oleh

Kembali ke Telur Harganya Sudah Turun Kok!

-EKOBIS, Opini-603 Dilihat

Kembali ke telur harganya sudah turun. Kabar ini sengaja kami siarkan supaya diketahui masyarakat luas. Ketahuilah, telur itu mengandung protein tinggi yang sangat dibutuhkan tubuh. Jadi, kembalilah ke telur karena harganya sudah turun dan diprediksi akan terus turun. 

 

TELUR adalah parabola yang lonjong. Berwujud tak bersudut, rentan pecah, imut, dan tak bisa disimpan lama. Begitulah wujud telur ditakdirkan Tuhan demi kemaslahatan ayam atau hewan bertelur lainnya agar nyaman, terbebas dari kesusahan atau kesakitan pada saat bertelur dan mengeraminya.

Bayangkan, bila telur berbentuk kotak atau segi tiga, jelas sangat menyiksa.  Dan coba bayangkan pula bila telur berbentuk tombak yang berujung lancip dan keras, atau berwujud boneka hello kitty yang kenyal tapi susah pecah….

Telur, terutama telur ayam juga memberikan banyak manfaat dalam kehidupan. Telur memiliki protein tinggi yang dibutuhkan manusia. Seluruh manusia di dunia pasti memakannya, meski ada yang tidak suka bila disajikan dalam wujud aslinya.

Baca Juga :  BRI Tobelo Launching Pasar ID dan Panen Hadiah Simpedes

Telur yang berharga murah, sesungguhnya adalah kemewahan yang diberikan Sang Pencipta untuk seluruh umat manusia, hingga kita lupa memberi apresiasi kepada ayam, sang pemilik asli. Ayam wajib ridho (meski sering ngamuk bila telurnya hilang) menjalani suratan hukum alam.

Telur  dijual massal, ada di mana-mana dan dikonsumsi orang kaya hingga orang “tak punya apa-apa”.

Telur adalah menu dunia, disajikan di warung kaki lima yang sumpek hingga bersanding dengan menu mewah lainnya di hotel-hotel berbintang.

Sebagai komoditi yang diproduksi massal, telur termasuk jenis barang yang wajib dipantau ketersediannya oleh pemerintah demi memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

Di samping itu, telur termasuk salah satu jenis barang esensial yang masuk dalam kelompok barang makanan. Pergerakkan harga ‘calon anak ayam’ itu menjadi indikator penting untuk mengukur tingkat inflasi/deflasi nasional dan daerah.

Baca Juga :  BRI Tobelo Launching Pasar ID dan Panen Hadiah Simpedes

Seperti komoditi bahan makanan lainnya, harga telur juga mengalami naik turun. Namun jarang sekali disebabkan oleh praktik curang para spekukan yang relatif tidak mungkin melakukan penimbunan karena telur yang tidak bisa disimpan lama.

Harga telur biasanya melonjak pada masa-masa tertentu (insidental) saat permintaan pasar meningkat, seperti menjelang ramadan, lebaran dan natal serta tahun baru yang baru saja kita lewati.

Selepas itu, harga telur akan kembali turun ke posisi idealnya dan naik lagi-turun lagi, mengikuti garis takdir, yakni grafik parabola lonjong.

Kenaikkan harga telur jarang sekali menimbulkan kehebohan di masyarakat. Tidak pernah ada unjuk rasa di jalan gegara harga telur naik. Tidak seperti kenaikkan harga BBM yang selalu memberi efek kenaikkan pada harga komoditi dan tarif serta memanaskan suhu politik.

Bila harga telur terasa mahal, masyarakat akan mengalihkan ke bahan makanan lain yang harganya lebih terjangkau. Pemerintah biasanya juga cepat-cepat melakukan operasi pasar (OP) untuk menahan harga telur tidak terus meninggi.

Baca Juga :  BRI Tobelo Launching Pasar ID dan Panen Hadiah Simpedes

Namun, tujuan OP bukan semata untuk menahan kenaikkan harga, melainkan juga untuk menjamin kemampuan masyarakat memperoleh protein dengan harga yang terjangkau.

Kini, di awal tahun 2022, harga telur mulai menuju ke garis landainya, setelah dengan cepat menanjak
sejak pertengahan Desember 2021 lalu.  Kini harga telur Rp395 ribu per karpet (setara 15 kg), sebelumnya Rp410 ribu/karpet. Turun sedikit, dan diprediksi akan terus turun hingga ke harga idealnya.

Telur adalah parabola yang lonjong. Harganya ada kala naik, ada masanya turun.

Jadi kembalilah ke telur, harganya sudah turun kok.

Selamat tahun baru.

Selamat makan telur.

Iwa Perkasa

Pemimpin Redaksi Haluan Lampung

Tulis Komentar

Baca Juga