oleh

Kami Lulus UKW LPDS di Rantau Orang

    CEO Haluan Lampung Group: Hengki Ahmat Jazuli

KAMI Lulus UKW LPDS di Rantau Orang, yakni di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Desember 2018 lalu.  Ini sungguh mendebarkan.

Pesawat kami mendarat mulus di Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Selasa pagi, 17 Desember
2018.

Kami langsung menuju sebuah kedai kopi, dan kami beruntung, di bandara internasional itu ada kedai kopi yang membolehkan kami merokok.

Srut…kopi kami seruput sambil “ngudut”.

Sejam berlalu. Mobil Panitia Uji Kompetensi Wartawan datang menjemput kami. Namanya…aduh, kami lupa, tapi sosok itu baik sekali. Di
sepanjang jalan dia banyak bercerita tentang kemajuan daerahnya.

Katanya, “Harga tanah di sini mahal sekali.Kebanyakan yang punya bukan orang sini. Sekarang orang Singapura dan Malaysia bolak-balik datang ke sini, dan tambah ramai pada akhir pekan.”

“Duh…bahaya!” temanku Iwa, bergumam.

Disambut Jamuan Kelas Bupati

Mobil Avanza putih yang membawa kami berbelok ke kiri, menuju sebuah warung makan yang memiliki banyak meja. Asap bakaran ikan mengebul hingga ke jalan. Aromanya bikin lapar.

Tiga orang panitia sudah menunggu kami di meja makan. Salah satunya Pemimpin Umum Sijori Kepri yang logatnya kental Melayu.

Namanya Rusmadi. Pidum berambut ikal itu menjamu kami dengan hidangan sekelas jamuan bupati. Luar biasa, meja makan kami sesak dengan aneka makanan. Ada ayam goreng, ikan bakar berukuran besar, lalapan, udang ditepungin, dan rupa-rupa sambal.
Ludes! Kami sikat semua.

Tak Bisa Tidur

Kami berempat adalah peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) asal Lampung: Ilwadi Perkasa (Pemimpin Redaksi Haluanlampung), Hengki Ahmat Jazuli (CEO Haluanlampung Group), Djuanda Hipni (Pemimpin Redaksi Independen Pos), dan Suparman
(PU/PR Poros Lampung).

Baca Juga :  Korban Pencabulan Bertambah, Oknum Kakam Edi Marjoko Dilaporkan ke Polda Lampung

UKW diikuti puluhan jurnalis setempat. Cetak dan online. Pengujinya dari Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS). Sebuah lembaga penguji ternama yang lahir dari rahim Dewan Pers. Lembaga ini memiliki sederet nama besar, karena itulah kami memilihnya. Usai makan siang, kami memilih Hotel Panorama, sebuah hotel tak berbintang, namun murah nyaman. Hotel ini kami pilih karena dekat dengan Gedung Arsip Pemko Tanjungpinang.

Kami booking dua kamar yang lebih banyak kami gunakan untuk mandi dan ganti pakaian. Sumpah! Di hotel itu kami habiskan waktu hanya untuk berdiskusi, membaca, dan “ngangguin” pegawai hotel yang cantik. Kami stres! Hingga tak tidur sampai pagi.

Besoknya, Rabu (18/12/2018), usai sarapan pagi, kami paksakan tidur. Tak lama, tapi lumayan. Kami kembali membaca buku soal UU Pers, Kode Etik Jurnalistik dan daftar materi uji yang dikirimkan LPDS.

Berkas materi uji itulah yang menyiksa kami. Gila, banyak sekali.

Kami berempat tergolong berani, karena memilih UKW jenjang utama. Itu gegara provokasi Ilwadi Perkasa yang terus memberi keyakinan, bahwa kami pasti bisa.

“UKW itu cuma menguji apa yang kita lakukan setiap hari. Tak usah takut, itu cuma soal bagaimana rapat redaksi, rapat proyeksi dan budget. Gak
susah takut, santai bro,” katanya.

Teman kami, Ilwadi, memang tampak lebih tenang karena punya jam terbang puluhan tahun menjadi wartawan dan menangani urusan keredaksian.

Dia meminta kami untuk bismillah saja, dan menyarankan kami mulai merapikan, bahkan menghubungi sejumlah nomor di telepon genggam.

“Pastikan 30 nomor telepon saat dihubungi besok dijawab. Itu harus kalau mau lulus,” kompornya.

Baca Juga :  BALAK Minta Polda Lampung Tahan EM, Kades Cabul Tak Pantas Peroleh Penangguhan Penahanan

Alhasil, kami bertiga kembali susah tidur. Kami terlalu sibuk menghubungi para pejabat, dan membuat janji agar pejabat itu mengangkat
ponselnya saat ditelepon besok.

Tiga Hari yang Melelahkan

Kamis pagi, 20 Desember 2018. Kami berangkat jalan kaki ke Gedung Arsip Pemkot Tanjungpinang. Kami berjalan berpencar, membawa tas, laptop dan membawa hati yang berdebar kencang.

Ini adalah hari pertama UKW. Pak Ahmad Djauhar, anggota Dewan Pers sudah hadir di sana. Ia memakai topi koboy berwarna putih.

Bagi kami, Pak Djauhar bukanlah “macan”, karena kami sudah mengenalnya sebagai sosok yang flamboyan, dan humoris. Pak Djauhar-lah yang mendorong kami untuk ikut UKW. Kami menyimak kuliahnya soal UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik yang disampaikannya saat berdiri di mimbar. Terima kasih Bang Djauhar.

UKW dibuka oleh Sekdakot Tanjung Pinang dengan pantun khas Melayu. Dia sempat memuji kami asal Lampung dan meminta kami ikut mempromosikan Kota Tanjung Pinang.

Kami terpesona dengan pidatonya, dan makin terpesona saat melihat seorang perempuan cantik memimpin Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Empat tim penguji, A.A Ariwibowo, Maria D. Andriana, Lahyanto Nadie dan Maskur Abdullah sudah duduk di barisannya, di depan.

Maaf, awalnya kami melihat mereka sangat “seram”. Tapi berikutnya, kami sudah mulai tenang.

Mbak Maria yang bertubuh mungil ternyata tak segalak seperti yang ramai dikabarkan. Ilwadi di bawah kuasa ujinya. Keduanya tampak akrab dan, lebih sering beridiskusi. Bahkan Ilwadi tercatat sebagai peserta yang selalu lebih dahulu menyelesaikan tugas ujinya.

Pak Ari yang maaf, bertubuh kerempeng, menjadi penguji Hengki Ahmat Jazuli. Dia tenang, namun selalu meminta hasil uji lebih detil. Ini memusingkan kepala Hengki.

Baca Juga :  Akankah EM "Dijemput" Polisi Kembali?

Pak Lahyanto Nandie menjadi penguji Djuanda Hipni. Mejanya penuh dengan kertas-kertas. Beberapa kali kami melihat wartawan Bisnis Indonesia itu mencecar peserta dengan pertanyaan tajam, terutama saat menguji materi soal investigasi.

Sementara Pak Maskur Abdullah sibuk menguji Suparman. Ia dikelilingi sejumlah peserta jenjang muda dan madya. Suasananya tampak lebih adem. Suparman sepertinya berada di meja yang aman.

Situasi itu kami jalani hingga malam. Kami pulang ke hotel. Kami kelelahan, lalu tertidur pulas di kamar hotel.

Alhamdulillah kami lulus

Besoknya, Gedung Arsip yang sebenarnya dingin karena banyak AC-nya masih saja terasa panas. Ini adalah hari penentuan, setelah kemarin kami berhasil melewatinya dengan sangat baik. Sejumlah materi uji masih harus kami ikuti hari ini, Jumat (21/12/2018). Tapi kami sudah mampu beradaptasi. Tak ada lagi ketegangan yang berarti.

Namun tetap saja, kami bergulat sampai malam hari. Lagi-lagi kami kelelahan. Tim penguji juga tampak lemas. Terpaksa uji kompetensi dilanjutkan besok Sabtu (22/12-2018).

Tak ada lagi ketegangan yang berarti pada Sabtu pagi ini. Kami sudah sangat yakin lolos uji kompetensi. Dan itu terbukti pada sore hari.
Kami lulus UKW LPDS di rantau orang. Terima kasih LPDS.(Hengki Ahmat Jazuli)

*Artikel “Kami Lulus UKW LPDS di Rantau Orang” ini disiapkan untuk penerbitan buku dalam
rangka HUT LPDS Juli 2021

Tulis Komentar

News Feed