oleh

Optimis untuk Mati (Bunuh Diri)

ORANG yang bunuh diri adalah orang yang optimis. Optimis untuk menamatkan kehidupannya, namun gamang menghadapi tantangan hidup, cemas menatap hari depan.

Optimisnya orang bunuh diri barangkali, mengalahkan optimis yang ditanam ke sanubari para juara-juara, bahkan bukan tandingan bagi para pejuang. Sebab, bunuh diri, untuk mati, dilakukan tanpa pamrih.

Itu sebabnya, orang bunuh diri bebas memilih cara terbaik untuk mati, di mana biasanya bergantung pada pengetahuan dan tingkat ekonomi.

Dulu, di sini, banyak orang yang memilih racun serangga sebagai media bunuh diri. Hal itu, mungkin karena harga racun serangga relatif murah dan ‘tidak menyakitkan’.

Belakangan, kasus bunuh diri dengan meminum racun serangga jarang terdengar, mungkin dianggap tidak ampuh lagi, lalu beralih ke cara lain yang lebih ekstrim, meski lebih menyakitkan.

Seperti menggunanakan senjata api yang banyak digunakan orang-orang stress di negara-negara maju.

Seperti ditulis Wikipedia: Bunuh diri (bahasa Inggris: suicide, berasal dari kata Latin suicidium, dari sui caedere, yang berarti “membunuh diri sendiri”) adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri.

Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan gangguan jiwa misalnya depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alkohol/alkoholisme, atau penyalahgunaan obat.

Depresi atau stres disebabkan antara lain kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan interpersonal sering kali ikut berperan.

Dituliskan Wikipedia, upaya untuk mencegah bunuh diri antara lain adalah dengan pembatasan akses terhadap senjata api, merawat penyakit jiwa dan penyalahgunaan obat, serta meningkatkan kondisi ekonomi.

Namun, kabar terbaru melaporkan Swiss telah mengizinkan penggunaan mesin kapsul berbentuk peti untuk membantu orang yang ingin melakukan eutanasia atau tindakan mengakhiri hidup secara sengaja.

Philip Nitschke, direktur organisasi nirlaba yang mengembangkan mesin kapsul tersebut, Exit International, mengatakan bahwa pihaknya tak mendapati masalah hukum untuk mengoperasikan produk mereka tersebut.

“Tidak ada sama sekali masalah hukum,” kata dia kepada Swiss Info, sebagaimana dilansir The Independent.

Tapi di sini, penggunaan senjata api, atau benda yang oleh otoritas pemerintah Swiss disebut legal dan tidak bertentangan dengan hukum, jelas terlalu mewah karena mahal dan sulit untuk memperolehnya.

Maka, tiang gantungan dan bantuan tali pun dipresiksi tetap akan menjadi pilihan.

Tentunya dengan beberapa  penyesuaian-penyesuaian yang disesuaikan dengan kemampuan, tanpa membeli, atau hanya dengan menggunakan kain atau tali yang ada di rumah.

Seperti yang terjadi di Dusun Gunungrejo Kecamatan Gedongtataan, kemarin, ada orang yang bunuh diri menggunakan seutas pelepah daun pisang sebagai pengganti tali.

Jelas, pelakunya optimis sekali.(*)

 Iwa Perkasa

 

Tulis Komentar

Baca Juga