Bandar Lampung – Warga Kelurahan Rajabasa Jaya semakin geram setelah hampir dua bulan hidup dengan aliran listrik yang tidak stabil. Tegangan drop, lampu meredup, hingga peralatan elektronik rusak satu per satu menjadi keluhan utama masyarakat yang merasa kualitas layanan PLN makin menurun.
Selama periode tersebut, warga telah melayangkan berbagai laporan lewat email, aplikasi PLN Mobile, hingga pesan langsung ke akun resmi PLN 123. Balasan otomatis memang diterima, lengkap dengan nomor tiket seperti G17251112000775, G17251112001027, G17251112000529, G17251112000707, dan G1725112000830, namun warga menilai tidak ada tindakan nyata di lapangan yang mengarah pada perbaikan.
“Kami sudah capek. Lampu redup, rumah gelap, kulkas rusak, alat elektronik mati. Sampai kapan PLN seperti ini?” keluh Agriansyah, warga Rajabasa Jaya, Kamis (27/11/25). Menurutnya, tegangan listrik yang naik-turun bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga.
Respons PLN yang dinilai hanya sebatas formalitas membuat kekecewaan warga semakin besar. Beberapa di antara mereka mengaku kulkas rusak, televisi restart sendiri, hingga AC tak lagi bisa digunakan. Kondisi ini juga meningkatkan potensi korsleting dan kebakaran, mengingat lingkungan tersebut cukup padat penduduk.
Selain meminta perbaikan instalasi, warga mendesak PLN untuk menambah gardu karena diduga beban listrik di wilayah Rajabasa Jaya sudah melampaui kapasitas. Namun hingga kini, permintaan tersebut belum membuahkan hasil.
Sekretaris DPW Persatuan Gerakan Kebangsaan (PGK) Lampung, Idiyanto, S.Sos, turut menyoroti buruknya pelayanan PLN. Ia menyebut kondisi yang dibiarkan hingga dua bulan tanpa perbaikan merupakan bentuk ketidakprofesionalan penyedia layanan publik. Menurutnya, PLN seharusnya segera melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan solusi konkret.
“Ini bukan gangguan biasa. Dua bulan warga dibiarkan seperti ini jelas tidak bisa ditoleransi,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kerugian warga akibat kerusakan alat elektronik harus mendapat tanggung jawab dari PLN.
Idiyanto juga mengingatkan bahaya korsleting sebagai ancaman nyata di tengah tegangan listrik yang tidak stabil. Ia mendesak PLN untuk tidak hanya mengirim balasan template, tetapi memberikan langkah konkret di lapangan.
Hingga berita ini diterbitkan, warga Rajabasa Jaya masih menunggu tindakan nyata dari PLN, bukan sekadar kalimat standar “Laporan Anda sedang ditindaklanjuti.”





