oleh

Artidjo Alkostar, Vonis Berat dari Abdullah Puteh hingga Wendy Melfa

HALUANLAMPUNG – Artidjo Alkostar, pendekar hukum yang memiliki integritas dalam penegakan hukum Indonesia telah meninggal dunia, Minggu (28/02) sekitar pukul 14.00 WIB.  Ia bukan hakim “kaleng-kalengan”. Dan Artidjo adalah hakim yang paling ditakuti oleh para koruptor, termasuk para koruptor di Lampung.

Integritasnya berbuah pujian hingga banyak  pihak yang segan dan  menghormatinya, khususnya oleh para penggiat anti korupsi.

Keputusannya “keras” dan sempat membuat para koruptor yang berniat banding berpikir dua kali.

Tercatat ada beberapa pemohon kasasi akhirnya membatalkan permohonannya,  setelah mengetahui hakim yang menangani perkaranya adalah Artidjo, seperti kasus Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Medan, Sumatera Utara, Tripeni Irianto Putro yang tak jadi mengajukan kasasi.

Baca Juga :  Pakai APD, AMLB Tuntut KPK Naikan Status Nunik Sebagai Tersangka

Sekitar 18 tahun Hakim Agung Artidjo Alkostar mengabdikan diri di Mahkamah Agung. Ia pensiun pada 22 Mei 2018 saat Artidjo berumur 70 tahun.

Ribuan kasus telah ditanganinya, termasuk kasus korupsi. Banyak keputusannya yang membuatnya menjadi legenda, sekaligus menjadi mimpi buruk terdakwa koruptor.

Deretan vonis  Artidjo sebagai anggota majelis hakim kasasi dalam kasus korupsi  menyasar banyak pejabat terkemuka.

Antara lain:
1. Abdullah Puteh
2. Darianus Lungguk Sitorus
3. Dicky Iskandardinata
4. Rokhmin Dahuri
5. Irawady Joenoes
6. Anggodo Widjojo
7. Tommy Hindratno
8. Angelina Sondakh
9. Luthfi Hasan Ishaq
10. Ratu Atut Chosiyah
11. Anas Urbaningrum

Vonis Kasasi Wendy Melfa

Khusus terhadap pejabat di Lampung, Artidjo pernah menjatuhkan vonis kasasi kepada mantan Bupati Lampung Selatan, Wendy Melfa dengan hukuman 10 tahun penjara dalam kasus korupsi pengadaan tanah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sebalang.

Baca Juga :  192 Kendaraan Luar Lampung Diberhentikan, 1 Putar Balik

MA mengabulkan kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU), dan memperbaiki putusan Pengadilian Tinggi Lampung dengan memvonis terpidana 10 tahun penjara, dan mewajibkan terpidana membayar denda sebesar Rp500 juta subsider enam bulan penjara.

Putusan tersebut lebih tinggi dari putusan banding di tingkat Pengadilan Tinggi (PT) Lampung. Pada putusan vonis Pengadilan Tipikor Tanjungkarang sebelumnya, hakim hanya menghukum Wendy empat tahun penjara.(iwa)

Tulis Komentar

News Feed