oleh

Mega Proyek Penahan Ombak Pantai Kalianda: PT Basuki RP Gunakan Material Ilegal?

Praktik penggunaan batu yang ‘abal-abal’ tersebut diduga sebagai upaya pelaksana proyek untuk memperoleh keuntungan besar dengan cara menabrak peraturan.

LAMPUNG SELATAN — Pelaksana pembangunan mega proyek penahan ombak senilai Rp67,786 miliar di Desa Kunjir dan Desa Maja, Lampung Selatan disinyalir mengabaikan legalitas material (batu) yang menjadi material utama proyek tersebut.

Diketahui, proyek tersebut dikerjakan oleh PT Basuki Rahmata Putra. Perusahaan ini diduga tidak menggunakan material batu dari perusahaan yang sudah mengantongi izin tambang.

Praktik penggunaan batu yang ‘abal-abal’ tersebut diduga sebagai upaya pelaksana proyek untuk memperoleh keuntungan besar dengan cara menabrak peraturan.

Sesuai UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa penggunaan bahan galian golongan C (batu) harus memiliki dokumen legalitas. Aturan tersebut juga ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Baca Juga :  Sekdaprov Fahrizal: Tak akan Ada Ganti Rugi

Diketahui, pelanggaran terhadap UU No 4 Tahun 2009 dapat dipidana. Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP dapat dipidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Sedangkan setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP dapat dipidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Penggunaan material batu yang asal-asalan tersebut berpotensi menurunkan kualitas penahan ombak hingga hampir bisa dipastikan konstruksi proyek tersebut tidak akan berumur panjang seperti yang diharapkan.

Penggunaan batu abal-abal tersebut masih terus berlangsung hingggi kini.

Baca Juga :  Tes Masuk polteskes, Satpam Unila Asik Raup 'Seseran' Parkir

Bahkan, pihak PT Basuki Rahmata Putra, Tambunan, mengaku pihaknya tidak mengetahui dari mana asal material batu yang mereka gunakan.

“ Kami hanya menerima batu tersebut sampai dengan di tempat,” ujar Tambunan saat dihubungi lewat sambungan ponselnya.

Tambunan tak bisa menjelaskan legalitas batu yang digunakan perusahaan.

“Soal itu, silakan ditanyakan ke penambangnya. Kami hanya membeli,” pungkasnya. (Erl)

Tulis Komentar

News Feed