Bawaslu, Kita, dan Kaki Gunung Salak

Ismi Ramadhoni, S.H.

Kader Pengawas Partisipatif

Bacaan Lainnya

Setahun lalu sebelum semua hadir di suatu penginapan unik di Kaki Gunung Salak, di grup whatsapp telah ramai berdentang soal pasukan yang sudah menginjakkan kaki lebih dahulu, beberapa perwakilan provinsi mengirimkan potretnya tentang kesiapan mengikuti agenda nasional sekolah kader pengawas partisipatif.

Bawaslu RI menjembatani berkumpulnya anak negeri, agenda tahunan yang pada tahun itu mungkin akan menjadi angkatan pamungkas dari program yang masuk dalam RPJMN juga masuk ke relung hati yang mungkin pula abadi.

Kami sembilan berangkat dengan riang sebagai wakil dari Sai Bumi Rua Jurai Lampung, mengikuti tingkat lanjutan sebagai kader pengawas, di Bandara Raden Inten II, kolega kami Afat Satria terpaksa tertinggal dari rombongan karena aturan vaksin ketiga sebagai syarat penerbangan, akhirnya Mantum PMII Lampung Utara itu membersamai Ketua Bawaslu Lampung periode 2017-2022 Mbak Khoir melalui jalur darat.

Akhirnya pada hari ini setahun yang lalu, kami tiba sekira pukul 4 sore setelah melewati jalur penerbangan dan darat dari Bandara Soetta menuju suatu daerah di Kabupaten Bogor itu. Seusai registrasi, kami akhirnya masuk kamar masing-masing yang bernuansa indiana itu, ternyata telah di dahului oleh Rofiq salah satu wakil Bumi Rafflesia dan Cep Wilman aktivis GMNI asal Cimahi mewakili Provinsi Jawa Barat. Kami berkenalan dan tak perlu waktu lama untuk saling akrab di kamar yang berpangkal angka 7 itu.

Syarif Irawan teman kami dari Lampung mendapatkan kamar dekat dengan ballroom tempat pelaksanaan kelas belajar, namun ia kabur dari kamar itu, karena teman kamarnya merupakan perwakilan dari kelompok disabilitas. Entah apa yang dipikirkan Syarif, fans Menhan itu pada malam hari terengah sembari menunggang kopernya menuju mobil antar jemput hotel ke kamar, dan entah bagaimana ceritanya akhirnya Syarif satu kamar dengan Erik Fauzi perwakilan Papua.

Malam hari itu, langsung dimulainya agenda pertama yakni terkait kontrak belajar demi keteraturan forum, maka dibentuklah ketua kelas, cukup banyak pilihan, namun yang terpilih adalah Sahabati Nur Amala aktivis perempuan pengurus Korpri PB PMII. Sebagai ahli hisap, kami berdaulat menyerahkan sebagian hak kami untuk tidak merokok dalam kelas dan dari segala aturan yang mewajibkan kami supaya bangun pagi untuk ikut senam, padahal biasanya subuh kami baru terlelap seusai diskusi tentang geopolitik dunia dan menggunjing istana negara.

Baca Juga  Bawaslu Kota Bandarlampung Patroli Hak Pilih Pemilu 2024

Malam perdana itu, kami juga dipertemukan kembali, setelah 3 tahun berlalu dengan Bagus Indra dan Muhammad Rajief, kami pernah menghadiri Munas BEM Hukum se-Indonesia di Unud Bali 2018, Bagus sebagai tuan rumah dan Rajief mewakili BEM kampusnya di Aceh.

Table democracy telah dimulai di lantai dua tempat meja makan, sebuah potret yang kerapkali di perlihatkan Maulana Taslam eks Gubernur BEM FH UNIB, terlihat selepas agenda menstrukturisasi forum dinamis tersebut, semua yang hadir tentu memiliki banyak kelebihan baik di dunia pergerakan, advokasi sosial, memperjuangkan kelompok rentan dan dari hati yang berangkat dengan berbagai macam prasangka.

