oleh

KPKAD Lampung Desak Kejati Supervisi Aksi Koboi Ko Han

Bandarlampung – Komite Pemantau Kebijakan dan Anggaran Daerah (KPKAD) Provinsi Lampung melayangkan surat supervisi kasus dugaan pengunaan senjata api ke Kejaksaan Tinggi (Kajati) Lampung, terkait aksi koboi Handi Saputra alias Koh Ahan, menembaki nelayan yang sedang mencari ikan sekitar pulau Condong di Wayratai, Kabupaten Pesawaran.

Surat KPKAD Lampung dalam koordinasi dan supervisi kasus dugaan pengunaan senjata api yang di layangan ke Kejati per tanggal Bandar Lampung, Selasa 13 Oktober 2020, untuk mengawal proses penegakan hukum (law enforcement) terkait kasus dugaan pengunaan senjata api.

Katua KPKAD Lampung, Ginda Ansori WK, mengatakan sejak beberapa pekan terakhir, pihaknya melakukan observasi terkait penanganan kasus dugaan penembakan kapal nelayan yang diduga dilakukan Handy Saputra alias Ko Ahan, pemilik salah satu pulau di perairan Pantai Way Ratai Kabupaten Pesawaran oleh Direktorat Polairud Polda Lampung.

“Pada prinsipnya KPKAD Lampung mendukung penuh penyelidikan dan penyidikan dugaan ini oleh penyidik Direktorat Polairud Polda Lampung sehingga dugaan kasus penggunaan senjata tersebut dapat menjadi terang adanya dan pelaku dapat dikenakan tanggung jawab atas perbuatannya,” ungkap Ginda, Selasa (13/10/2020).

Baca Juga :  Pencurian Tanaman Hias di Kota Metro Makin Marak

Ia mengesakan untuk itu KPKAD Lampung mendesak pihak penyidik dalam hal ini Direktorat Polairud Polda Lampung melakukan hal-hal bukan hanya menyita dan menempatkan senjata milik pelaku untuk digudangkan saja, akan tetapi atas perbuatan pelaku juga harus diberikan sanksi secara hukum, manakala perbuatannya masuk dalam rumusan dan bertantangan dengan hukum yang berlaku terutama terkait Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang penggunaan senjata api.

“Mengingat persoalan ini sudah menjadi konsumsi publik, maka hendaknya penangananya dilakukan secara transparan dan secara professional, sehingga tidak ada kecurigaan publik yang miring atas penanganan dugaan kasus tersebut,” ungkapnya.

Ginda menyatakan, dalam kasus dugaan penggunaan senajta api ini, Kejaksaan merupakan bagian dari Integrated Criminal Justice System untuk berkoordinasi dan melakukan supervisi dengan Kepolisian Daerah Lampung dan Direktorat Polairud Polda Lampung dalam penanganan dugaan yang dilakukan oleh pelaku.”Besok surat sudah kita layangkan, agara Kejati berkoordinasi dan melakukan supervisi Direktorat Polairud Polda Lampung dalam penanganan dugaan penyalagunaan senjata apai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pihak Juanda Basri Ajak Berdamai, Pengacara : Ini Anjuran Dari Pihak Kepolisian

Diketahui selama ini Aksi koboi Handry Suptra alias Ko Ahan, ternyata sudah menjadi momok para nelayan pesisir Teluk Ratai, Pesawaran.

Betapa tidak, perilaku memberong perahu nelayan sudah sering dilakukan Ko Ahan, namun hingga kini belum ada tindakan hukum yang dapat menjerat warga kerurunan itu.

Diungkapkan L, pemilik perahu yang menjadi korban penembakan Ko Ahan, menunjukkan kondisi perahu yang ditembak oleh Ko Ahan, terlihat ada enam lubang bekas tembakan di perahu.

“Perahu tersebut disewa DI dan dua orang rekannya untuk memancing di seputaran Pulau Condong Laut dan sekitarnya dan sepulang dari memancing DI menceritakan jika perahunya ditembak oleh KO Ahan,” ungkap L, saat ditemui di kediamanannya.

Dipertegas R salah satu nelayan, kejadian tersebut bukan sekali ini saja sudah seringkali terjadi.

“Kami nelayan di Teluk Ratai ini sudah merasa resah, bagaimana tidak, pulau condong dan sekitarnya saat ini sudah dipasang pembatas dengan menggunakan tali yang dipasang pelampung agar nelayan tidak dapat mendekati pulau, padahal pulau di sekitar ini sangat membantu ketika ada angin badai atau perahu yang mengalami kerusakan dan untuk mencari air,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polres Pringsewu Berhasil Tangkap 3 Pelaku Curat Spesialis Pembobol Toko Lintas Provinsi

R juga mengaku jika saat ini jangankan untuk mendekat ingin merapat di pulau, akibat persoalan ini.

“Kami sudah tidak bisa lagi, akibat permasalahan ini kami sebagai nelayan sangat berkurang tangkapannya apa lagi kalau musim angin barat kami tidak bisa melaut, takut ketika ada masalah dengan perahu kami gak ada tempat berlindung dan resiko ditembak selalu menghantui,” keluhnya.

Akibat kejadian ini, R mewakili para nelayan berharap oknum penembak terhadap perahu nelayan dapat ditindak tegas.

“Kami para nelayan disini berharap pada aparat terkait untuk memperhatikan kami para nelaya dan menindak tegas pelaku penembakan. Kepada siapa lagi kami mengadu selama ini kami mengadu ya hilang begitu saja, bantu kami pak, sampaikan keluhan kami pada pemerintah,” harapnya. (Adien/JJ).

Tulis Komentar

News Feed