oleh

ODGJ Dimandikan dan Dikasih Makan, Cuma Ada di Lampung Barat

LAMPUNGBARAT – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lampung Barat kini tengah “memburu” Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).  Setelah “diamankan” ODGJ dimandikan,  dan dikasih makan. ODGJ yang “beruntung” terjaring juga dipakaikan pakaian baru, didandani agar lebih rapi, diperiksa kesehatan, bahkan kukunya dipotong dan dibersihkan

Aksi ODGJ dimandikan dan dikasih makan mulai dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lambar bersama Dinas Sosial Kabupaten setempat.

Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Masyarakat (Linmas) Mujiran, mendampingi Kepala Satpol PP Lambar Haiza Rinsa mengungkapkan, operasi ini dilakukan untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat yang meminta ODGJ di “wongke”.

Ini bukanlah penertiban biasa. Sebab ODGJ yang terjaring akan dibersihkan, didandani, hair cut, diberi pakaian dan dapat makan.

“Kita juga akan periksakan kesehatan mereka. Yang sakit akan mendapat layanan pemeriksaan lebih lanjut,” tegasnya.

Mujiran mengimbau warga agar tidak mengganggu jika ada ODGJ yang berlalu lalang di sekitaran Lambar.

“Perlakukan mereka manusiawi. Jangan disakiti. Jika meresahkan segera melapor langsung ke pihak Satpol PP maupun Dinas Sosial,” katanya.

Apa  Itu ODGJ

Banyak masyarakat Indonesia yang masih minim pengetahuannya dengan gangguan kejiwaan atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Misalnya seperti kasus pembunuhan yang pernah kita dengar bahwa motif dibalik pelaku melakukan pembunuhan adalah karena adanya bisikkan gaib.

Padahal secara ilmu pengetahuan, hal tersebut bisa jadi karena pelaku memiliki masalah kejiwaan. Ia mengalami halusinasi atau delusi. Orang dengan gangguan jiwa, memang mendapat perlakuan tak semestinya, seperti dipasung, karena ia mengamuk dan melukai warga sekitar.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas  atau  sekitar 14 juta orang.  Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400 ribu orang.

Ternyata 14,3 persen di antaranya atau sekitar 57.000 orang pernah atau sedang dipasung. Angka pemasungan di pedesaan adalah sebesar 18,2 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu  sebesar 10,7 persen. Untuk itu marilah kita berkenalan dan mencoba memahami orang dengan gangguan jiwa melalui fakta-fakta berikut!

Banyak yang mengira bahwa ODGJ sering dianggap sebagai pelaku dalam tindak kejahatan. Namun pada kenyataannya, tidak demikian. Justru terkadang keluarga ODGJ, memasungnya karena dianggap meresahkan.
Hal tersebut secara tidak langsung telah membuat mereka menjadi korban. Bagaimanapun juga mereka adalah sama seperti kita, hanya saja mereka memiliki gangguan jiwa berat apabila harus dipasung, sebaiknya bila menemukan hal seperti bawa mereka ke dinas kesehatan setempat agar mendapat perawatan.

Dapat disembuhkan

Memang ada beberapa jenis gangguan jiwa yang dapat disembuhkan. Namun ada juga yang memang tidak dapat sembuh total akan tetapi dengan adanya terapi berkelanjutan mampu membuat perilaku menyimpang dapat ditekan atau dihindari.

Salah satu hal lain yang dapat mempercepat kesembuhan mereka adalah adanya pandangan positif masyarakat terhadap mereka. Sehingga saat mereka sudah keluar dari Rumah Sakit Jiwa, mereka tidak akan kembali lagi, dengan alasan masih diperlakukan sebagai “orang gila”.

Masyarakat awam, masih saja menaruh stigma negatif pada ODGJ. Saat mereka sudah diperbolehkan pulang ke lingkungan rumahnya, tidak menunggu lama mereka pasti akan kembali lagi ke RSJ.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Karena masyarakat di lingkungannya masih memperlakukan dia sebagai orang gila, bukan orang sehat. Mereka tetap mendapatkan diskriminasi, dikucilkan, menjadi bahan ejekan dan lain sebagainya. Hal seperti itulah yang membuat mereka “kambuh”dan dirawat kembali di Rumah Sakit Jiwa.

Tulis Komentar

News Feed