Seminggu disana selain mendapatkan wawasan dan konsentrasi memahami metode demokrasi secara memdalam, pada setiap materi kami diwajibkan untuk berkelompok dengan anggota yang terus menerus berganti, dengan harapan kami bisa secara menyeluruh mengenal dan bercengkrama selama pelatihan.

Dan bukan hanya saling mengenal, ada beberapa bagian melampaui menandakan bertumbuhnya suatu hal berbeda yang konon hanyut melibatkan perasaan, bahkan Denny perwakilan Jatim membuat syair yang dibacakannya malam perpisahan, “…Bahkan aku tak memperdulikan siapa diriku…”, Denny telah jatuh hati pada perempuan rahasia di arena itu.

Belum lagi yang tak nampak soal terhubungnya asmara dengan jarak hingga rasa yang tak setimpal menjadi soal seperti Aceh dan Jambi dengan dompet yang hilang dan kisah picisan. Kaltim, Kepri dan Jambi segitiga rahasia yang tak pernah mengisyaratkan, Papua dan Jambi bertepuk sebelah ruang, Lampung dan Jakarta yang bertemu kembali untuk berkencan kecil di Ibukota, hingga perasaan mendalam antara Lampung dan Bandung yang cukup panjang usianya tentang perasaan yang hidup dan menyala di sela hujan musim yang lalu.

Ternyata sekali lagi, pertemuan bukan hanya tentang apa yang tumbuh juga tentang apa yang jatuh.

Baca Juga  Bank Lampung Gandeng Kejaksaan Tinggi Lampung Beri Edukasi Terkait Tindak Pidana Perbankan

“…Ilmu pengetahuan telah memberi restu yang luar biasa..” ujar Pram, sedikit menerjemahkan tentang keingintahuan dan kehausan memperoleh teman dan ilmu pengetahuan. Keingintahuan dan kehausan itulah yang mempertemukan bagian potongan mozaik hidup kita kedepan dan pada suatu saat menjadi catatan penting bagi asa, bagi segenap angan yang terkristalisasi sebagai perjalanan waktu pada akhirnya.

365 hari lalu sampai detik demi detiknya hingga hari ini telah memperlihatkan suatu yang tumbuh dan jatuh bagian dari proses pendewasaan pada diri masing-masing, ada yang sudah mengabdi sebagai abdi negara, melanjutkan karir sebagai Panwas Kecamatan, ada yang kehilangan ibu, ada yang sudah menikah menunaikan ibadah terpanjang dalam hidupnya, bahkan saudara kita Abdul Manap dari Jambi telah lebih dahulu menutup episode hidupnya di dunia.

Tapi hidup soal niscaya untuk terus berjalan, tidak ada pilihan lain kata penyair Minangkabau Taufiq Ismail, kita harus berjalan terus, tentang siapa dan untuk apa, tentang jarak yang menghubungkan dua kenyataan, memberi pesan penting bahwa walau raga tak saling bersambung namun hati hendaknya terus terhubung. Karena menyadur Presiden Jancukers, sungguh hidup adalah soal tali-temali rasa, bagi siapapun yang perasaannya masih bekerja.

Pada setiap momen yang telah terlewati, kita patut memberikan apresiasi sebagai bentuk rasa terimakasih kepada Bawaslu RI dan seluruh panitia yang sudah lelah mengurusi anak-anak sekolah yang agak bandel, kepada seluruh peserta sekolah kader pengawas partisipatif, kepada satpam Highland yang telah sudi meminjamkan motornya untuk keluar dan makan malam berdua, kepada Kanda Iskardo P. Panggar Ketua Bawaslu Lampung hari ini yang telah memberi izin nama kami sebagai nama penumpang penerbangan tanda keberangkatan dan keterwakilan yang tentu dibantu senior pengayom Kanda Oddy Marsha, juga seluruh delegasi dari Lampung, terimakasih semua telah memberi warna tersendiri di Kaki Gunung Salak itu.

“..Barang kali hidup adalah do’a yang panjang..” – Sapardi, semoga perasaan saling terhubung dan kita semua diberi panjang umur. “De Javu” kenangan yang mendalam karena program SKPP lahir ketika Cak Masykur sedang tersenyum. Longevity.

 

Happy Anniversary 1st SKPP Tingkat Lanjut 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan