oleh

Kejutan di Musda Partai Demokrat Lampung: Sutikno, Ada Apa Dengan Mu?

Nero pun mengungkapkan hal terbaru terkait adanya indikasi adanya politik uang yang katanya sudah ia sampaikan ke DPP Partai Demokrat.

 

BANDARLAMPUNG – Sesuai skenario, Musda DPD Partai Demokrat Lampung yang hanya berlangsung satu hari tak langsung menghasilkan ketua, hingga kemudian tetap menyisakan teka-teki yang mungkin baru terjawab beberapa hari ke depan.

Model demokrasi yang dikembangkan oleh Partai Demokrat kali ini memang tak lazim terjadi.

Namun, menurut Wakil ketua (demisioner) DPD Partai Demokrat Lampung, Nero Koenang, proses musda yang dilakukan partainya justru sangat demokratis dan tertib karena melibatkan semua DPC plus DPP.

“Keuntungannya, dengan model begini, kami yang DPC tak bisa main-main. Kami bisa terhindar dari praktik ‘siram-siraman’ (politik uang) dan mencegah terjadinya percaloan,” katanya.

Nero pun mengungkapkan hal terbaru terkait adanya indikasi adanya politik uang yang katanya sudah ia sampaikan ke DPP.

Baca Juga :  Perkara Pemukul Wartawan Deferi Zan-CS Lanjut, AWPI Apresiasi Kapolres Lampura

“Silakan dipublis. Kami sudah laporkan ada indikasi politik uang yang melibatkan DPC Lampung Barat. Dia orang gak beres, tak konsisten dalam memberikan dukungan,” tegasnya.

DPC tak beres dimaksudnya adalah DPC Lampung Barat yang diketuai Sutikno yang juga menjabat Wakil ketua DPRD Lampung Barat.

Nero menjelaskan, indikasi tak beres Sutikno tercium sangat kuat dengan prilaku cucuk cabut dukungan oleh DPC Lampung Barat.

“Semula, DPC Lampung Barat mendukung Edy. Lalu berubah mendukung Ridho dan mendekati Musda berubah lagi mendukung Edy. Apa-apaan itu,” katanya.

Nero menilai Sutikno telah memberi contoh yang tidak baik. Seharusnya, lanjut dia, sebagai ketua apalagi duduk sebagai wakil ketua di DPRD Lampung Barat, Sutikno harus memberikan teladan yang baik.

Baca Juga :  Gubernur Lampung Membuka Festival Kemilau Tapis Lampung Tahun 2021

Nero mengaku sudah menjelaskan hal itu ke DPP dan mendiskusikannya dengan elit DPP dan DPP PD Lampung.

“Saya pastikan, kepemimpinan Sutikno di Partai Demokrat tamat. Dia tetap bisa menjadi anggota partai, tapi tidak akan pernah bisa menjadi ketua DPC apalagi calon bupati dari Partai Demokrat. Habis masa jabatannya di DPC, dia tak bisa mimpin lagi,” tegas Nero.

Diketahui, PD Lampung memunculkan dua calon yakni Ridho Ficardo, mantan ketua Demokrat Lampung yang pernah menjadi guberbur Lampung satu periode,

Calon lainnya, Edy Irawan, merupakan kader Demokrat yang merupakan kakak politisi Demokrat Andi Arief.

Keduanya berpotensi menjadi ketua terpilih menjadi ketua DPD PD Lampung.

Hampir semua media di Lampung memberitakan keduanya sama-sama memiliki peluang merebut kursi ketua itu.
Dukungan DPC untuk keduanya relatif sama kuat hingga pemenangnya harus ditentukan oleh suara DPP Partai
Demokrat. Bahkan, kalangan media menyebutnya, siapa pun ketuanya sangat tergantung pilihan AHY.

Baca Juga :  Indikasi Pemalsuan Dokumen Organisasi, AWPI Lampung Akan Laporkan Nadiyanto CS Ke Polda

Ridho sendiri, dengan gayanya santai mengaku tidak mengetahui persis jumlah suara yang mendukungnya. Tapi dia bersyukur dukungan 20 persen DPC sudah diraihnya.

Dukungan 20 persen itu adalah syarat untuk maju pencalonan.

Sementara Edy, kakak kandung Andi Arief, kader PD yang tersohor kelas nasional dan sangat dekat dengan AHY, seperti biasa masih sedikit bicara.

Namun kemunculan Edy masuk pusaran calon ketua DPD PD Lampung telah memberi warna baru dalam kaderisasi kepemimpinan di Lampung yang selama ini dinilai mandeg.(IWA)

Tulis Komentar

News Feed