INDONESIA DI SIMALAKAMA GEOPOLITIK: MENGHADAPI TANTANGAN DUKUNGAN DI TENGAH BAYANGAN PERANG DUNIA III

Oleh: Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH

Perang bukan lagi soal siapa menang dan siapa kalah, tapi tentang siapa yang tersisa untuk menghitung kerugian. Dunia hari ini berada di tepi jurang paling berbahaya sejak Perang Dunia II berakhir. Serangan Amerika Serikat terhadap Iran, yang dituding sebagai bentuk kolusi terang-terangan dengan Israel, telah membuka babak baru dalam konflik global. Ini bukan lagi sekadar konflik regional di Timur Tengah—ini adalah isyarat resmi dimulainya Perang Dunia III.

Indonesia kini berada dalam posisi sulit. Sebuah buah simalakama. Bila kita mendukung blok Barat—AS dan sekutunya—maka kita menutup mata terhadap genosida yang sedang terjadi di Palestina dan agresi militer terhadap Iran. Bila kita mendukung blok Timur—yang digawangi Iran, Rusia, China, dan Korea Utara—kita berisiko menjadi target serangan atau sanksi ekonomi dari kekuatan besar Barat. Lalu, harus ke mana arah dukungan Indonesia? Inilah saatnya Presiden RI, Jenderal Prabowo Subianto, mengambil langkah strategis yang tidak hanya berbasis politik pragmatis, namun juga nilai keadilan dan prinsip hukum internasional.

Apa yang dilakukan Amerika dan Israel hari ini adalah pembangkangan terhadap nilai-nilai dasar kemanusiaan. Mereka memanfaatkan posisi sebagai pemegang kekuasaan di Dewan Keamanan PBB untuk melegalkan kejahatan perang dan merusak norma-norma internasional. Dunia dibiarkan menonton pembantaian di Palestina; dan ketika Iran mencoba membela diri, ia langsung diseret dalam pusaran perang global.

Baca Juga  MERAWAT NALAR SEJUK DI TENGAH ARUS KEBENCIAN

Haruskah Indonesia diam? Atau bahkan ikut serta dalam permainan para adidaya yang hanya ingin mempertahankan dominasi dan kekuasaan global? Saya katakan: jangan gegabah. Presiden RI harus berhitung ekstra hati-hati. Jangan sampai keputusan hari ini justru membawa kita dalam arus perang yang menghancurkan masa depan bangsa.

Kita tidak boleh lupa sejarah. Indonesia pernah menjadi korban kolonialisme panjang. Jangan biarkan kita kembali menjadi pion dalam papan catur kekuasaan global. Kita bukan bangsa pengecut, tapi kita juga bukan bangsa yang bisa diadu domba.

Bayangkan jika skenario yang terjadi di Iran menimpa Indonesia. Pasukan sekutu menyerang kita dari selatan, menggunakan dalih membela sekutunya di kawasan. Siapa yang akan melindungi kita? Apakah kita sudah siap? Maka saya menyerukan SIAGA SATU untuk seluruh elemen bangsa—TNI, Polri, pemerintah, dan rakyat Indonesia.

Kita tidak boleh lengah. Ini bukan lagi soal politik luar negeri pasif. Ini soal kelangsungan hidup sebuah bangsa. Kita harus bersatu, bersiap, dan berdoa. Dalam situasi seperti ini, istikharah adalah langkah bijak, agar keputusan yang kita ambil bukan sekadar rasional, tapi juga spiritual.

Baca Juga  PMII dan Tantangan Zaman: Menata Ulang Arah Kaderisasi dalam Pusaran Perubahan

Tantangan di depan sangat besar. Dunia akan terbagi menjadi dua blok besar. Tahun 2025 hingga 2028 akan menjadi babak seleksi brutal tentang siapa yang layak menjadi pemimpin dunia selanjutnya. Apakah blok Barat yang dipimpin Amerika dan Israel? Atau blok Timur yang mengusung perlawanan terhadap dominasi sepihak?

Di tengah kabut perang ini, satu hal yang pasti: hukum internasional telah kehilangan kekuatannya. Piagam PBB hanyalah dokumen tanpa makna. Yang berlaku kini adalah hukum rimba. Siapa kuat, dia berkuasa.

Maka, kepada Presiden RI dan seluruh rakyat Indonesia: mari bersiap, bukan untuk berperang, tapi untuk mempertahankan prinsip. Dunia akan berubah. Jangan sampai Indonesia terlambat menempatkan dirinya dalam sejarah baru peradaban dunia.

Narasumber:
Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH – Pakar hukum dan politik internasional, ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Komite Mantan Preman Indonesia Istighfar, dan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Ass Saqwa Plus, Jakarta.

Pos terkait