oleh

Refleksi Pendidikan di Lingkungan Keluarga Sebagai Upaya Pencegahan Korupsi

-Opini-100 views

Oleh : Rahmat Andri Setiawan

“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur” begitulah ucap seorang komedian legendaris tanah air, Kasino Hadiwibowo atau akrab dipanggil Kasino. Rasanya kata-kata itu bukanlah sebuah lelucon, melainkan sebuah representasi keadaan bangsa Indonesia di mata sang komedian tersebut. Hal ini bisa kita benarkan ketika kita memperhatikan realita yang ada bahwa ketidakjujuran seperti perilaku korupsi sering kali terjadi dilakukan oleh berbagai kalangan di berbagai tempat. Media masa pun tidak pernah sepi dari pemberitaan tindak pidana korupsi, mulai yang dilakukan oleh pejabat desa hingga pejabat tinggi negara.

Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index-CPI) tahun 2020, Indonesia hanya meraih skor 37 dan berada di posisi rangking 102. Hal ini bukanlah pencapaian yang baik, melainkan sebuah ‘cambuk’ bagi kita untuk terus berbenah diri. Penanaman nilai-nilai anti korupsi harus dilakukan bagi seluruh elemen bangsa, sebab kejahatan luar biasa (extraordinary crime) ini tidak hanya cukup ditindak melainkan harus diikuti dengan upaya pencegahan.

Bila kita perhatikan, tindakan korupsi kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki posisi jabatan yang strategis. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, bahkan banyak diantaranya menempuh pendidikan tinggi hingga ke luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa setinggi apapun pendidikan formal seseorang tidak menjamin ia terbebas dari perilaku korupsi.

Baca Juga :  Covid Digocek Pemerintah

Pendidikan anti korupsi tidak dapat ditanamkan secara instan dan hanya mengandalkan sekolah. Upaya ini harus ditanamkan sejak dini di lingkungan terkecil yaitu keluarga (rumah). Sebagai tempat pertama seorang anak mengenyam pendidikan dan penanaman ideologi, keluarga memiliki peran yang sangat fundamental dalam menumbuhkan budaya anti korupsi di Indonesia. Sebagaimana yang dikemukakan oleh bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara bahwa alam keluarga adalah sebaik-baiknya tempat untuk melakukan pendidikan individual dan pendidikan sosial. Dapat dikatakan bahwa keluargalah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat pendidikan lainnya untuk pembentukan watak individual sebagai persediaan hidup kemasyarakatan.

Pada momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita merefleksikan diri untuk melihat kembali pola asuh dan pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga sebagai upaya membangun peradaban bangsa yang lebih baik. Pendidikan anti korupsi dapat ditanamkan dari hal-hal kecil yang biasa dilakukan, antara lain sebagai berikut.

Baca Juga :  Covid Digocek Pemerintah

Pertama, menjadi teladan untuk tidak melanggar hukum. Dari hal-hal kecil seperti menaati peraturan lalu lintas, anak akan memperhatikan dan belajar dari perilaku orng tua, kakak, atau orang-orang yang dekat dengan kehidupannya. Ketika ditilang misalnya, anak akan memperhatikan apakah orangtua memilih jujur atau menyuap. Sering tanpa kita sadari hal tersebut akan menjadi pola yang akan diingat dan tertanam dalam diri seorang anak.

Kedua, budayakan sikap jujur. Ajak anak-anak untuk bercerita secara terbuka tentang berbagai hal yang mereka lakukan dan ajarkan untuk berani mengakui kesalahan yang mereka perbuat. Beri apresiasi atas sesuatu yang berhasil mereka lakukan secara jujur. Misalnya ketika mereka mendapat hasil ujian yang belum maksimal namun itu mereka peroleh tanpa menyontek, jangan dimarah! tetap beri mereka apresiasi sembari diajak bicara tentang apa yang menjadi kesulitannya dan beri semangat untuk terus belajar.

Ketiga, biasakan hidup sederhana. Ajarkan anak-anak untuk membeli sesuatu jika memang dibutuhkan. Tekankan bahwa yang terpenting bukanlah baru atau bagusnya, tapi lebih kepada fungsi dan manfaatnya. Orang yang terbiasa hidup sederhana akan senantiasa merasa cukup atas rezeki yang didapat.

Baca Juga :  Covid Digocek Pemerintah

Keempat, biasakan bertanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan meminta anak untuk merapikan kembali mainan yang telah digunakan. Jika merusak mainan biarkan ia untuk mencoba memperbaikinya sendiri. Dukung anak dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Dengan demikian anak akan terbiasa bertanggung jawab dan memahami konsekuensi dari suatu perbuatan.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan di dalam lingkungan keluarga untuk menanamkan pendidikan anti korupsi. Hal-hal yang disebutkan di atas, harus diawali mulai dari diri sendiri kemudian ditanamkan kepada anggota keluarga yang lain dengan diikuti dengan penanaman nilai-nilai agama yang dianut. Dengan demikin, di kemudian hari kasus korupsi di Indonesia akan menurun karena dampak psikologis dan pengetahuan yang telah tertanam dalam mindset generasi emas Indonesia.

Tulis Komentar

News Feed