oleh

Kantor Perwakilan BI Lampung Gelar Webinar Lampung Economic Update

Bandarlampung — Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Lampung menyelenggarakan webinar “Lampung Economic Update” dalam rangka Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Februari 2021. Pada kesempatan ini, juga dilakukan diseminasi Kajian Fiskal Regional (KFR)2020 bekerja sama dengan Ditjen Perbendaharaan (DJPB) Provinsi Lampung Disamping itu, agenda webinar juga dilengkapi dengan sesi panel yang membahas topik “Mendorong Pemulihan Pariwisata Lampung”, dengan menghadirkan narasumber dari Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung dan Ketua Umum Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Provinsi Lampung, serta moderator oleh Putri Parvisata Indonesia Lampung 2020 Adapun penyelenggaraan webinar ini dilakukan dalam rangka komunikasi kebyakan guna mendukung perumusan kebijakan pengembangan ekonomi daerah, Kamis (25/03/2021).

Di tengah masih berlangsungnya pandemi COVIP-19, perekonomian Lampung menunjukkan perbaikan, meskipun masih dalam fase kontraksi. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan IV 2020 terkontraksi sebesar 2,269o (yoy) atau lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga mengalami kontraksi sebesar 2,414 (yoy), dan secara keseluruhan tahun 2020 tercatat sebesar -1,67 4 (yoy).

Realisasi pertumbuhan ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV 2019 sebesar 5,074 (yoy) Realisasi pertumbuhan pada triwulan IV 2020 ini juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera (-2,2196: yoy) dan Nasional (-2,1994: yoy). Realisasi tersebut secara spasial menempatkan Lampung pada peringkat ke-6 dari 10 provinsi di Sumatera pada triwulan IV 2020 Adapun secara nominal, perekonomian Lampung pada triwulan IV 2020 berdasarkan ADHB dan ADHK (2010) masing-masing sebesar Rp84,74 triliun dan Rp57,36 triliun.

Realisasi pertumbuhan Lampung tahun 2020 lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera yang tercatat -1,1996 (yoy), meski lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi Nasional yakni -2,07 4 (yoy). Secara spasial, Lampung berada pada peringkat ke-8 provinsi untuk pertumbuhan tertinggi tahun 2020 se-Sumatera.

Baca Juga :  Hore..!! Rumah Roza Cake, Cookies, Coffee Berikan Diskon kepada Guru dan Wartawan

Penurunan kinerja pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2020 terutama disebabkan oleh konsumsi yang melemah seiring dengan turunnya daya beli dan permintaan masyarakat selama Pandemi COVID-19. Sementara ketidakpastian ekonomi menyurutkan niat pelaku usaha untuk berinvestasi dan bersikap wait and see Di sisi ekspor, pelemahan permintaan dunia memengaruhi volume perdagangan dunia yang menurun. Meski demikian, di sisi konsumsi pemerintah, adanya Stimulus fiskal yang bersumber dari bansos dan anggaran PEN menjadi sumber penopang aktivitas ekonomi pada tahun 2020.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung tahun 2020 tercatat rendah pada batas bawah kisaran sasaran 3,01145 Inflasi yang rendah tersebut dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang belum kuat sebagai dampak pandemi COVID-19, pasokan yang memadai, dan sinergi kebijakan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga kestabilan harga.

Dan sisi fiskal pada tahun 2020, presentase realisasi pendapatan APBD 2020 tercatat paling rendah dalam 3 tahun terakhir yaitu 89,8296 dari target, adapun 2019 dan 2018 masing-masing 96,214 dan 95,519 dari target Begitu juga dengan realisasi PAD 2020 yang lebih rendah dari tahun 2019 dan 2018 Tahun ini PAD hanya terealisasi 80,959c dari target Sedangkan 2019 sebesar 89,074 dan 2018 sebesar 85,704 dari target. Dana Perimbangan tahun 2020 juga lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya Realisasi 2020 adalah sebesar 87,754 dari target, 2019 sebesar 89,389o dan realisasi 2018 sebesar 90,3896

