oleh

Lampung Berjaya Tercoreng Korupsi Bibit Jagung

Terungkapnya kasus korupsi bibit jagung telah mencoreng program Lampung Berjaya yang menjadi tema besar kepemimpinan visi misi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Namun, dengan adanya peristiwa ini menunjukkan bahwa Arinal bersungguh-sungguh terhadap pencapaian tema besarnya tersebut. 

BANDARLAMPUNG – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung menetapkan Asisten II Pemprov Lampung Edi Yanto tersangka korupsi pengadaan bantuan benih jagung di Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung.

Dalam perkara yang sama, Kejati Lampung juga menetapkan tersangka rekanan proyek Tahun Anggaran 2017 Herlin Retnowati dan Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Imama.

Edi Yanto ditetapkan sebagai tersangka dalam kapasitasnya saat menjabat Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lampung dan menjadi pelaksana proyek tahun anggaran 2017.

Kajati Lampung Lampung, Heffinur menjelaskan kasus ini berawal dari informasi LHP BPK terhadap kegiatan Pemeriksaan Kementerian Pertanian RI terkait program pemerintah untuk mewujudkan swasembada jagung di Indonesia.

Baca Juga :  Lampung Produsen Daging Celeng?

Diketahui dari pengajuan proposal kepada Kementerian Pertanian secara elektronik (e-proposal) pada Tahun Anggaran 2017, Lampung mendapatkan alokasi anggaran berkisar Rp140 miliar.

Belakangan, BPK menemukan adanya indikasi kerugian negara atas pekerjaan PT DAPI karena benih melebihi batas masa edar atau kadaluarsa dan benih tidak bersertifikat senilai lebih kurang Rp8 miliar.

Ketiga tersangka disangkakan pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1), (2) dan (3) UURI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU RI No.20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP.

Selain itu, subsider pasal 3 jo pasal 18 ayat (1), (2) dan (3) UURI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UURI No.20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP.

Dengan pasal itu tersangka terancam maksimal 20 tahun penjara.

Baca Juga :  3 Cakakam Positif Narkoba WK Belum Diumumkan, Apa Mereka Orang Kuat ?

Lampung Berjaya

Provinsi Lampung dinilai berhasil menjadi produsen jagung tertinggi dengan kadar air 15 persen untuk Januari – Desember 2020 bersama 10 provinsi lainnya.

Provinsi Jawa Timur masih menjadi produsen terbesar, dengan luas panen 11,9 juta ha menghasilkan 5,37 juta ton jagung. Kedua, Provinsi Jawa Tengah dengan luas panen 614,3 ribu ha menghasilkan 3,18 juta ton jagung.

Keempat, Provinsi Sumatera Utara dengan luas panen 350,6 ribu ha menghasilkan 1,83 juta ton. Kelima, Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas panen 377,7 ribu menghasilkan 1,82 juta ton jagung. Keenam, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas panen 283 ribu ha menghasilkan 1,66 juta ton jagung.

Baca Juga :  Diduga Bangkrut, Diskominfo Pringsewu Tak Sanggup Bayar Tagihan

Ketujuh, Provinsi Jawa Barat dengan luas panen 206,7 ribu ha menghasilkan 1,34 juta ton jagung. Kedelapan, Provinsi Sulawesi Utara dengan luas panen 235,5 ribu ha menghasilkan 0,92 juta ton jagung. Kesembilan, Provinsi Gorontalo dengan luas panen 212,5 ribu ha menghasilkan 0,91 juta ton jagung. Terakhir kesepuluh, Provinsi Sumatera Selatan dengan luas panen 137 ribu ha menghasilkan jagung mencapai 0,80 juta ton.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan Kementan berkomitmen untuk meningkatkan produksi dengan melakukan peningkatan luas tanam jagung sehingga dapat menaikkan pendapatan petani jagung serta diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

“Dengan tercukupinya kebutuhan jagung juga akan semakin menjauhkan Indonesia dari keran impor jagung yang merugikan petani,” ucapnya.(IWA)

 

 

Tulis Komentar

News Feed