Ahan untuk digudangkan, dan mencabutk izin memliki, membawa, menyimpan dan menggunakan senajat api,”  kata Yanto saat di hubungi wartawan, Jumat (11/9/2020).

Sementara itu Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pandara saat dihubungi wartawan belum mengatahui adanya kasus penembakan perahu nelayan dengan menggunakan senjata tajam, ia terkesan  tidak tahu.

Baca Juga :  Polres Way Kanan Ringkus Pelaku Penggelapan HP

”Saya belum menerima laporan, coba nanti saya tanyakan dengan Dir Polairud dan Dirintel Polda Lampung,” kata Pandara sembari menutup telpon. Ketika dihubungi kembali Hend Phon Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pandar langsung dimatikan, dan pesan singkat tidak di balas.

Berbagai desakan menyikapi aksi koboi penembakan kapal nelayan, Akademisi fakultas hukum Ginda Ansori WK  meminta penegak hukum segera menangkap dan memproses hukum pelaku penembakan kapal nelaya, serta memperketan izin penggunaan senjata api.

Ginda mengatakan, sangat mendukung  proses hukum yang ditangani direktorat Polairud Polda Lampung, terkait dugan kasus penembakan kapal nelayan diduga dilakukan Handy Saputra alias Ko Ahan pemilik salah satu pulau di peraian pantai Way Ratai kabupaten Pesawaran. Mengingat perbuatan pelaku telah menyalahgunakan senjata api di tengah masyarakat telah melanggar hukum, dan pelakunya dapat dijerat dengan UU Darurat no 12 tahun 1951 tentang penggunaan senjata api. Untuk itu kepolisian bersikap tegas terhadap kasus penyalahgunaan senjata api tersebut agar tidak terus berulang.

”Semestinya penegak hukum secepatnya memproses hukum dan menangkap  palaku penembakan kapal nelayan, karena perbuatan pelaku menyalahgunakan senjata api ditengah masyarakat sudah melanggar UU Darurat no 12 tahun 1951 tentang senjata api,” kata Ginda Ansori kepada wartawan, Kamis (10/9/2020) kemarin.

Baca Juga :  PH Mencium Penangkapan SA Dipaksakan

Ginda menjelaskan, meski pelaku bernaung di pengurus Karakatau Shooting Club binaan Perbakin Lampung, namun dalam pengunaan senjata api ada ketentuan yang harus dipatuhi. Mengingat untuk mendapati dan menggunakan senjata api tentutnya melalui tahapan seleksi tes kesehatan jasmani dan rohani.

”Tidak semudah itu memiliki, menyimpan dan menggunakan senjata api, tentunya ada persyaratan melalui tes kesehatan, tes psikologi, sehingga tidak serta merta menggunakan senjata api, tentunya ada tempatnya,” ungkapnya.

Ginda mengharapkan, aparat kepolisian untuk memperketat perizinan kepemilikan dan diminta untuk melakukan tes psikologi kepada setiap orang yang diberi izin memiliki senjata api, serta melakukan pengawasan terhadap masyarakat yang memiliki senjata api. Apalagi dengan banyaknya penyalahgunaan yang terjadi.

“Pemilik senjata api harus dipastikan kondisi psikologisnya stabil. Untuk kasus ini, kepolisian harus menyelidiki sampai tuntas, harus menerapkan hukum progesif, dan pelakunya harus dihukum sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku. Kasus seperti ini jangan sampai terulang kembali, jangan sampai masyarakat Lampung mengambil langkah di luar kendali mengingat pelakunya merupakan warga keturunan,” ungkapnya.

Sementara itu, wartawan mencoba mengkonfirmasi Ko Ahan, meski HP nya aktip, namun tidak diangkat. Pesan singkat yang dilayangkan juga tidak dibalas. (Adien)

Tulis Komentar

News Feed