Sementara itu, belanja daerah masih didominasi belanja operasional yang mencapai 7094 dari realisasi belanja tahun 2020 Realisasi belanja operasional mencapai Rp26,68 tri run atau 89,644 dari pagu Belanja modal terealisasi Rp3,30 triliun atau 75,2146 dan pagu Porsi belanja modal mencapai 12,389 total realisasi belanja daerah Realisasi belanja pegawai sebesar Rp11,13 triliun atau 55,3996 dari total belanja operasional Belanja barang terealisasi Rp5,45 triliun atau 78,689 dari pagu, mencapai 294 dari total belanja operasional

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok di Tubaba Stabil

Pagu belanja daerah relatif stabil! dan tahun 2018 Namun realisasi belanja tahun 2020 Pagu belanja daerah relatif stabil dan tahun 2018 Namun realisasi belanja tahun 2020 tercatat terendah dalam 3 tahun terakhir Belanja 2020 hanya terealisasi 84,625 sedangkan 2 tahun sebelumnya belanja selalu terealisasi diatas 9246 Belanja operasional terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, bansos, subsidi, bunga, dan hibah Presentasi belanja modal terbesar adalah Kab Tulang Bawang Barat dengan 27,296.

Selanjutnya, sebagai salah satu sektor yang juga memilik: kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung, sektor Pariwisata ke depan diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Pemulihan sektor pariwisata dapat menjadi daya ungkit bagi sektor pendukung pariwisata lainya seperti perdagangan, jasa transportasi, restoran, kuliner, oleh-oleh dan industri kreatif lainnya baik dari sisi percepatan pemulihan pertumbuhan ekonomi maupun dari Sisi penyerapan lapangan kerja

Provinsi Lampung memiliki potensi yang besar dengan keunggulan daya tarik keindahan alam, kuliner, kerajinan dan kesenian yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan baik mancanegara maupun domestik Di tengah pandemi, kunci utama pemulihan pariwisata adalah penanganan COVID-19 sebagai necessary condition, antara lain dengan memberikan alokasi vaksinasi COVID-19 terhadap pelaku usaha pariwisata (prioritas), serta memperketat protokol kesehatan dan sosialisasi terhadap masyarakat untuk meningkatkan awareness (kesadaran) protokol kesehatan

Provinsi Lampung dengan akses jalan tol dan dermaga eksekutif penyeberangan, serta jarak tempuh yang relatif singkat dan wilayah Sumatera Selatan dan Jabotabek, mempunyai potensi yang besar untuk menjadi alternatif wisata yang aman dalam penerapan protokol COVID-19 Keunggulan dalam hal akses ini tentunya akan lebih optimal apabila didukung dengan penerapan standar dan protokol COVD-19 di daerah tujuan wisata di Provinsi Lampung Percepatan sertifikasi dan Provinsi Lampung dengan akses jalan tol dan dermaga eksekutif penyeberangan, serta jarak tempuh yang relatif singkat dan wilayah Sumatera Selatan dan Jabotabek, mempunyai potensi yang besar untuk menjadi alternatif wisata yang aman dalam penerapan protokol COVID-19 Keunggulan dalam hal akses ini tentunya akan lebih optimal apabila didukung dengan penerapan standar dan protokol COVID-19 di daerah tujuan wisata di Provinsi Lampung. Percepatan sertifikasi dan penerapan CHSE dan digitalisasi terutama dari sisi pembayaran dapat menjadi solusi dalam penerapan pariwisata yang aman di masa Pandemi COVID-19 Bank Indonesia dengan program QRIS 12 juta merchant mendorong penggunaan pembayaran digital contactless di berbagai sektor termasuk sektor pariwisata serta sektor pendukung lainnya.

Baca Juga :  Parosil Resmikan Gedung BRI Cabang Liwa

Dalam jangka pendek, rekomendasi kebjakan dalam rangka mendorong penerapan CHSE – Cleantness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Envronment Sustamabihty (Kelestarian Lingkungan) merupakan isu penting yang perlu menjadi perhatian, termasuk memadukan Gerakan Bangga Wisata Indonesia dengan Bangga Buatan Indonesia Sementara itu, dalam jangka panjang perlu dilakukan percepatan pengembangan 3A-2P (atraksi, amenitas, akses, people, dan promotion), serta memperluas inovasi Travel Coridor Arangement (TCA) Dukungan semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha parmwisata, akademisi, media, dan masyarakat akan sangat berdampak signifikan terhadap percepatan pemulihan pariwisata Lampung pada khususnya dan ekonomi Lampung secara keseluruhan. (Rls/Sus)

Tulis Komentar

News Feed