oleh

Kaya Sapi, Lampung Miskin Kreasi

Kaya Sapi, Lampung Miskin Kreasi

Oleh: Iwa Perkasa*

LAMPUNG berjaya karena provinsi ini kaya akan komoditi pangan. Lampung lima besar penghasil padi di Indonesia dan menjadi produsen jagung terbesar bersama Provinsi Gorontalo. Selain itu, Provinsi Lampung juga kaya sapi, penghasil daging sapi terbesar di Tanah Air, bahkan ikut memasok kebutuhan daging dunia.

Asal tahu saja, rendang yang terkenal paling enak di dunia, dagingnya berasal dari industri peternakan sapi di daerah ini. Bahkan hampir semua orang di DKI Jakarta mengomsumsinya, termasuk Presiden Jokowi.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi pun pernah sengaja datang ke provinsi ini. Dia minta daging sapi, lantaran daerahnya tidak mampu memenuhi daging sapi sendiri.

Mahyeldi datang ke Lampung pada Jumat, 11 November 2021 lalu. Ia datang penuh harap, bahkan sempat menelisik (benchmarking) ke lokasi peternakan sapi PT Juang Jaya Abdi Alam, Lampung
Selatan.

Kini, menjelang Idul Adha, tentu kebutuhan sapi di Ranah Minangkabau sedang tinggi. Biasanya, kata Mahyeldi, kampung halamannya membutuhkan 50 ribu sapi untuk kebutuhan Hari Raya Idul Adha, apalagi Idul Fitri, bisa lebih banyak lagi.

Kebutuhan daging sapi kurban di Sumatera Barat memang selalu naik berlipat-lipat saat jelang hari raya Idul Adha karena masyarakat di Sumbar sejak dulu mentradisikan menyembelih sapi. Kambing jarang sekali.

Meski disebut berlimpah daging sapi, tapi Provinsi Lampung tetap harus dikritik. Bukan karena harga daging sapi di sini sama mahalnya dengan daerah lain, melainkan karena tidak adanya kebanggaan masyarakat terhadap sebutan ‘Lampung Penyangga Daging Sapi Nasional’.

Mengapa demikian?

Lampung dikenal sebagai daerah banyak begal. Pemberitaan soal kejahatan itu ramai dikabarkan media setiap hari, tersiar ke mana-mana dan selalu menjadi isu penting setiap pergantian komandan polisi.

Berita soal keberhasilan Lampung menjadi produsen sapi terbesar hanya muncul sekali-kali, biasanya kalau ada menteri. Itu pun dipromosikan dalam bentuk narasi dan angka-angka atau data statistik yang sulit dipahami.

Terakhir, tersiar pula kabar hewan ternak di sini banyak yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sapi dan kambing asal Lampung yang dikirim ke Batam banyak yang mati.

Itu kabar buruk sekali untuk sebuah daerah yang disebut sebagai daerah Penyangga Kebutuhan Daging Sapi Nasional. Bagi masyarakat kebanyakan, sebutan itu hanya sekadar bunyi-bunyian, tidak dapat dibanggakan. Tidak punya roh, sebab masyarakat tidak tahu, sapi yang katanya banyak itu ada di mana. Jadi daerah penyangga, tapi harganya tetap saja mahal.

Provinsi Lampung tak pandai memanfaatkan momentum. Tidak pandai mengolah potensi. Tidak jeli dan miskin kreasi.

Bayangkan, bila ada kontes ‘sapi ganteng cantik’ ada di sini. Ini lebih menarik dan menguatkan sebutan masyur “Lampung Produsen Sapi” menjadi lebih membumi.

Madura bisa, mengapa Lampung Tidak!

*Pemimpin Redaksi Haluan Lampung

Tulis Komentar