oleh

SGC Bakar Lahan Hingga Merembet Kebun Warga, Penggiat Lingkungan Desak Pihak Berwenang Tegakkan Hukum

SGC Bakar Lahan tebunya. Pembakaran lahan oleh Sugar Group Company (SGC) adalah pelanggaran hukum pidana. Sebab, selain tidak mengindahkan upaya pemerintah menurunkan efek gas rumah kaca,  telah menyebabkan tanaman di lahan milik warga sekitar ikut terbakar, demikian pengggiat lingkungan hidup mengatakan, Rabu (28/07).

“Kami mendesak semua pihak yang berwenang dalam persoalan SGC bakar lahan ini segera melakukan penegakkan hukum, ” tegas Direktur Lembaga Konservasi (LK) 21, Edy Karizal.

“Perusahaan perkebunan tebu dan produsen gula itu benar-benar tidak mengindahkan aspek lingkungan hidup. SGC selalu membakar lahan setelah panen,” katanya.

Beberapa hari lalu, 25-26 Juli 2021, pembakaran sampai merampat ke 27,5 hektare perkebunan warga hingga rugi kisaran Rp300 juta. Pemilik kebun, Riyono mengalami hal serupa tahun lalu.

Baca Juga :  Semua Sepakat, Laut Kita Memang Kotor

Api mulai merambat di perbatasan perkebunan warga dengan PT Indo Lampung pada Minggu hingga Senin, (25-26/7/2021). Hingga pukul 15.00 WIB, Senin (26/7/2021), api masih terlihat dari Jalan Lintas Timur Sumatera.

“Anak perusahaan SGC, PT Indo Lampung main bakar setelah panen dan apinya menyeberang ke kebun saya,” katanya, Rabu (27/7/2021).

Dikatakan oleh Edy, akibat SGC bakar lahan tebu juga menimbulkan kerusakan ekosistem tanah serta terbunuhnya spesies hewan dan jasad renik yang hidup di perkebunan tebu yang dibakar tersebut.

Hal lain adalah rusaknya udara ekosistem di lingkungan perkebunan tersebut sehingga akan meningkatkan jumlah karbon dioksida (CO2) yang akan berpengaruh terhadap pernafasan mahluk hidup dan juga manusia, katanya.

Baca Juga :  Babak Baru Pengungkapan Kasus Cabul Pamong Kampung, Mabes Polri Segera Tindaklanjuti

Menurut Edy, proses pembakaran lahan ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 32 Tahun 2009 Pasal 69 dan Pasal 108 dan Undang-Undang tentang Perkebunan No 39 Tahun 2014 pasal 2.

UU Lingkungan Hidup No. 32 Tahun 2009 Pasal 69 disebutkan bahwa Setiap orang dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Sementara pasal 108 disebutkan bahwa pembakaran lahan dengan sengaja atau tidak sengaja dapat dipidana.

Perusahaan SGC ini juga diindikasikan telah melanggar Undang-Undang Perkebunan Nomor 39 Tahun 2014 bahwa proses pembakaran lahan saat panen tebu bertentangan dengan azas penyelenggaraan perkebunan (pasal 2) yaitu tentang kelestarian lingkungan hidup dan keberlanjutan. Juga beberapa pasal seperti pasal 32 Pasal 67.

Baca Juga :  Pelantikan Pengurus AWPI Lampung, Gubernur Arinal Terkonfirmasi Hadir

Namun demikian, Lembaga Konservasi (LK) 21 belum berencana melakukan gugatan hukum terhadap pelanggaran yang dituduhkan kepada PT SGC tersebut.

“Sementara ini belum ada rencana kami mengajukan gugatan hukum, sambil menunggu respon pihak terkait,” katanya.

Sayangnya, terkait tuduhan ini belum memperoleh klarifikasi dari management PT SGC. (PK/iwa)

Tulis Komentar

News Feed