oleh

Taman Gajah Kian Merana

MULAI tahun 2022, Taman Bermain Elepant Park tak lagi tersentuh anggaran. Ini berarti, taman yang dikenal sebagai taman gajah ini tak lagi diurus oleh Pemerintah Provinsi Lampung.

Tersiar kabar, Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terletak di jantung kota itu akan dibangun masjid. Isu akan ada pembangunan masjid di lokasi itu ramai diberitakan media online di Lampung pada Senin (13/12).

Dilaporkan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisparekraf) Lampung Edarwan mengatakan bahwa pihaknya tidak ada anggaran untuk taman itu pada tahun 2022 karena ada rencana penggunaan lain dan belum dituntaskan.

Endarwan juga mengatakan Taman Gajah Lampung maupun GOR Saburai direncanakan dibangun masjid.

“Rencananya dibangun masjid di sana termasuk taman tersebut, maka dari itu tidak dianggarkan di tahun ini,” katanya.

Jika pembangunan masjid ini terealisasi, maka dipastikan akan berimplilikasi hilangnya ruang terbuka hijau di Bandarlampung yang sulit dicarikan pengggantinya.

Di sisi lain, mengubah taman menjadi masjid (sebenarnya ada banyak masjid di sekitar taman ini) akan menyebabkan hilangnya kesempatan para pedagang kaki lima untuk berjualan di sekeliling taman itu.

Di lokasi Taman gajah, sejak setahun ini, memang ramai disesaki para pedagang kaki lima. Mereka memanfaatkan keramaian Taman Gajah, lalu berjualan macam-macam jajanan, makanan dan minuman.

Sejauh ini, keberadaan para pedagang kaki yang ramai di malam hari dirasa tak begitu mengganggu, dan sebaliknya justru menghidupkan kota.

Keberadaan para pedagang kaki lima dan keramaian pengunjung di sana, telah memberi makna, bahwa Bandarlampung adalah sebuah kota besar yang tak kalah dengan kota-kota lainnya.

Sebaiknya, pemprov sebelum memutuskan mengganti taman gajah dengan bangunan lain, bertanya dulu ke masyarakat.

Baca Juga :  Wow, Uji KIR di UPT PKB Dishub Tak Sampai 5 Menit

Berkoordinasilah dengan Pemkot Bandarlampung atau setidaknya dengarkanlah suara hati para pedagang yang sudah berhasil menjadikan kawasan ekonomi.

Tentu, sudah bisa dipastikan, rencana membangun masjid itu akan ditentang para pedagang.

Seperti yang diungkap pedagang bernama Sumi, ia mengatakan tidak setuju jika Taman Gajah digantikan dengan bangunan lain.

“Tidak setuju, buat apa sih. Masjidnya sudah ada, jadi untuk apa digantikan nanti malah membuat kisruh saja. Lebih baik diperbaiki saja fasilitas apa yang sudah tidak layak di perbaiki saja,” jelasnya.

Riwayat Elephant Park

Minggu sore, 17 Februari 2019, Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo meresmikan Taman Bermain Anak Elephant Park yang berlokasi di Enggal Saburai Pusat. Peresmian ditandai penandatanganan prasasti dan pelepasan balon ke udara.

Pada awalnya, ada banyak fasilitas yang bisa dinikmati di taman yang dirangcang pas untuk bersantai semua kelompok usia.

Dulu, di sana ada fasilitas Lapangan Multifungsi (basket dan futsal), Lapangan Skateboard, Musala, Air Mancur, Spot Foto Lukisan 3D, lampu bertuliskan love dan lainnya.

Di Elephant Park ini juga sempat marak penyelenggaraan live musik yang bisa dinikmati oleh seluruh warga kota Bandar Lampung.

Pembangunan taman Ruang Terbuka Hijau ini mulai di-planning pada Februari 2018, digagas oleh Gubernur Ridho Ficardo.

Ridho berinisiatif merevitalisasi Lapangan Merah dan Pasar Seni Enggal yang merupakan lahan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Lokasinya tak begitu luas, hanya 15 ribu meter persegi.

Pembangunan taman ini didasari pemahaman Ridho tentang pentingnya sebuah kota memiliki ruang terbuka hijau sebagai paru-paru kota.

