Pak Bambang, Saya dan Desi

oleh : Iwa Perkasa 

KABAR berpulangnya Pemimpin Umum Lampung Post Bambang Eka Wijaya, Senin (13/03/23) siang, sontak membuat masyarakat Lampung berduka. Ucapan duka datang dari mana-mana dan hingga Senin malam rumah duka di Bataranila Bandarlampung masih ramai oleh pelayat.

Bacaan Lainnya

Kedukaan atas kepergiannya menghadap Ilahi dituliskan oleh ratusan wartawan eks Lampung Post di WAG SAHABAT EKS LAMPOST yang memang selalu ramai setiap hari.

Satu pesan yang menarik berasal dari Desi. Saya lupa nama lengkapnya. Desi adalah eks wartawan Lampung Post. Ia menulis, “Pak Bambang bapak yang baik.”

Saya mengenal Desi sejak dia bergabung di Lampung Post pada 1994-1998. Waktu itu saya menjadi wartawan ekonomi dan Desi, seingat saya menjadi wartawan olah raga.

Desi bukan asli warga Bandarlampung, tapi saya cukup dekat dengan dirinya. Saya menyukainya karena dia tomboy. Setiap hari pakai jins dan kaos serta sepatu skets.

Barangkali, karena penampilannya yang ‘macho’ itulah yang menghantarkannya menjadi wartawan Metro TV. Sejak pindah ke Jakarta, ia sering tampil di layar Metro TV untuk melaporkan peristiwa bom meledak dan penangkapan teroris.

Kemarin malam, saya mengirim pesan ke akun WA pribadinya.

“Bisakah Desi menuliskan satu kutipan pendek tentang Pak Bambang,” tulis saya.

“Sang Penolong Lampung Post,” jawabnya beberapa detik kemudian.

Saya bisa paham, apa yang dimaksud Desi sebagai Sang Penolong. Dugaan saya, itu terkait dengan peristiwa 1999, di mana pada saat itu Pak Bambang, yang ia anggap sebagai bapaknya sendiri, tetap bertahan di Lampung Post, menjaga gawang media terbesar di Lampung saat itu dan pelan-pelan memulihkan keadaan.

“Saya tidak di Lampung Post pada peristiwa itu, karena saya sudah di Metro TV. Tapi saya bisa merasakan kesulitan Pak Bambang kala itu,” tulisnya lagi.

Sama seperti Desi, kala peristiwa kelam itu terjadi, saya juga tidak bekerja lagi di Lampung Post. Dan sama seperti Desi, saya merasakan sekali betapa ‘repotnya’ Lampung Post pada masa itu.

Suatu hari, Pak Bambang meminta saya datang ke Lampung Post untuk membantu, tentu saja untuk mengatasi kesulitan redaksi yang kedodoran.

Saya sempat beberapa hari membantu mengisi halaman ekonomi, dengan syarat saya bekerja di bawah, di kantor PWI. Berita yang saya tulis saya kirim ke atas dengan menggunakan disket.

Itu tidak lama, sebab saya memilih bergabung dengan Trans Sumatera yang belakangan tidak berumur panjang.

Untuk keputusan itu, saya harus berbohong kepada Pak Bambang. “Maaf Pak, saya masih bekerja di media xxxxx milik Pak xxxxx.”

Dengan menyebut nama pemilik media itu, saya meyakini Pak Bambang harus berpikir panjang, dan kebohongan saya berhasil. “Iya, nanti-nanti juga tidak apa-apa. Tapi tolong cepat diurus, kita mau segera. Tolong diurus, biar tidak ada masalah,” kata Pak Bambang di ruangan Redpel yang biasa dihuni Bang Syamsul Nasution.

Lalu, sekitar pukul 21.14 WIB, Desi kembali mengirim pesan, “Pak Bambang Penolong, Pengajar, Pembimbing.”

Berikutnya dia menulis, “Udah kayak bapak sendiri…Sedih. Nyesel gak pernah nemuin,” tulisnya dengan akhir emotikon sedih.

Desi menangis….

Innalilahi wa Inna ilaihi rajiun. Selamat jalan Pak Bambang

 

Pemimpin redaksi Haluan Lampung 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan