oleh

Penggusuran di Bulan Suci: Gubernur Arinal Harus Bertanggungjawab

Penggusuran di bulan suci, seperti mimpi buruk, dalam sekejab 8 kepala keluarga di Wayhui kontan kehilangan rumah yang mereka huni bertahun-tahun.

KORBAN penggusuran di Desa Wayhui menyaksikan bangunan rumah dan tokonya digusur oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Mereka sedih dan juga marah, namun tak kuasa melawan, dan cuma menarik nafas dalam-dalam saat melihat rumah dan tokonya rata dengan tanah.

Adi Giwok Saputra (46), salah satu korban penggusuran sempat nyaris pingsan. Ia berteriak histeris lalu lemas di tengah kerumunan warga yang menangis.

Adi Giwok adalah salah satu tokoh masyarakat setempat. Ia dikenal sebagai pengurus Pasukan Elit Inti Rakyat (Petir).

Di tengah eksavator mencakar-cakar rumahnya, Adi Giwok sempat melancarkan protes keras yang ia teriakan keras-keras.

Baca Juga :  Kabar Gembira: Shalat Id Boleh di Masjid

“Gubernur Lampung Arinal Junaidi harus mengganti rugi bangunan yang digusur secara sepihak oleh Pemerintah Provinsi Lampung, karena sengketa lahan ini masih berperkara di PN Kalianda Lampung Selatan. Pak Gubernur harus bertanggungjawab atas bangunan rumah dan toko yang kami bangun menggunakan dana pribadi,” kata Giwok dengan nada suara keras di depan ratusan anggota Satpol PP yang ikut membantu “penghancuran” itu, Senin (19/4/2021) sekitar pukul 10.00 pagi.

Wartawan Haluanlampung, Gandi, berkesempatan melihat langsung peristiwa tersebut. Haluanlampung mencatat, aksi penggusuran itu dikawal ratusan Polisi Pamong Praja (Pol PP), dibantu personel Polri dan TNI.

Ada dua alat berat di sana. Deru mesin alat penggusur tersebut membungkam suara protes yang diteriakan Adi Giwok dan kawan-kawan.

Baca Juga :  Pesan Puan: Jangan Hambat Angkutan Logistik!

“Suara kami sama sekali tak pernah didengar. Kami menawarkan jalan tengah dengan meminta dialog, tapi dibalas Pemprov dengan cara yang menyakitan begini,” kata Giwok.

“Jika begini, kami tetap akan melakukan perlawanan hukum ke pengadilan,” tambah Giwok.

Giwok kesal, karena penggusuran dilakukan mendadak tanpa pemberitahuan. Ia, mewakili korban lain mengaku diperlakukan seperti sampah.

“Saya sudah menempati lahan itu sejak 2013. Ada pemberitahuan tahun 2019, tapi tak sampai ke kami, hanya hanya sampai Sudaryanto sama Abas. Saya hanya pembeli,” katanya.(GANDI)

Tulis Komentar

News Feed