Katanya, pembangunan Lampung Elephant Park bertujuan untuk memberikan rasa nyaman untuk berkumpul bersama keluarga bagi masyarakat dengan berbagai kalangan usia di Bandarlampung sebagai ibu kota Provinsi Lampung.

Baca Juga :  Uji KIR Super Cepat, DPRD Bandar Lampung Segera Sidak UPT PKB Dishub

“Kita ketahui bahwa dari penilaian Indeks Kebahagiaan Provinsi Lampung yang diukur melalui kota Bandar Lampung ternyata cenderung kurang bahagia. Nyatanya variabelnya adalah kurangnya ruang terbuka publik atau RTH untuk masyarakat Lampung khususnya kota Bandar Lampung,” ujar Ridho saat peresmian.

Ridho mengatakan sebenarnya bukan kewenangan Pemprov Lampung untuk menyediakan area RTH tersebut. Tetapi dengan bentuk kepedulian akan penilaian Indeks Kebahagian yang dinilai kurang, maka Gubernur Ridho menginisiasi pembangunan RTH tersebut.

“Sebenarnya bukan tugas dari Pemprov Lampung untuk menyediakan ini melainkan Kabupaten/Kota, tetapi tidak salah bila Pemprov Lampung membahagiakan warga masyarakat dengan menyediakan RTH ini dari aset Pemprov Lampung. Kita memiliki lahan untuk memberikan manfaat baik pemerintah dan juga masyarakat baik langsung maupun tidak langsung,” katanya.

Ridho menyampaikan berangkat dari ide iseng namun untuk bermanfaat, nyatanya antusiasme masyarakat akan hadirnya Lampung Elephant Park sangat tinggi.

“Jadi sekalian saja kita teruskan pembangunannya, karena melihat masyarakat sangat haus akan RTH dan langsung direspon oleh Pemprov Lampung. Ketika Pemprov Lampung membuat suatu kebiajakan harapannya memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain menyiapkan kenyamanan di RTH, Ridho juga menuturkan area tersebut harus juga dilengkapi dengan fasilitas kesehatan.

“Kita juga harus bisa menjaga warga masyarakat seperti penyediaan layanan kesehatan disini. Untuk itu mari kita jaga sama-sama area ini,” ucapnya.

Tidak hanya itu, dari antusiasme masyarakat terhadap hadirnya RTH di Lampung Elephant Park, Ridho berkeinginan untuk mereplikasi juga ditempat umum lainnya.

Baca Juga :  Kabar Tak Sedap Dibalik Sukses Festival Mobil Hias

Yusuf Kohar dan Kisah ‘Belalai’ Anak Punk

ELEPHANT Park atau Taman Gajah memang tak ada gajahnya. Di sana hanya ada taman dan tempat duduk, tak begitu luas, dan beberapa bangunan kecil seperti musala.

Saat diresmikan Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo pada 17 Februari 2019, taman yang berada di areal ‘petak emas’ Saburai ini terlihat indah dan sempat menjadi tempat ‘pernongkian’ anak muda.

Namun itu tak berlangsung lama. Taman gajah yang harusnya menjadi monumen keabadian Ridho Ficardo mulai tak terurus, seiring bergantinya gubernur.

Masih teringat kala peresmian dulu. Ridho membawa Yustin, istrinya, dan tiga putra-putrinya ke sana. Senyum Yustin dan Ridho mengembang, indahnya, saat balon udara terbang ke angkasa.

Tapi, kefanaan dunia telah mengubah semuanya, apalagi setelah Ridho tak jadi gubernur, kondisi taman gajah terus merana.

Setiap malam, anak-anak punk ramai nongki. Taman menjadi kumuh dan tak nyaman.

Bahkan, mantan Wakil Walikota Bandarlampung M Yusuf Kohar pernah murka ketika ia memergoki anak punk mengeluarkan ‘belalai’, lalu nguyuh, membasahi tempat duduk-duduk yang ada di taman itu.

“Kurang ajar, kencing sembarangan,” kata Kohar yang buru-buru turun dari mobilnya. Tapi ia urung turun setelah wartawan Haluan Lampung mencegah niatnya.

“Lokasi ini mesti dijaga, harus tetap bersih karena cuma ini yang kita punya. Besok harus ada Pol PP yang tugas malam,” kata Kohar yang selama perjalanan malam itu tak berhenti ngoceh tentangnya kebersihan dan kenyamanan kota.

(iwa)

Tulis Komentar