oleh

Anda Bergaji Rendah, Diabet dan Mudah Marah? Waspadalah! Itu Gejala Demensia

Anda Bergaji Rendah, Diabet dan Mudah Marah? Waspadalah, mungkin Anda sudah menderita demensia.

Demensia adalah penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya.

Referensi lain menjelaskan demensia merupakan salah satu masalah kognitif yang berkembang seiring bertambahnya usia.

Sekarang Anda mungkin masih berusia muda, tapi gejala ringan demensia boleh jadi sudah mengidap pada diri Anda.

Dan tahukah Anda, resiko terkena demensia di kemudian hari, kini makin banyak menyerang orang-orang bergaji rendah.

Di Inggris, diperkirakan sekitar 676.000 memiliki demensia yang berkaitan dengan penurunan fungsi otak.

Petugas medis di sana telah memperingatkan bahwa mereka yang memiliki pekerjaan dengan gaji rendah lebih berisiko menderita demensia.

Risiko paling tinggi, menurut para ahli di Columbia University Mailman School of Public Health kerap dialami pekerja yang bergaji rendah terus menerus alias tidak naik-naik.

Pekerja pada kelompok ini paling berpotensi mengalami penurunan kognitif lebih cepat yang dipicu oleh depresi, obesitas dan hipertensi yang berujung pada penurunan kesehatan otak.

Adina Zeki Al Hazzouri, PhD, asisten profesor epidemiologi di Columbia Mailman School dan Columbia Butler Aging Center mengatakan perubahan kebijakan mengenai gaji akan bermanfaat bagi kesehatan kognitif.

“Memilih pekerjaan di masa mendatang perlu mempertimbangkan risiko demensia dan penuaan kognitif,” kata Adina dikutip dari The Sun.

Jenis demensia yang paling sering terjadi adalah penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Alzheimer adalah jenis demensia yang berhubungan dengan perubahan genetik dan perubahan protein di otak.
Sedangkan, demensia vaskular adalah jenis demensia akibat gangguan di pembuluh darah otak.

Perlu diingat, demensia berbeda dengan pikun. Pikun adalah perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia. Perubahan tersebut bisa memengaruhi daya ingat, tetapi tidak signifikan dan tidak menyebabkan seseorang bergantung pada orang lain.

Selain penyakit Alzheimer dan demensia vaskular, ada juga kondisi-kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala demensia, tetapi sifatnya sementara.

Kondisi tersebut meliputi: kelainan metabolisme atau endrokrin, Multiple sclerosis, Subdural hematoma,
Tumor otak, Efek samping obat (seperti obat penenang dan obat pereda nyeri), kekurangan vitamin dan mineral tertentu, seperti kekurangan vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12, vitamin E, dan zat besi dalam tubuh, keracunan akibat paparan logam berat, pestisida, dan konsumsi minuman beralkohol.

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko demensia, yaitu: Pertambahan usia, Riwayat demensia dalam keluarga, Pola makan tidak sehat, Jarang berolahraga, Kebiasaan merokok, dan Kecanduan alkohol.

Selain itu, ada beberapa penyakit yang juga berisiko menimbulkan demensia, antara lain: Sindrom Down, Depresi, Sleep apnea, Obesitas, Kolesterol tinggi
Hipertensi, da Diabetes.

Gejala  Demensia

Gejala utama demensia adalah penurunan memori dan perubahan pola pikir yang tampak pada perilaku dan cara bicara. Gejala tersebut dapat memburuk seiring waktu.

Gejala Tahap 1 biasanya tidak terlihat dimana kemampuan fungsi otak penderita masih normal.

Tahap 2 mulai ada gangguan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari. Contohnya, penderita menjadi sulit melakukan beragam kegiatan dalam satu waktu, sulit membuat keputusan atau memecahkan masalah, mudah lupa akan kegiatan yang belum lama dilakukan, dan kesulitan memilih kata-kata yang tepat.

Tahap 3 mulai terjadi gangguan mental organik. Penderita dapat tersesat saat melewati jalan yang biasa dilalui, sulit mempelajari hal baru, suasana hati tampak datar dan kurang bersemangat, serta mengalami perubahan kepribadian dan penurunan kemampuan saat bersosialisasi.

Pada tahap 4 penderita mulai membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berpakaian dan mandi.

Penderita juga mengalami perubahan pola tidur, kesulitan dalam membaca dan menulis, menjadi apatis, menarik diri dari lingkungan sosial, berhalusinasi, mudah marah, dan bersikap kasar.

Lalu pada Tahap 5, seseorang dapat dikatakan mengalami demensia berat. Demensia pada tahap ini menyebabkan penderita tidak dapat hidup mandiri. Penderita akan kehilangan kemampuan dasar, seperti berjalan atau duduk, tidak mengenali anggota keluarga, dan tidak memahami bahasa.

Entahlah, Anda sudah berada pada tahap berapa. Tapi, jika Anda sudah merasakan gejala awalnya, ada baiknya memeriksakan diri ke dokter.

Gejala awalnya adalah:
Mudah lupa
Sulit mempelajari hal baru
Sulit konsentrasi
Sulit mengingat waktu dan tempat
Suasana hati tidak menentu
Sering kehilangan benda akibat lupa tempat meletakkannya
Sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara
Apatis atau tidak perduli terhadap lingkungan sekitar
Sering mengulang aktivitas yang sama tanpa disadari
Sulit melakukan aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari

Semoga Anda sehat-sehat aja.(dbs/iwa)

Tulis Komentar